Vidjongtius, CEO Kalbe Farma: Kolaborasi Harus Jadi Pilihan

Vidjongtius, Chief Executive Officer (CEO) PT Kalbe Farma Tbk.
Vidjongtius, Chief Executive Officer (CEO) PT Kalbe Farma Tbk.

Bagi sebagian orang, lego boleh jadi sekadar permainan anak-anak belaka. Namun, tidak demikian untuk Vidjongtius, Chief Executive Officer (CEO) PT Kalbe Farma Tbk.

Pria kelahiran Pontianak, 5 Juli 1964, itu menilai jenis permainan berupa bongkah-bongkah plastik kecil ini sangat istimewa. Selain merupakan hobi masa kecil, baginya, lego juga sarat pembelajaran kehidupan. “Sampai sekarang kalau jalan-jalan ke mana pun, saya selalu belanja lego. Kemudian, kami pasang bersama anak-anak,” ungkap Vidjong yang sukses menularkan hobinya itu kepada kedua putranya. “Koleksi lego kami cukup banyak; mulai dari robot kecil-kecil hingga pesawat besar,“ lanjutnya sembari menunjuk salah satu koleksi favoritnya: lego pesawat Star Wars berukuran 1,2 meter.

Di samping hobi bermain lego, Vidjong juga senang menonton film. “Saya penggemar Star Wars, terakhir nonton di Amerika saat liburan,” ujarnya. Ia biasanya menonton bersama keluarga.

Menurut Vidjong yang tahun 2020 ini menjadi tahun ketiganya dalam memimpin Kalbe Farma, baik lego maupun film Star Wars memiliki filosofi mendalam bagi kehidupan sehari-hari, termasuk dalam membangun kepemimpinan. Lego mengajarkan ketelitian dan kesabaran, sedangkan Star Wars mengajarkan bagaimana seseorang harus bertahan dan pantang menyerah. “Untuk mendapatkan bentuk yang diinginkan, diperlukan kerjasama yang baik, ketelitian, kesabaran, dan daya tahan menyusun piece by piece,” katanya tentang filosofi memasang lego dan menonton Star Wars.

Begitu pula dalam organisasi, piece yang dimaksudkan bisa seseorang. Jika semua orang digabungkan menjadi satu, akan menjadi kesatuan yang kuat. Sebaliknya, jika ada satu piece yang hilang, tidak akan menjadi bentuk yang sesuai. “Itulah tugas pemimpin, bagaimana harus bisa merangkai orang agar kompak dan kuat,” ujar Vidjong. “Prinsip dalam menyusun lego sama seperti dalam organisasi, harus tepat satu dengan yang lain, agar terjadi susunan yang klik,” katanya. Demikian ia memaknai filosofi teamwork dari hobinya.

Hal itu dipertegas dalam President Letter tahun 2020. “Kerja yang sukses itu bukan kerja satu orang, tapi kerja satu tim,” demikian pesannya. Artinya, kerjasama tim sangat penting dalam menghadapi tantangan tahun ini, juga di masa depan.

Vidjong percaya, dari dulu hingga sekarang kolaborasi harus didorong, menjadi pilihan. Termasuk, kolaborasi dengan kompetitor sekalipun. Seperti kolaborasi Kalbe Farma dengan Astrazeneca, perusahaan farmasi asing. Meskipun sebagai sesama perusahaan farmasi keduanya saling bersaing, ia melihatnya berbeda. Mereka bisa bekerjasama dalam menghadirkan obat diabetes dan terbukti sukses.

Tahun ini, ia melihat tantangan akan semakin besar, terlebih dengan adanya perang dagang antara Amerika dan Tiongkok yang mengganggu pasokan bahan baku dan nilai mata uang. Maka, solusi yang diambil Kalbe Farma adalah dengan menetapkan beberapa sumber bahan baku pabriknya. “Susu, misalnya, kami ambil dari Selandia Baru, Australia, Belanda. Dengan adanya kebakaran hebat di Australia, tentu berdampak, tapi kami ada pilihan pasokan lain,” ia menjelaskan.

Adapun tantangan dalam negeri terkait dengan peraturan-peraturan baru yang sering berubah. Terutama, dalam hal akan diterapkannya Omnibus Law. “Saya sendiri belum tahu persis isinya apa, mudah-mudahan semua baik untuk pelaku industri. Tapi sesuai pengalaman selama ini, setiap peraturan baru ada baik, ada kurang,” kata Vidjong. Untuk itu, pihaknya telah lama menghimpun informasi dari asosiasi, kementerian terkait, juga banyak pihak, untuk menentukan beberapa skenario, guna mengantisipasinya dengan beberapa rekaan mereka.

Di tengah berbagai tantangan, tentu ada peluang. Ia melihat dengan menelaah yang disampaikan Menteri Kesehatan RI yang baru, Terawan Agus Putranto, bahwa upaya preventif dan promotif harus ditingkatkan. Walau peraturannya belum ada, pihaknya memandang secara strategi bisa menerjemahkan pesan baik ini: bahwa kita jangan hanya memikirkan kuratif, bahwa farmasi bukan obat saja. Preventif dan promotif artinya tentang gizi, nutrisi vitamin, suplemen, dan gaya hidup sehat.

Kami sebenarnya telah lama siapkan ini, beberapa produknya. Ada produk Superba Krill Oil, ini lebih bagus daripada minyak ikan, kami gencarkan. Juga ada vitamin-vitamin untuk anak-anak, agar mereka lebih sehat. Ada juga susu, mulai dari ibu hamil, bayi, hingga susu dewasa. Ada produk Hydro Coco kami yang sangat laku sampai sekarang dengan pertumbuhan double digit, ini cairan yang bagus untuk kesehatan,” Vidjong merinci.

Ia mengakui, di awal ia memimpin tiga tahun lalu, bisnis sedang berat, pertumbuhan bisnis hanya 3%. Namun, tahun lalu pertumbuhan bisnis Kalbe sekitar 7%. Ia pun berharap tahun ini bisa di angka 7-9%. Bisnis nutrisi, menurutnya, cukup baik dengan pertumbuhan 6-7%. Adapun produk farmasi, walau keuntungannya sangat tipis, volume/kebutuhannya besar, pertumbuhannya sangat bagus, bisa 10%. Obat bebas pertumbuhannya 4-5%, dengan kondisi ekonomi yang melambat.

Menurut Vidjong, mendapatkan penghargaan sebagai CEO terbaik sebenarnya bukan tugasnya. Namun, ia menganggap award yang diraihnya ini merupakan apresiasi terhadap kerjasama yang baik dari seluruh awak Kalbe Farma. “Tugas saya adalah bekerja. Saya bersyukur, apa yang dikerjakan ada keselarasan antara manajemen dan tim dengan hasil ini. Tentu, ini membanggakan, semoga bermanfaat bagi tim dan masyarakat lebih luas,” katanya.

Ke depan, Vidjong merasakan tantangannya akan semakin besar. Maka, ia menetapkan Kalbe 4.0 sebagai strategi untuk menyiapkan perusahaan menghadapi perubahan besar di lingkungan bisnis. Sebuah perjalanan besar yang harus dijalankan secara kompak dalam tim. Divisi dan unit di Kalbe harus saling mendukung, terelasi, serta terintegrasi agar terjadi efisiensi dan keselarasan.

Kami set-nya mulai dari 2017 hingga 2022, peta jalan lima tahunan perubahan di Kalbe farma ini,” katanya. Intinya, perubahan ini ada pada cara pandang, bukan sekadar perubahan dari cara lama menjadi cara baru yang lebih advanced, melainkan bagaimana mengantisipasi perubahan di lima tahun ke depan juga.

Kami ingin seluruh awak memahami, jika tidak berubah hari ini, mereka tidak akan bisa mengikuti perubahan di masa depan,” ujar Vidjong. Ia bersyukur sekitar 80% tim Kalbe Farma yang bekerja di pabrik merupakan milenial, rata-rata usia 25-26 tahun. Para milenial ini lebih cepat terekspos perubahan. Sehingga, kalau perusahaan tidak berubah, mereka kurang engaged dan menganggap perusahaan tempat ia bekerja sebagai perusahaan jadul.

Menghindari anggapan itu, kini semua pabrik Kalbe Farma didesain modern, terutama area luarnya, banyak ruang terbuka, kafe, dengan dinding mural, juga ada gym. “Suasana berbeda ini merupakan adopsi para pekerja muda. Dengan ini, anak-anak muda merasa dilibatkan,” Vidjong menjelaskan. Organisasi juga lebih terbuka, ada diskusi, dan aksi sosial bersama ke lingkungan sekitar kantor dan pabrik Kalbe, misalnya mengadakan gerakan Kalbe Mengajar di SD sekitar Kalbe.

Konsep ramah lingkungan pun diterapkan, yaitu dengan memakai energi terbarukan di pabrik Kalbe. Sustainablility business dijalankan pihaknya sebagai bagian dari kepeduliannya pada lingkungan. Salah satu contohnya, di pabriknya yang baru di daerah Delta Mas sudah digunakan panel surya hingga 2 megawatt. “Dari sisi bisnis bagus, ada penghematan dan dampak lingkungan juga bagus,” ungkap Vidjong. (*)

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)