Great Giant Pineapple, Mengekspor Produk ke Lebih dari 60 Negara

Jane Fransisca, Direktur Pengelola FA & Pengembangan Bisnis GGP
Jane Fransisca, Direktur Pengelola FA & Pengembangan Bisnis PT Great Giant Pineapple (GGP)

PT Great Giant Pineapple (GGP) yang didirikan pada 1979 merupakan perusahaan pengalengan nanas terbesar ketiga di dunia. Pabrik pengolahan nanas modern dengan kapasitas pengolahan sampai 750 ribu metrik ton per tahun ini memiliki keunggulan, yaitu pabriknya terintegrasi langsung dengan perkebunan dan produksi kalengnya. Dengan demikian, nanas dapat segera diproses setelah dipanen untuk mempertahankan kandungan nutrisi dan kesegaran buahnya.

GGP juga mengadopsi teknologi terkini untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas di setiap proses, seperti precision agriculture (penggunaan drone, Internet of Things) dan e-grower (petani mitra). Ini menarik, sebab perusahaan ini juga memiliki keterlacakan (traceability) yang baik karena seluruh proses (penanaman, harvesting, processing) dikelola secara terintegrasi.

Menurut Jane Fransisca, Direktur Pengelola FA & Pengembangan Bisnis GGP, di dunia, dari lima kaleng nanas yang ditemukan, satu kaleng pasti dari Indonesia. ”Jadi, kami itu kalau di-ranking, yang integrated dari plantation hingga ke pabrik, kami nomor satu di dunia. Kami memiliki plantation sendiri di lokasi yang sama. Kalau bicara keseluruhan, GGP itu nomor tiga di dunia,” Jane menjelaskan.

Lahan perkebunan GGP berlokasi di Lampung, Sumatera. Lahan yang dimiliki seluas 32 ribu hektare, tetapi lahan yang digunakan sebesar 20 ribu ha. Dari 20 ribu ha itu, 13 ribu ha digunakan untuk tanaman nanas dan sisanya untuk tanaman lainnya, seperti pisang dan jambu biji kristal.

GGP punya beberapa anak perusahaan, antara lain Great Giant Livestock (GGL), pengelola peternakan sapi yang makanannya berasal dari sisa-sisa kulit nanas. Selain itu, ada juga Sewu Segar Nusantara, yang mendistribusikan buah segar dengan merek Sunpride, dan Sewu Segar Primatama yang memproduksi jus merek Rejuve.

GGP menerapkan integrated farming system. Ekosistemnya berawal dari tanaman di perkebunan, lalu dipanen sehingga ada produknya yang didistribusikan ke dalam dan luar negeri (ekspor). Nah, dari proses pengolahan produk, ada sisa yang bisa menjadi makanan sapi, yaitu kulit nanas, dan dari kotoran sapi dihasilkan biogas yang bisa dimanfaatkan di perkebunannya. “Jadi, ini yang kami namakan integrated farming system sehingga zero waste with sustainability process,” kata Jane.

Dengan demikian, seluruh hasil panen dimanfaatkan secara maksimal. “Kami merupakan world’s largest integrated and zero waste processed pineapple producer,” ungkapnya menegaskan. Di dunia ada dua perusahaan yang sejenis GGP, yaitu Dole dan Del Monte. “Kedua perusahaan tersebut memiliki bisnis yang serupa dengan kami, namun kami memiliki competive advantage berupa integrated farming model yang tidak dimiliki oleh kompetitor tersebut,” katanya.

Sekarang, produk GGP sudah diekspor ke lebih dari 60 negara. “Shipment kami lebih dari 13 ribu FCL/kontainer per tahun. Target kami ke depannya, 17 ribu FCL di 2023,” kata Jane. GGP tidak hanya menghasilkan devisa bagi Indonesia, tetapi juga memberikan dampak positif secara sosial bagi lingkungan sekitar.

Misalnya, perusahaan ini melibatkan petani yang digandeng semakin mitra. Konsepnya, petani yang mempunyai lahan dan GPP yang menyediakan bibit, menyediakan teknologi, mengajarkan standar budidaya tanaman, dan membuat packging house. GPP membeli produk petani lewat koperasi. “Jadi, kami gandeng petani. Sekarang ada 200 ha dan sampai akhir tahun ini 300 ha. Ini semua tanah petani. Semua tanamannya pisang dan sudah diekspor ke China dan Singapura,” ungkap Jane menginformasikan.

Untuk menjaga kualitas produknya, GGP terus melakukan R&D dan inovasi “Continuous development merupakan semangat GGP untuk terus berinovasi guna menghasilkan jenis tanaman yang berkualitas dan memberikan yield terbaik. Jadi, fungsi R&D itu sangat penting untuk men-support produktivitas,” katanya menegaskan.

Dalam upaya meningkatkan kompentensi SDM, ada yang dilakukan dengan cara in house dan ada juga yang bekerjasama dengan berbagai universitas, seperti Universitas Lampung dan Institut Pertanian Bogor. Terkadang menggandeng profesor dari luar negeri. Menjaga buah agar tetap segar sampai ke tangan pelanggan juga penting. “Jadi, kami sangat memerhatikan supply chain dan time delivery yang cepat, terutama untuk buah agar tetap fresh. Kalau nanas kaleng, kan mudah sekali, karena sudah melalui proses sehingga tahan lama, yaitu dua tahun,” ungkapnya.

Saat ini untuk produk nanas lebih banyak dilakukan secara original equipment manufacturer (OEM) atau untuk private label sebuah merek pelanggannya. “Kalau nanas kaleng, rata-rata private label karena kami hanya punya label sendiri bermerek Duta. Jadi, dari awal memang kami untukprivate label,” kata Jane. Saat ini GGP memproduksi 630 ribu ton nanas kaleng per tahun dan tahun ini targetnya 650 ribu ton.

Lalu, antara produk kaleng dan fresh, mana yang memberikan kontribusi terbesar? Produk nanas kaleng masih memberikan kontribusi sebesar 60%. Namun ke depan, di 2023 diperkirakan akan terjadi shifting 50:50 untuk produk kaleng dan fresh. “Jadi, yang fresh akan naik karena kami melihat potensinya terus naik,” ungkapnya. Itu sebabnya, pihaknya terus berekspansi ke daerah-daerah untuk menambah lahan dan bekerjasama dengan petani untuk produk fresh. Hal ini untuk menjaga kualitas produk dengan terus menanam buah itu dekat dengan konsumen.

Ke depan, GGP akan terus berinovasi untuk menghadirkan produk yang berkualitas, termasuk dapat menghadirkan buah lokal --pisang mas, melon, pepaya, pisang raja buluh, dsb.-- dengan kualitas baik. Peluang ke depan, consumer food akan tetap tumbuh. “Mau secanggih apa pun teknologi, yang namanya food pasti semuanya butuh,” ujar Jane.

Pertumbuhan consumer food ini tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di tingkat global. Terlebih, pasar internasional masih sangat besar potensinya. Jepang, misalnya, mengimpor 70 juta boks pisang per tahun. Sementara produksi pisang di Indonesia baru 7 juta boks: 2 juta boks diekspor dan 5 juta boks untuk pasar dalam negeri. Adapun Filipina mampu memproduksi 200 juta boks lebih per tahun. (*)

Dede Suryadi dan Sri Niken Handayani

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)