Chandra Asri Petrochemical, Fokus di Tiga Area

Chandra Asri Petrochemical (Istimewa).
Chandra Asri Petrochemical (Istimewa).

Berbagai faktor ketidakpastian ekonomi global, mulai dari perang dagang Amerika-China, pandemi Covid-19, hingga efek perang Rusia-Ukraina terhadap supply-demand serta volatilitas harga minyak, turut berdampak kepada industri petrokimia secara global. Menghadapi hal itu, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (kode di bursa: TPIA) sebagai produsen petrokimia terbesar di Indonesia mencoba fokus pada upaya-upaya menjaga kelangsungan usaha guna memenuhi permintaan pelanggan.

Suryandi, Human Resources & Corporate Affairs Director PT Chandra Asri Petrochemical Tbk., menjelaskan, perusahaan fokus pada tiga area strategis terkait menjaga kelangsungan tersebut. Yakni, mencetak pertumbuhan eksponensial melalui pembangunan proyek kompleks petrokimia kedua berskala global (CAP2); menjalankan bisnis dan operasional secara berkelanjutan dengan membangun kerangka ESG (Environmental, Social, and Governance) serta memperluas kemitraan; dan melakukan transformasi digital melalui implementasi ERP baru serta melanjutkan perjalanan pabrik digital.

Suryandi, Human Resources & Corporate Affairs Director PT Chandra Asri Petrochemical Tbk.

Hal tersebut, menurut Suryandi, dilakukan dengan diiringi eksekusi strategi yang solid dan memperhatikan nilai tambah kepada pemegang saham jangka panjang serta melindungi kepentingan investor dan kreditur. “Dalam menavigasi keadaan yang penuh tantangan selama beberapa tahun belakangan, perseroan fokus untuk melaksanakan strategi utamanya, meliputi business continuity, operational excellence, dan financial resilience,” katanya.

Sepanjang 2018-2020, TPIA telah melakukan investasi yang mengarah pada ekspansi hilir, yaitu penyelesaian pabrik karet sintetis baru (joint venture dengan Michelin) berkapasitas 120 KTA (kilo ton per annum), peningkatan kapasitas pabrik butadiena dari 100 KTA menjadi 137 KTA, peningkatan kapasitas pabrik naphta cracker menjadi 900 KTA, peningkatan kapasitas pabrik polipropilena dengan debottlenecking menjadi 590 KTA, penyelesaian pabrik polietilena baru berkapasitas 400 KTA yang meningkatkan total kapasitas menjadi 736 KTA, hingga penyelesaian pabrik MTBE dan butene-1 baru berkapasitas masing-masing 128 KTA dan 43 KTA pada 2020.

“Ekspansi hilir ini selain meningkatkan total kapasitas produksi Chandra Asri menjadi lebih dari 4,2 juta ton per tahun, juga tentunya akan membantu kemajuan industri petrokimia negara dan memperbaiki neraca pembayaran Indonesia,” kata Suryandi.

 Selain itu, untuk mendukung efisiensi secara operasional dan finansial, perseroan telah menjalankan merger dengan PT Styrene Monomer Indonesia di 2021 dan PT Petrokimia Butadiene Indonesia di 2020.

Kemudian, di masa pandemi ini, TPIA juga memulai penerapan aplikasi digital untuk proses bisnis. Transformasi digital ini meliputi peningkatan proses SDM sebesar 20% melalui program aplikasi berbasis cloud, peningkatan manajemen pengetahuan secara paralel dengan mengurangi penggunaan kertas melalui peranti lunak ECM (Enterprise Content Management), kemitraan dengan Siemens dan Bentley untuk meluncurkan digital twin pertama di Indonesia guna mempercepat pengambilan keputusan hingga 90%, otomatisasi rantai pasokan gudang dengan pemindai barcode, dan eksekusi transaksi keuangan perdagangan blockchain lintas batas. 

Pada partisipasi di pasar modal, Suryandi mengatakan, pihaknya telah meningkatkan kemampuan penerbitan obligasi rupiah sebesar 400% dan memperpanjang tenor hingga 7-10 tahun. TPIA juga menyelesaikan program obligasi berkelanjutan ketiga senilai Rp 5 triliun dengan dukungan kuat dari investor dan para penjamin emisi. “Hal ini merupakan bukti kuat tingginya kepercayaan investor domestik terhadap kinerja, profil kredit, dan ketahanan finansial perseroan,” ucapnya.

Pada September 2021, TPIA juga berhasil menyelesaikan Penawaran Umum Terbatas III sebesar Rp 15,5 triliun, yang menjadi salah satu rights issue terbesar yang pernah dilakukan di Bursa Efek Indonesia. “Hasil bersih yang diperoleh akan digunakan untuk pengembangan dan pembangunan kompleks petrokimia terintegrasi kedua yang berskala global,” ujarnya.

Sebagai kontribusi mitigasi perubahan iklim, perseroan memulai investasi Enclosed Ground Flare sebesar US$ 14 juta untuk mengurangi kebisingan, radiasi, dan emisi cahaya agar lebih ramah lingkungan. “Kami juga berkolaborasi dengan mitra kelas dunia seperti Ecolab untuk green chemistry, BYD untuk penyediaan forklift, dan Total Solar Energies untuk pembangunan solar energy dalam upaya mengurangi jejak karbon dari kegiatan operasi,” Suryandi menjelaskan.

Selama tiga tahun belakangan, perusahaan dapat membukukan pertumbuhan laba bersih setelah pajak. Masing-masing US$ 23,6 juta, US$ 51,5 juta, dan US$ 152 juta pada 2019, 2020, dan 2021.

Ke depan, pihaknya percaya pasar industri petrokimia masih sangat menarik dan penuh potensi. Seperti diketahui, Indonesia saat ini adalah pengimpor bahan baku plastik. Suryandi menyatakan, TPIA akan terus fokus untuk menyeimbangkan pertumbuhan dan profitabilitas dengan cara yang bijaksana dan disiplin, serta menggunakan modal secara prudent untuk inisiatif dan program yang membawa hasil yang menarik dan berkelanjutan. 

Sejauh ini, investor di bursa mengapresiasi langkah-langkah TPIA. Akhir Desember 2021, sahamnya berada di kisaran Rp 7.250 per lembar, dansementara pada 9 Agustus 2022 sudah di posisi Rp 9.200 per lembar. (*)

Yosa Maulana

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)