BCA, Mengutamakan Pertumbuhan Berkualitas dan Jangka Panjang | SWA.co.id

BCA, Mengutamakan Pertumbuhan Berkualitas dan Jangka Panjang

Hera F. Haryn, Executive Vice President Secretariat & Corporate Communication BCA.
Hera F. Haryn, Executive Vice President Secretariat & Corporate Communication BCA. 

Tak bisa dimungkiri adanya pandemi Covid-19 menjadi tantangan tersendiri bagi industri perbankan, termasuk bagi PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Bagi BCA, dalam masa-masa seperti ini sangat penting untuk menjalin komunikasi yang baik dengan stakeholders, termasuk investor/analis, tentang bagaimana bank ini melakukan bisnis, kinerja yang telah dicapai, tantangan yang dihadapi, dan langkah-langkah yang ditempuhnya. Pengelola bank ini juga menghargai pandangan dan mencari masukan dari stakeholders tentang BCA sehingga dapat digunakan untuk terus berkembang.

BCA mengutamakan pertumbuhan yang berkualitas dan jangka panjang (sustainable quality growth). Untuk itu, diperlukan kerjasama yang baik di bank ini, kemampuan membaca tren/peluang di pasar, dan meluncurkan produk-produk di saat yang tepat yang lebih maju daripada pesaing (ahead of competitors).

Menjadi kreatif dan proaktif serta terbuka untuk pemikiran baru, juga sangat penting di zaman yang cepat berubah saat ini. Sebab, apa yang dicapai BCA saat ini tak terlepas dari dukungan regulator dan loyalitas nasabah. “Kami melihat bagaimana investor institusi dan ritel menghargai kinerja kami dan kami sangat berterima kasih karenanya,” ujar Hera F. Haryn, Executive Vice President Secretariat & Corporate Communication BCA. 

Menurut Hera, sejak awal pandemi, BCA telah mengambil beberapa langkah penting agar tetap dapat memberikan layanan yang optimal bagi nasabah, baik dari sisi transaksi perbankan maupun kredit. Dari sisi transaksi perbankan, tahun lalu BCA meluncurkan kampanye #bankingfromhome, QRIS, dan payment link untuk memastikan nasabah tetap nyaman bertransaksi di tengah pembatasan mobilitas.

Hingga sekarang, BCA juga terus melakukan berbagai inisiatif sesuai dengan kebutuhan nasabah yang terus berubah, terutama dengan tren digitalisasi yang terjadi saat ini. BCA pun meningkatkan limit transaksi melalui internet dan mobile platform. Perlahan, nasabah pun sudah terbiasa melakukan transaksi melalui digital platform BCA. Saat ini, 99% nasabah melakukan transaksi melalui digital, dan nilai transaksi melalui digital sudah melebihi nilai transaksi di cabang.

Kemampuan untuk membaca kebutuhan nasabah dan menjadi agile sangat penting untuk mempertahankan loyalitas nasabah serta mendapatkan nasabah baru. Dengan basis nasabah yang besar, BCA terus memperluas ekosistem melalui partnership dengan pemain fintech/e-commerce, sehingga bisnis utamanya, yaitu penghimpunan dana murah (CASA), terus tumbuh dengan solid hingga sekarang. Dengan memiliki dana CASA yang tinggi, BCA memiliki keuntungan dalam memilih debitur berkualitas sehingga kualitas asetnya tetap terjaga di tengah pandemi.

Sejak awal pandemi, BCA juga membantu debitur melalui beragam skema restrukturisasi kredit sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Hal ini sangat penting agar debitur dapat melewati masa sulit mereka sehingga loyalitas pun terjaga. “Kami sangat bahagia jika dapat menjadi bagian dari perjalanan debitur dalam melewati masa-masa sulit mereka, sehingga mereka dapat menjalankan bisnisnya dengan normal kembali,” kata Hera.

Lalu, strategi bisnis seperti apa yang dijalankan BCA untuk meningkatkan kinerja perusahaan, sehingga investor makin percaya untuk berinvestasi di saham bank ini? Sejak awal berdiri 64 tahun lalu, filosofi bisnis bank ini sederhana, yaitu bagaimana BCA bisa sebaik mungkin melayani kebutuhan nasabah yang terus berubah dalam bertransaksi. Oleh karenanya, diperlukan skill yang baik untuk membaca kebutuhan transaksi perbankan serta menawarkan solusi yang tepat bagi tiap segmen nasabah yang memiliki karakteristik berbeda-beda.

“Pelayanan transaksi perbankan kami tidak dapat dilepaskan dari BCA digital journey yang dimulai sekitar tahun 1987, berawal dari penyediaan mesin ATM, yang diikuti bank-bank lain,” ungkap Hera.

Dari ATM, lalu berkembang ke EDC machine, internet banking, mobile banking, pelopor penggunaan Application Programming Interface (API), hingga sekarang marak layanan beragam digital service sejak pandemi melanda, yang bukan terjadi di perbankan saja tetapi di banyak sektor kunci lainnya juga. Pandemi di sisi lain membawa kesempatan bagi BCA untuk berevolusi lebih cepat secara digital, bekerjasama dengan berbagai platform/e-commerce/fintech yang akhirnya memperluas ekosistemnya yang menjadi kunci sukses di era percepatan digital saat ini.

Strategi untuk terus mengembangkan ekosistem sangat penting bagi BCA. Melalui layanan transaction banking di berbagai ekosistem, BCA mendapatkan akses dana murah (CASA) yang lebih luas dan dana tersebut akan terus berada di dalam ekosistem BCA juga, serta tidak terlalu sensitif terhadap perubahan bunga deposito. Dengan berkembangnya ekosistem, jumlah nasabah dan jumlah transaksi akan bertambah, sehingga dana murah pun bertambah.

Sebagai contoh, fasilitas pembukaan rekening online melalui BCAmobile diluncurkan pada April 2019, jauh sebelum pandemi. Saat ini, online account opening berkontribusi sekitar 56% dari penambahan jumlah rekening tahunan, dengan rata-rata 8 ribu daily online account opening, jauh di atas angka sebelum pandemi, yaitu sekitar 4 ribu. Volume transaksi melalui mobile dan internet banking naik 51% secara tahunan. Jumlah nasabah BCA naik 45% sejak tiga tahun lalu.

Dengan dana murah yang besar, BCA memiliki keunggulan untuk memilih nasabah berkualitas tinggi dalam menyalurkan kredit dengan suku bunga yang kompetitif. Nasabah yang berkualitas juga memiliki risiko gagal bayar/NPL lebih rendah. Pada akhirnya, kombinasi dana murah dan nasabah berkualitas sangat berperan penting bagi sustainability laba bersih BCA. Sustainability menjadi faktor penting bagi long term investors untuk memilih investasinya.

Tantangan yang kini dihadapi BCA dalam meningkatkan kinerja perusahaan maupun kinerja sahamnya yaitu kondisi makroekonomi yang terdampak oleh kasus Covid-19 yang belakangan meningkat. Hal ini akan menyebabkan menurunnya aktivitas bisnis dan daya beli masyarakat sehingga berpotensi meningkatkan risiko kredit.

“Di BCA, sebenarnya kami sudah melihat tren pertumbuhan kredit yang lebih baik jika dibandingkan tahun lalu. Beberapa sektor sudah mencatat pemulihan, terutama yang terkait dengan commodity/ infrastruktur. Namun, masih ada sektor lain yang membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama, yaitu hotel, pariwisata, tekstil, dan konstruksi,” katanya.

Tantangan lainnya, persaingan di area digital yang juga akan meningkat. Namun, BCA melihat hal ini sebagai kesempatan untuk terus meningkatkan kualitas layanan nasabah. Keunggulan kompetitifnya terletak pada jumlah nasabah yang terus tumbuh dan upayanya dalam memperkaya customer experience pada ekosistem yang terus berkembang.

Mengenai terobosan bisnis atau aksi korporat BCA yang berdampak signifikan terhadap kinerja sahamnya di pasar modal, saat ini terobosan digital berperan sangat penting dalam mempertahankan competitive edge-nya. Berikut ini beberapa inisiatifnya. Sebelum pandemi, BCA menawarkan fasilitas online account opening di BCAmobile, yang saat ini menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan nasabah. BCA terus menambah fitur pada BCAmobile, di antaranya fitur Lifestyle dan pengaturan cicilan transaksi.

Beberapa fasilitas lain, yaitu pembayaran melalui QRIS, payment link, peningkatan limit transaksi harian di internet, dan mobile banking. Mei lalu, BCA meluncurkan MyBCA, sebagai langkah awal pengembangan superapps. Platform MyBCA menggunakan Single ID basis yang akan terkoneksi dengan beragam produk internal BCA dan produk eksternal dari kolaborasi dengan pemain fintech/e-commerce.

“Kami juga berkolaborasi dengan platform Blibli.com untuk menawarkan fasilitas pembukaan rekening secara online,” ujar Hera. Selain itu, BCA juga meluncurkan Merchant Apps, untuk kemudahan para merchant BCA dalam memonitor transaksi bisnis mereka. Di sisi lain, di tengah situasi PPKM Darurat yang saat ini sedang berjalan, BCA senantiasa mengoptimalkan digital banking untuk nasabah melalui beragam inovasi.

Di tengah situasi pandemi saat ini, BCA juga memahami kebutuhan nasabah yang harus melakukan work from home (WFH), yang tentu membutuhkan mobilitas yang lebih simpel. Hal ini direspons dengan adanya kenaikan limit transfer harian nasabah yang diharapkan dapat membantu produktivitas nasabah dalam melakukan transaksi perbankan. Selain itu, BCA juga mendukung upaya yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI), yaitu menaikkan batas nominal tarik tunai per hari di ATM dan ATM setor tarik dalam rangka pemberlakuan kebijakan PPKM.

Kemudian, BCA sedang bertransformasi menjadi bank umum yang berbasis digital dalam menjalankan kegiatan usahanya. Sebagai tahap awal, BCA Digital (anak usaha BCA) akan fokus untuk produk dan layanan payment settlement dan penghimpunan dana dari masyarakat. (*)

Dede Suryadi dan Sri Niken Handayani

www.swa.co.id

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)