Andhy Irawan Kristyanto, Membawa Perusahaan Melaju di Tengah Badai

Andhy Irawan, CEO Dafam Hotel Management.
Andhy Irawan Kristyanto, CEO Dafam Hotel Management.

Bisnis operator hotel yang sangat terdampak pandemi Covid-19 tak membuat Andhy Irawan Kristyanto ciut nyali dalam menakhodai Grup Dafam Hotel Management (DHM). Sebagai pemimpin puncak perusahaan, ia mampu memimpin anak buahnya dengan tenang dan konsisten, dengan visi pertumbuhan dan ekspansi bisnisnya, sembari membenahi dan mentransformasi kekuatan tim internalnya.

“Awal 2022 ini baru saja buka hotel baru di Jakarta, Hotel Dafam Enkadeli Thamrin Jakarta, dan Maret 2022 kami juga akan buka hotel bintang 4+, Grand Dafam Signature International Airport Yogyakarta,” kata Andhy Irawan, CEO Dafam Hotel Management, dengan optimistis.

Menduduki posisi CEO Dafam Hotel Management sejak 2018, Andhy jelas layak menjadi salah satu Best CEO tahun ini. Ia meraih special award karena sukses dalam “Pioneering in Local Chain Hotel Business”.

Andhy pun bukan sekadar CEO biasa karena ia juga sekaligus sebagai founder perusahaan. Ia mendirikan DHM dari nol pada 7 Juli 2010 setelah diajak oleh Billy Dahlan ⸺putra pengusaha Semarang, Soleh Dahlan⸺ untuk bersama membangun hotel. Waktu itu ia mendirikan hotel hanya berdua dengan Billy. Pihaknya merintis dari nol karena harus melakukan sourcing perlengkapan hotel sendiri door-to-door hingga luar negeri, mencari bahan-bahan sendiri. Bahkan, Andhy dan Billy biasa makan bersama di tepi jalan berdua.

Awalnya, dari sisi permodalan, dalam membangun DHM juga hanya dari modal pendiri. Dengan kegigihan semua tim, pemegang saham, dan karyawan yang dipimpin Andhy sebagai CEO, tak disangka DHM berkembang pesat hingga 24 hotelnya kini sudah hadir di sejumlah kota besar dan kota menengah di Indonesia.

Investor pun kemudian berdatangan untuk membangun hotel dan minta dikelola DHM. Semua itu tak lepas dari tangan dingin Andhy yang ikut merintis dan memimpin operasional DHM.

Gaya leadership pria kelahiran Jember, Jawa Timur, ini cenderung partisipatif dan banyak mendengarkan masukan anak buahnya. Maklum, kariernya dimulai dari bawah, sehingga ia sangat mengerti pentingnya mendengarkan masukan anak buah, baik untuk kepentingan pengembangan bisnis perusahaan maupun untuk kesejahteraan karyawan.

Andhy memulai karier perhotelannya sebagai karyawan di Sheraton Lagoon Nusa Beach, Bali. Selanjutnya, ia pernah bekerja di Hilton International Surabaya, Hotel Equator Surabaya, Novotel Yogyakarta, Hotel Ciputra Semarang, Arion Swiss-Belhotel Bandung, dan Hotel Santika Premiere Semarang.

Betapapun, kini tugas Andhy sebagai CEO jelas tidak ringan. Industri wisata yang gonjang-ganjing terkena terpaan badai Covid, persaingan bisnis yang makin ketat, serta disrupsi teknologi yang menuntut perubahan gaya manajemen hotel menjadi tantangan penting yang mesti ia hadapi. “Konsep bisnis harus berubah berdasarkan situasi sekarang. Juga, SDM harus di-upgrade skill dan knowledge-nya serta kita harus kreatif dan inovatif,” katanya.

Sebagai CEO, Andhy juga menerapkan empat peran utama kepemimpinan CEO, yakni dalam aspek inspire trust, create vision, execute strategy, dan coach potential. “Dalam memimpin perusahaan, saya selalu menganut Trilogi dari Ki Hajar Dewantara. Yakni, ing ngarso sung tulodo (di depan menjadi teladan), ing madyo mangun karso (di tengah membangkitkan semangat), dan tut wuri handayani (di belakang mendorong),” Andhy menjelaskan falsafah kepemimpinan yang ia anut.

Ia sangat yakin dengan filosofi itu dan berusaha menerapkannya dalam perannya sebagai CEO. “Alhamdullillah, perusahaan yang saya pimpin bisa melalui masa-masa sulit dan tentunya survive, dan semua karyawan sangat memahami apa yang saya deliver ke mereka,” katanya.

Dalam memimpin dan day-to-day operation, Andhy berusaha mengedepankan konsep kepemimpinan yang adaptif, kolaboratif, terbuka, serta menerapkan komunikasi dua arah. “Saya sangat yakini dan jalankan konsep itu hingga memberikan dampak ke semua karyawan selama masa pandemi. Kami tetap bisa stabil, bekerja bersama untuk mencapai satu tujuan bersama,” ia menandaskan.

Dalam menghadapi tantangan bisnis hotel yang makin challenging belakangan ini, Andhy menetapkan strategi fokus pada produk dan layanan sesuai dengan target dan bujet yang sudah dibuat. Ia juga memberikan pelatihan untuk SDM supaya lebih aware dengan kondisi sekarang.

Tak lupa, ia mentransformasi teknologi agar bisa mampu memfasilitasi strategi re-setting produk guna peningkatan pendapatan dan efisiensi biaya. Sebelumnya, konsep layanan berdasarkan pelayanan reservasi di front office. “Sekarang, di hotel kami melakukan dengan kios machine waktu check in. Di operasional F&B, pesan makanan juga bisa langsung di platform Hai Dafam,” katanya.

Sejauh ini timnya sudah siap dengan arus perubahan itu dan SDM terus dikembangkan agar semakin adaptif dengan situasi bisnis baru. “Kesiapan dari sisi model bisnis dan teknologi sudah ada dalam pemikiran saya dua tahun belakangan. Namun, Covid ini memberikan insight kepada saya untuk mempercepat program,” ungkapnya. Ia ingin timnya lebih siap berkompetisi, bukan hanya agar bisa berjalan baik di operasional tetapi juga mendapatkan profit yang maksimal.

Andhy yakin iklim bisnis di 2022 akan lebih meyakinkan dibandingkan 2021. Tahun lalu, sejumlah proyek ditunda karena Covid-19, tetapi sekarang investor perhotelan mulai melanjutkan pembangunan hotelnya kembali.

Seperti disebutkan di atas, pada awal Januari 2022, DHM membuka hotel baru, yakni Hotel Dafam Enkadeli Thamrin Jakarta. Dan, pada Maret 2022, akan membuka lagi hotelnya di Yogyakarta, Grand Dafam Signature International Airport Yogyakarta. “Di kuartal I, setidaknya dua hotel yang akan opening dan di kuartal II akan opening lagi di Purwokerto," ujar Andhy.

Ia dan timnya menargetkan tahun 2022 ini DHM bisa mengoperasikan 35 hotel di Indonesia. Sebuah target yang cukup optimistis karena tahun 2021 DHM sudah mengoperasikan 23 hotel. “Kami targetkan akan ada penambahan 12 hotel di tahun 2022 atau tumbuh minimal 25%,” katanya menegaskan.

Salah satu agendanya sebagai CEO yaitu mendorong tim semakin banyak berkolaborasi. Belum lama ini, DHM menggandeng Grup Artotel untuk memperkuat permodalan. DHM mengeluarkan saham baru (right issue) yang kemudian dibeli oleh Artotel. Dengan kolaborasi ini, diharapkan grupnya menjadi the biggest hospitality industry di Indonesia. Kita tunggu saja sentuhan tangan dingin Andhy pada fase berikutnya! (*)

Sudarmadi/Darandono

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)