Kuswiyoto, Dirut Pegadaian: Pacu Inovasi Digital dan Kolaborasi untuk Dongkrak Pendapatan

Kuswiyoto, Dirut Pegadaian.
Kuswiyoto, Dirut Pegadaian.

Resesi ekonomi yang dipicu wabah virus corona tak menggoyahkan pemimpin perusahaan untuk menggulirkan berbagai program guna mendorong kinerja bisnis. Peluang bisnis masih terbuka walau perekonomian di tahun lalu minus 2,07%. Patah satu, tumbuh seribu.

Tahun lalu, para CEO perusahaan melakukan serangkaian langkah adaptif dan terobosan bisnis, seperti yang diimplementasikan Kuswiyoto, Direktur Utama PT Pegadaian (Persero). Ia bersama jajaran direksi dan pegawai Pegadaian berinisiatif meluncurkan berbagai program untuk menyokong laju bisnis perusahaan serta perekonomian masyarakat.

Program tersebut antara lain Gadai Peduli (gadai tanpa bunga) yang dirilis pada Mei 2020, pinjaman senilai Rp 1 juta untuk membantu masyarakat yang tengah mengalami kesulitan keuangan, relaksasi dengan memberikan perpanjangan masa jatuh tempo lelang dari 15 hari menjadi 30 hari, dan relaksasi kredit mikro berupa relaksasi pembebasan denda keterlambatan angsuran serta restrukturisasi pinjaman.

Pada fase awal wabah Covid-19, Maret 2020, Kuswiyoto memprioritaskan kesehatan dan keselamatan karyawan. Sebab, 92% karyawan Pegadaian berinteraksi langsung dengan masyarakat di masapra pandemi.

“Di awal pandemi, Pegadaian langsung mengambil langkah adaptif, yakni menutup sebagian outlet yang masuk dalam zona merah dan menerapkan protokol kesehatan yang ketat di seluruh outlet. Saya menekankan kepada karyawan untuk senantiasa menjaga kesehatan dan keselamatan,” katanya.

Di tahap itu, ia menyetujui kebijakan untuk memberikan fasilitas kepada seluruh pegawai, di antaranya vitamin, vaksin flu, masker, hand sanitizer, rapid test, tes anti gen, tes swab, serta kebijakan bekerja di rumah (work from home/WFH). Langkah ini diyakini akan melindungi pegawai dari paparan virus corona serta berdampak positif terhadap psikologis mereka. Dampaknya, tingkat keterlibatan dan semangat pegawai tetap terjaga sehingga memacu produktivitas seiring digulirkannya rangkaian program tersebut.

Walau pegawainya WFH, Kuswiyoto menginstruksikan karyawan berinovasi dan meningkatkan produktivitas. ”Produktivitas karyawan sama sekali tidak menurun. Justru ada banyak keputusan yang kami tetapkan meskipun dalam kondisi WFH,” ungkapnya.

Contohnya, menyalurkan pembiayaan usaha produktif kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) senilai Rp 300 miliar; bekerjasama dengan Akseleran, perusahaan teknologi finansial peer to peer lending; dan menambah kemitraan di toko dalam jaringan (daring/online), seperti di Shopee yang dirilis pada semester II/2020 untuk layanan transaksi emas. Sebelumnya, Pegadaian menggandeng Tokopedia untuk layanan sejenis ini di tahun 2019.

Kuswiyoto menginisiasi langkah adaptif lainnya untuk menghadapi tantangan bisnis di masa pagebluk, yaitu mengadakan program tarif khusus serta program reward dan top-up pinjaman, menyempurnakan fitur aplikasi Pegadaian Digital, dan menawarkan produk non-gadai yang memberikan kredit berbasis fidusia, yakni aset yang digadaikan nasabah tetap dipegang oleh si nasabah.

Ia tak menampik persaingan di industri pegadaian memang cukup berat. Pandemi ini mempercepat Pegadaian untuk berkonsolidasi, beradaptasi, meningkatkan efisiensi, dan menyempurnakan layanan digital untuk mencapai kinerja keuangan yang positif. Untuk itu, Dirut Pegadaian yang diangkat pada 4 Januari 2019 ini menggenjot penambahan nasabah baru dari kalangan ekonomi menengah-atas.

“Selama ini, target kami adalah menengah-bawah. Kami menambah konsumen dari kalangan menengah-atas karena kami melihat adanya tren bahwa masyarakat menengah-atas banyak yang memiliki aset namun tidak punya likuiditas,” ia menjelaskan.

Pada aspek permodalan, Kuswiyoto memberikan lampu hijau untuk menerbitkan obligasi dan surat utang berbasis syariah (sukuk) senilai Rp 3,25 triliun pada September tahun lalu guna memperkuat struktur modal kerja perusahaan. “Alhamdulillah, Pegadaian dapat mempertahankan cash flow dengan baik yang menerapkan berbagai macam kebijakan dan adaptasi bisnis,” kata mantan Direktur PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. ini.

Per September 2020 Pegadaian telah melayani 15,65 juta nasabah, naik 28,83% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pegadaian membukukan pendapatan usaha di kuartal III/2020 senilai Rp 16,11 triliun, atau tumbuh 27,05% dari Rp 12,68 triliun di periode yang sama tahun 2019.

Rinciannya, BUMN ini memperoleh pendapatan sewa modal dan administrasi sebesar Rp 10,73 triliun, terdongkrak 13,6% dari Rp 9,45 triliun, disusul pendapatan dari penjualan emas yang melonjak 69,43%, menjadi Rp 5,17 triliun dari Rp 3,05 triliun, serta pendapatan dari usaha lainnya yang naik menjadi Rp 196,11 miliar atau tumbuh 11,06%. Pada masa pandemi ini, nilai aset Pegadaian naik menjadi Rp 70,88 triliun atau lebih tinggi 8,51% dibandingkan kuartal III/ 2019.

Kuswiyoto mengemukakan, untuk menghadapi masa sulit seperti ini, strateginya adalah rutin memantau dan mengevaluasi pencapaian kinerja (business performance review) serta intensif berkomunikasi, dari sebelumnya rapat bulanan menjadi setiap pekan agar manajemen mengindetifikasi berbagai kekurangan dan kebutuhan yang disampaikan pemimpin kantor wilayah dan deputi area Pegadaian se-Indonesia.

“Usulan perwakilan wilayah yang bersifat membangun akan diimplementasikan secara nasional dengan dukungan policy dari kantor pusat, sehingga mereka semakin termotivasi untuk terus berinovasi dan produktif di tengah wabah pandemi,” kata Kuswiyoto.

Pegadaian menyesuaikan enam strategi bisnis yang mengacu G-STAR+, yaitu Grow Core, Go Further, Grab New, Gen-Z Tech, Groom Talent, serta Good Governance & Culture. Keenam strategi ini akan dijalankan berkesinambungan untuk mencapai visi Pegadaian menjadi The Most Valuable Financial Company di Indonesia dan Agen Inklusi Keuangan Pilihan Utama Masyarakat di tahun 2024.

Menurut Kuswiyoto, pegadaian siap menyongsong target tersebut lantaran sudah mengimplementasikan digitalisasi di hampir seluruh produk Pegadaian. “Apalagi di era new normal ini, masyarakat lebih memilih layanan contactless, dan layanan kami sebagian besar sudah bisa diakses secara online. Salah satunya, melalui aplikasi Pegadaian Digital,” imbuh CEO kelahiran 1965 itu. Digitalisasi ini disokong karyawan milenial yang porsinya 70% dari jumlah total karyawan Pegadaian.

Perihal inovasi digital, Kuswiyoto memacu karyawan muda untuk menerapkan budaya berinovasi pada ajang internal Pegadaian Innovation Award, menggencarkan kolaborasi, dan mengampanyekan budaya kerja berbasis AKHLAK: Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif.

“Yang tidak kalah penting adalah menjaga lingkungan kerja yang saling mendukung. Kami juga menekankan kepada setiap pemimpin untuk dapat menjadi role model bagi jajaran di bawahnya serta menindak tegas berbagai bentuk ketidakdisiplinan, terutama yang terkait dengan integritas,” Kuswiyoto menandaskan.

Integritas dan keteladanan pemimpin diwujudkan Kuswiyoto di berbagai aspek. Yang terbaru, Pegadaian pada Januari 2021 memperoleh label protokol kesehatan berstandar global (SIBV Safe Guard) di 642 cabangnya.

Kuswiyoto menandaskan, Pegadaian selalu berupaya menjadi perusahaan BUMN yang mematuhi protokol kesehatan selama pandemi demi kepentingan karyawan dan nasabah. Selain itu, pemberian label ini juga akan meningkatkan kepercayaan mitra dan seluruh pemangku kepentingan untuk merasa aman dan nyaman selama berada di lingkungan perusahaan.

Menurut Kuswiyoto, Pegadaian melanjutkan budaya inovasi. Misalnya, Kartu Emas, yang berkonsep kartu kredit berbasis jaminan tabungan emas atau titipan emas; Gadai Smart Locker, layanan gadai nirkontak fisik antara nasabah dan karyawan melalui sarana titik lokasi/drop box atau smart locker; Digital Lending, yang menyalurkan kredit produktif dengan sistem fidusia dan jaminan invoice; Gadai on Demand, pengajuan gadai dan pengambilan agunan dengan konsep digital yang bekerjasama dengan Gojek), serta perluasan kanal pelayanan yang menggandeng perusahaan jasa keuangan.

Pada Desember 2020 Pegadaian menjalin sinergi dan kolaborasi dengan 843 lembaga dan institusi seluruh daerah di Indonesia. Bentuk kerjasamanya mulai dari sinergi bisnis, keagenan, hingga edukasi.

“Tahun ini sampai tahun 2022 diperkirakan masih merupakan periode yang sulit. Jadi, kami menjaga bisnis perusahaan tetap survive dan tumbuh berkesinambungan. Kami harus meraih peluang di tengah tantangan yang ada. Ini yang selalu saya tekankan kepada saya dan para karyawan, bahwa di balik musibah pasti ada hikmahnya, kami berpeluang untuk ekspansi,” Kuswiyoto menjelaskan. (*)

Vicky Rachman & Andi Hana Mufidah Elmirasari

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)