The Harvest Group, Suara Konsumen Jadi Panduan Berinovasi

Kehadiran Edison Manalu sebagai CEO PT Mount Scopus Indonesia (The Harvest Group) pada 2019 membawa warna baru di perusahaan bakeri ini dalam melakukan inovasi. Yaitu, dengan mengubah kebiasaan berinovasi yang lama menjadi kebiasaan baru.

Edison Manalu, CEO PT Mount Scopus Indonesia (The Harvest Group).
Edison Manalu, CEO PT Mount Scopus Indonesia (The Harvest Group).

“Ketika itu saya harus benar-benar me-review tim di dalam perusahaan. Bagi saya, tim itu penting karena muaranya di tim itu sendiri. Karena itu, struktur organisasi dan business process dibenahi, serta adanya fasilitas atau infrasruktur seperti sentral produksi. Dulu ada, tetapi tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Kemudian harus ada IT (technology information) untuk mendukung business analysis dan pengembangan digital ke depan,” Edison menceritakan.

Baginya, inovasi bukan datang dari pemikiran perusahaan, melainkan dari konsumen. Sayangnya, yang kerap terjadi, tim inovasi dalam perusahaan melihat seolah-olah “company looks smart”, padahal itu salah. Yang benar adalah bagaimana membuat “customer looks smart”.

Karena itu, Edison pun lantas mengubah mentalitas leaders di lapangan. Ada tiga prinsip yang dia terapkan. Pertama, tegas, dan ini tidak boleh ditawar. Kedua, ketika akan implementasi, harus luwes dalam bertindak. Ketiga, bijak dalam mengambil keputusan.

Dia menerangkan, yang namanya target tidak boleh dinegosiasi. Standard operating procedureb (SOP) tidak boleh ditawar, tetapi dalam implementasinya bisa fleksibel. Contohnya, dalam SOP, kita harus melakukan input data dengan cara tertentu. Kalau fasilitas yang ada belum siap, bukan berarti hal itu tidak dilakukan. “Kita harus cari cara lain agar SOP-nya tetap jalan,” ujarnya.

Tentang bijak, agar tidak terjadi penafsiran yang berbeda di perusahaan, Edison menguncinya dengan tiga prinsip yang semuanya harus dipenuhi, yakni best for customer (customer centric), simple for the team to execute, saving for the company. “Ini penting saya sampaikan karena inovasi berangkat dari sini, yang muaranya ke konsumen,” kata Edison tandas.

Sementara itu, di business process ada yang namanya New Product Development. Awalnya yang menentukan adalah direksi, lalu dilakukan rapat dengan bagian research & development untuk mengeluarkan produk apa saja di bulan berjalan. Jadi, bukan customer centric. Itulah yang diubah Edison, yaitu dengan memperbaiki sistemnya.

“Sekarang kami punya New Product Development Committee yang terdiri dari karyawan di bagian marketing, operasional, cost control, CRM (customer relationship management), QHSE (Quality, Health, Safety, and Environment), dsb. Kami terjemahkan tugas masing-masing,” paparnya.

Misalnya, anggota komite dari bagian pemasaran, Edison mencontohkan, mereka bertugas mengamati tren di lapangan. Secara fisik mereka pergi untuk meriset produk bakeri yang dipajang oleh toko-toko lain yang diminati konsumen. Mereka juga mengamati tren produk roti di media sosial.

Di samping itu, dalam hal pengembangan produk, Harvest juga melakukan focus group discussion. Yakni, dengan mengundang pelanggan yang loyal untuk memberikan umpan balik terhadap produk baru yang akan dipasarkan.

Pages: 1 2 3

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)