Siwi Peni, Sukses Membuat PTPN IV Lebih Ciamik

Siwi Peni, Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV

Setelah diangkat menjadi Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV pada Agustus 2017, Siwi Peni tak perlu berpikir panjang untuk segera melakukan pembenahan. Seperti biasa, tuturnya, kalau mendapatkan jabatan baru dan di tempat yang baru, pasti mengawali langkah dengan melakukan pemetaan (mapping) untuk melihat kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi perusahaan.

Sebenarnya, Peni mengungkapkan, kinerja PTPN IV sejak dulu tergolong bagus, profitable dan solvable, termasuk jika dibandingkan dengan industri sejenis, serta memiliki potensi pengembangan usaha. Namun, setelah dilakukan pemetaan, sebenarnya kinerja PTPN IV dapat jauh lebih hebat. Kinerja produksi pada saat itu bisa dikatakan belum optimal; produktivitas tandan buah segar (TBS) rata-rata sebesar 19,11 ton per hektare.

Maka, satu setengah bulan setelah menjabat sebagai Dirut PTPN IV, tepatnya pada Oktober 2017, Peni dan timnya melakukan investigasi, bekerjasama dengan provider keamanan dari swasta. Dari hasil investigasi tersebut diperoleh data, terdapat pencurian TBS yang sangat besar, yang sifatnya masif, terstruktur, dan terkoordinasi. “Saat itu kami perkirakan kehilangan TBS akibat pencurian sekitar 1,5 ton per ha, atau total 172.642 ton, setara nilainya dengan Rp 209 miliar,” demikian cerita mantan Pemimpin Divisi Risiko Komersial dan Usaha Kecil Bank BNI ini.

Kemudian, ia juga mendapati bahwa sekitar 7.000 ha tanaman terkena penyakit ganoderma. Dampaknya, tegakan pokok sawit sudah tidak standar. Hal ini juga karena tanaman sudah masuk generasi ketiga, sehingga rentan terkena penyakit tersebut. “Hal ketiga adalah infrastruktur jalan, sekitar 30 persen rusak berat, dan ini juga memengaruhi produksi,” katanya. Di samping itu, ditemukan pula beberapa hal lain yang berdampak pada penurunan produktivitas, sehingga diperlukan perbaikan.

Akhirnya, di awal 2018, dengan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan yang baru, dilakukan program perbaikan yang terkait produksi, yaitu pengendalian pencurian, bekerjasama dengan Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara; perbaikan on farm dan off farm, termasuk sarana dan prasarana produksi; penggunaan drone untuk menghitung jumlah tanaman; peningkatan program sosial dengan corporate social responsibility (CSR); penataan tenaga kerja; cost effectiveness atau pelaksanaan cost leadership secara konsisten; pemanfaatan teknologi informasi --contohnya dengan SAP-ERP; penyempurnaan sistem dan prosedur; serta penerapan reward dan punishment secara konsisten.

Menurut Peni, melakukan perubahan pada perusahaan yang telah mapan bukan hal yang mudah. Sebab, hampir semua karyawan menganggap perusahaan sudah bagus. “Awalnya agak sulit meyakinkan pimpinan dan karyawan, bahwa PTPN IV sebenarnya dapat berkinerja lebih hebat lagi, dan itu akan terwujud dengan beberapa perubahan yang harus dilakukan, termasuk perubahan sikap kerja,” ungkapnya. Maka, manajemen PTPN IV membuat program kerja, direksi turun ke kebun, menyampaikan kondisi perusahaan kepada semua level karyawan dari pejabat puncak, asisten kepala (termasuk asisten tanaman yang membawahkan afdeling, ujung tombak perusahaan perkebunan), serta sebagian karyawan pelaksana. “Kami sampaikan kondisi perusahaan dibandingkan dengan industri sejenis, kondisi pasar, prospek, hal-hal yang menjadi kelemahan, dan perubahan yang harus dilakukan bersama-sama,” Peni menuturkan.

Semua direksi sepakat bahwa tidak ada jarak dalam berkomunikasi dengan semua karyawan, baik dari unsur pimpinan maupun karyawan pelaksana, dan tidak ada silo-silo antardirektorat/bagian. “Komunikasi kami bangun dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas tanpa ada batas. Yang membatasi hanya tanggung jawab dan kewenangan. Direksi menjadi role model,” kata Peni. Saat itu, ia mengungkapkan, memang masih ada silo-silo, menganggap bagian atau unitnya lebih penting, atau menganggap kegagalan di bagiannya akibat bagian lain tidak mendukung. “Nah, silo-silo itu kami bongkar,” kata wanita yang pernah menjabat sebagai Direktur Keuangan PTPN III ini.

Selain itu, sebagian besar karyawan sudah puluhan tahun di perkebunan, dan sudah nyaman dengan kondisi yang ada. Ketika diajak untuk berpikir out of the box, keluar dari zona nyaman, cari peluang baru, mereka masih ragu. “Tapi, sebagai pemimpin, saya harus dorong dan yakinkan mereka. Kita harus coba dulu, jangan pesimistis sebelum mulai. Karena berasal dari luar perkebunan, saya bisa melihat permasalahan di sini secara menyeluruh,” katanya.

Ia pun meminta kepala bagian dan tim-nya untuk melakukan benchmark ke perusahaan lain, baik di dalam maupun di luar lingkup industri perkebunan. Dapat juga melakukan benchmark ke perbankan atau perusahaan manufaktur. Mereka juga didorong ikut seminar, terutama yang mengulas tema transformasi bisnis.

Sementara itu, teknologi informasi dipergunakan dan dikembangkan, selain untuk memudahkan database untuk mempercepat pekerjaan, juga untuk mendapatkan data yang akurat. “Hal itu akan mendorong efisiensi,” ujar Peni. Contohnya, dulu dalam menghitung tanaman itu banyak mengandalkan pihak ketiga, atau dengan perkiraan. Sejak semeseter II/2018, telah digunakan drone, selain untuk mendata presisi jumlah tanaman dan melihat kondisi infrastruktur, juga melihat kualitas tanaman. Sehingga, perusahaan dapat menetapkan target secara lebih tepat; pemeliharaan dan perbaikan juga dapat lebih tepat sasaran. “Biaya pemupukan, pemeliharaan, juga akan lebih efisien karena melihat jumlah tegakan tanaman sawit,” tambahnya.

Bagi Peni, prinsipnya dalam bekerja ialah, selain bekerja cerdas, bekerja ikhlas, dan bekerja tuntas, juga bekerja dengan hati dan cinta. “Saya rasa keberhasilan dalam pencapaian kinerja adalah dengan membawa semua orang untuk bersama-sama sukses, dan akan gampang terwujud kalau kita sertakan hati kita dalam bekerja. Kita cintai lingkungan tempat kita bekerja,” ia menegaskan.

Kelebihan wanita dalam memimpin, menurutnya, ialah jiwa mengasuh (nurturing) yang secara alami ada dalam dirinya. Seorang ibu pasti selalu punya kecenderungan ingin anak-anaknya tumbuh lebih hebat, ada jiwa mengajari. “Nah, itu juga saya miliki,” ujar Peni tandas.

Wanita yang mengenyam pendidikan S-1 Fisika FMIPA dan Magister Manajemen Universitas Gajah Mada ini menginginkan semua karyawan dan pimpinan terlibat dalam membangun perusahaan, dan berharap semua sukses, baik dalam karier maupun dalam keluarga. Agar hal itu bisa terwujud, ia juga melakukan sharing kepada semua unsur karyawan, bagaimana menuju kesuksesan. “Ada waktu-waktu tertentu saya pergi ke kebun dan saya kumpulkan dari level pemanen, mandor, asisten, dan pemimpin. Saya memberikan sharing session, berbagi pengalaman dalam mencapai kesuksesan,” kata Peni. Di PTPN IV, ia memimpin sekitar 20 ribu karyawan tetap, 83 persennya merupakan karyawan laki-laki.

Menurutnya, bila semua orang sudah paham dalam mencapai kesuksesan, mereka lebih mudah mengubah sikap kerja karena keinginan sukses setiap orang akan membawa kesuksesan perusahaan. Maka, hal pertama yang disampaikannya kepada karyawan, harus selalu bersyukur karena masih lebih beruntung dibandingkan orang lain. Mereka memiliki pekerjaan yang mapan, sementara ada banyak orang di luar sana itu yang tidak seberuntung mereka. “Kalau kita sudah memiliki rasa bersyukur, otomatis apa yang kita lakukan itu akan enteng. Bersyukur itu kan berarti menempatkan diri kita ini di atas. Pada saat kita menempatkan diri di atas, kita akan lebih gampang dalam memberi karena kita merasa dalam keadaan keberlimpahan. Itu membuat seseorang lebih bahagia,” Peni memaparkan. Suatu perusahaan, kalau semua karyawannya bahagia, akan lebih positif. Sebaliknya, jika yang muncul perasaan ”kurang”, akan membawa aura negatif.

Peni juga menyampaikan, kunci suksesnya ialah mencintai apa yang dikerjakan. “Karena dengan mencintai pekerjaan kita, kita akan bahagia. Kita tidak merasa bekerja, namun kita seperti bermain dan menjalankan hobi kita, sehingga ada passion dalam bekerja,” tuturnya. Tak lupa, ia pun mengingatkan semua jajaran karyawan PTPN IV, bahwa kesuksesan di dunia ini tidak lepas dari bagaimana cara kita berdoa.

Seorang wanita yang menjadi pemimpin, menurutnya, tidak mudah. Sebab, di satu sisi dituntut berhasil dalam keluarga, termasuk dalam mendidik anak, dan di sisi lain juga harus berhasil dalam menjalankan tanggung jawab kepada perusahaan. “Dan, pastinya seorang pemimpin wanita memiliki keluarga yang hebat. Sebab, tanpa dukungan keluarga, anak dan suami, seorang wanita tidak berhasil di puncak karier,” ia menegaskan.

Di tahun 2019, Peni mematok target laba PTPN IV yang sangat menantang: di atas Rp 700 miliar. Sementara target produktivitas minyak kelapa sawit sebesar 5,5 ton per ha. Untuk produktivitas minyak, selama Januari-Maret 2019, capaian minyak per hektare tertinggi selama empat tahun terakhir, yakni naik 25 persen. Dan, capaian minyak sampai Maret 2019 telah tumbuh 8,61 persen dibandingkan Maret 2018. “Capaian rendemen pada Maret 2019 juga sudah di atas target RKAP,” ujar Peni.

Kusnan M. Djawahir dan Arie Liliyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)