Anggara Hans Prawira, Presdir Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart): “Ambil Keputusan Berdasarkan Data”

Presdir Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart) Anggara Hans Prawira
Presdir Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart), Anggara Hans Prawira

Sudah 19 tahun Anggara Hans Prawira mengabdi di PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk., perusahaan pengelola jaringan ritel minimarket Alfamart. Ia dikenal sebagai sosok penting dalam perkembangan bisnis Alfamart di luar keluarga Djoko Susanto, sang pendiri sekaligus pemilik minimarket yang telah merajalela di berbagai daerah ini. Mantan konsultan Prasetio Utomo & Co. ini melabuhkan kariernya di Alfamart setelah diminta langsung oleh Djoko untuk bergabung dan membantu memajukan bisnis minimarket-nya.

Hans, demikian ia biasa disapa, resmi bergabung pada April 2001 dengan posisi sebagai direktur keuangan (CFO), ketika toko ritel ini masih bernama Alfa Minimart dan jumlah gerainya baru 43 unit.

Kolaborasi Hans bersama Feny Djoko Susanto (putri Djoko) sebagai presiden direktur boleh dibilang telah membawa perusahaan berlari kencang dengan jumlah gerai yang terus bertambah. Pada 2009, Sumber Alfaria Trijaya menjadi perusahaan terbuka lewat penawaran saham perdana (IPO). Seiring dengan berkembangnya bisnis, karier Hans pun ikut meningkat, karena adanya dorongan untuk menguasai berbagai bidang selain keuangan.

Menurut Hans, hal terpenting dalam menjalankan bisnis minimarket adalah sejak awal harus punya mimpi besar dengan skala ekonomi hingga puluhan ribu toko. Dengan demikian, ketika masih dalam tahap rintisan pun sudah harus disiapkan langkah-langkah ke depan.

Untuk bisa berlari kencang kami juga harus menyiapkan fondasi, yaitu dengan membangun sistem yang nantinya bisa cepat direplikasi,” kata Hans. Tidak hanya dari segi operasional, tetapi juga human capital. “Keterlibatan saya di bidang lain juga cukup banyak, apalagi waktu itu timnya masih kecil,” ujar peraih gelar master di IPMI Business School dan Monash University Australia ini.

Setahun setelah IPO, Hans diangkat menjadi deputi direktur pengelola. Lalu, pada 2012 ia dipromosikan sebagai direktur pengelola. Puncaknya pada tahun 2014 ketika ia akhirnya dipercaya menduduki posisi presdir.

Bisnis ritel, menurut Hans, adalah bisnis detail. “Maka, kunci utamanya adalah totalitas untuk terjun langsung agar tahu kondisi detail di toko dan frontliner,” ujarnya. Selain itu, bisnis ini tergolong labor intensive sehingga faktor leadership sangat penting agar arah strategi perusahaan bisa sampai level terbawah.

Berdasarkan pengalamannya memimpin bisnis ritel, ia merasakan bahwa saat ini karakteristik konsumen telah berubah. Ketika awal merintis Alfamart, kunci sukses dalam berekspansi adalah standardisasi. Namun, kini ada tantangan baru, yakni profil konsumen yang tidak sama di tiap daerah, sehingga bisnis menjadi semakin kompleks dengan banyak variabel.

Saat ini terdapat kurang-lebih 14.300 gerai Alfamart. “Kami pada dasarnya adalah community store sehingga masing-masing toko harus unik, personalized, dan customized agar relevan. Namuh, di sisi lain tetap harus dalam kontrol. Ini adalah tantangan yang harus kami hadapi,” katanya.

Dalam rangka itulah, sejak 2016 Hans telah memimpin agenda transformasi bisnis Alfamart. Paradigma standardisasi diubah ke arah customization, bahkan personalization. Ini dimungkinkan dengan pemanfaatan teknologi digital melalui berbagai tool bisnis dan big data. “Saya mendorong tim untuk mengambil keputusan berdasarkan data, sehingga kami lebih yakin bukan hanya berdasarkan justifikasi, pengalaman, kebiasaan, atau asumsi yang terkadang membuat kita salah langkah,” ungkapnya.

Di samping itu, pihaknya pun berupaya memberikan value-added service dengan tidak hanya menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari, melainkan juga menyediakan non-product services atau e-services. Alfamart bertindak sebagai payment point beragam layanan pembayaran.

Di tengah perkembangan di dunia ritel yang begitu menantang, Alfamart menyadari bahwa kalau hanya berdiam diri, tentunya bisnis ini akan terdisrupsi dengan kehadiran teknologi digital yang begitu masif. Maka, Alfamart juga mengembangkan digital business yang terdiri dari enam pilar, yakni Alfa Gift (aplikasi konsumen yang berfungsi sebagai loyalty program), Alfacart (semula marketplace, kini beralih fokus sebagai agregator platform untuk consumer goods yang hadir dengan konsep store-in-store di marketplace lain), Alfamind (toko virtual yang memungkinkan masyarakat menjadi mitra pemilik toko virtual tanpa perlu mengeluarkan modal dan memikirkan stok barang), Alfa Point of Purchase (fasilitas belanja untuk membantu pembelian produk yang tidak dijual di toko Alfamart, seperti produk elektronik, busana, kecantikan, dan kesehatan), Alfa Mikro (membantu mempermudah rekanan mitra binaan dalam mengurusi warung serta toko kelontong di sekitar gerai Alfamart), dan Alfatrex (layanan logistik dan courier services).

Hans mengatakan, keenam pilar bisnis digital tersebut akan terus dikembangkan. Prinsipnya, dengan membaca apa yang menjadi kebutuhan pasar dan apa yang mereka miliki untuk di-leverage dan dioptimalkan.

Dari sisi internal, Alfamart juga menemui tantangan lain, yaitu dalam aspek manajemen SDM. Kini Alfamart merupakan salah satu perusahaan Indonesia dengan jumlah tenaga kerja paling banyak, mencapai sekitar 120 ribu orang, dengan komposisi 94% generasi milenial.

Bicara soal kepemimpinan, Hans mengungkapkan, dalam menjalankan perannya, ia berusaha menempatkan diri di waktu yang tepat. Bisa di depan, di tengah, ataupun di belakang, seperti ajaran Ki Hajar Dewantara.

Sang pemimpin, menurutnya, perlu di depan dalam memberikan arahan. “Suatu strategi tidak akan mungkin berjalan apabila tidak ada komitmen dari pemimpin tertinggi,” ujarnya. Ia mencontohkan, Alfamart telah melakukan inovasi format toko baru, yaitu Alfa-X yang merupakan gerai kekinian dari Alfamart. “Ini adalah exploration stage yang kami semua tidak tahu ujungnya, tetapi harus dijalankan.”

Ketika seorang pemimpin berada di tengah, ia juga telah menjalankan peran penyelaras dan pemberdaya. “Pemimpin yang berada di tengah berarti ia adalah bagian dari tim itu sendiri, sehingga ia mampu mengetahui kondisi di lapangan,” ujarnya.

Dalam hal pemberdayaan, pemimpin harus terus memotivasi tim yang dimulai dengan mendorong mimpinya terlebih dahulu. Semua harus dimulai dengan motivasi. Sekarang, setiap tahun ada kewajiban semua direksi harus turun ke cabang dengan total 32 cabang dan mengunjungi toko terjauh. Tujuannya, untuk berdialog, mendengar, dan memotivasi semua karyawan Alfamart.

Sementara untuk fungsi panutan, bisa dilihat dari budaya kerja 2I3K yang dimiliki Alfamart, yaitu Integritas, Inovasi, Kualitas dan produktivitas, Kerjasama tim, dan Kepuasan pelanggan. “Ini tidak akan ada artinya apabila pimpinan tertinggi tidak menjalankannya,” ujar Hans tandas. Tidak hanya pemimpin di kantor pusat, tetapi juga pemimpin di kantor cabang yang menjadi figur utama dalam keseharian karyawan bekerja.

Bagaimana hasil terobosan Alfamart? Dari kinerja keuangan, pada 2018 pendapatan bersihnya mencapai Rp 66,82 triliun, atau naik 8,72% dari tahun 2017 yang sebesar Rp 61,46 triliun. Adapun laba bersihnya Rp 650,13 miliar, meningkat tinggi dari tahun 2017 yang sebesar Rp 300,27 miliar.

Namun, kami menganut Balance Scorecard approach, sehingga tidak hanya melihat pertumbuhan dari sisi finansial, melainkan juga kepuasan pelanggan, perbaikan proses bisnis, serta learning & growth yang juga membaik,” ungkap Hans.

Ke depan, ia optimistis perusahaan yang dipimpinnya masih akan terus tumbuh dengan baik. Syaratnya, mampu mendorong peningkatan produktivitas SDM, ruangan, dan item. (*)

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)