Dian Andyasuri, Memimpin dengan Konsep Servant Leadership

Dian Andyasuri, CEO Shell Indonesia.
Dian Andyasuri, CEO Shell Indonesia.

Mampu menduduki jabatan Presiden Direktur dan Country Chair Shell Indonesia jelas sebuah prestasi yang sangat mentereng dan sangat sulit diraih. Namun, hal itu tak membuat Dian Andyasuri lupa dengan misi leadership yang telah lama ia cita-citakan. Wanita yang diangkat sebagai CEO Shell Indonesia pada 1 Januari 2020 ini memang sangat concern dengan pengembangan SDM di perusahaannya. Hal itu tampak dari program dan perhatian yang ia curahkan selama menjadi CEO Shell Indonesia.

“Filosofi leadership saya adalah konsep servant leadership. Sebagai leader, we are here to serve to help our team achieve their full potential beyond what they think they can,” perempuan Indonesia pertama yang menjabat sebagai Presdir Shell Indonesia ini menjelaskan. Baginya, sebagai CEO, sangat penting untuk tidak hanya mendengarkan, tetapi juga mengobservasi secara langsung.

“Saya menginvestasikan waktu saya untuk mendengarkan tim dan mengobservasi mereka agar mereka selalu tumbuh. Hal tersebut saya lakukan bukan hanya di zaman pandemi ini,” Dian menjelaskan.

Menurutnya, bisnis bukan sekadar urusan profitabilitas, tetapi juga bagaimana agar tim yang menjadi anak buah bisa sukses, mendapatkan promosi terus-menerus, dan menjadi global leader. “Jika tim bagus, sudah pasti bisnis profitable dan sustainable. Saya selalu fokus ke people dan menikmati coaching session dengan mendengarkan challenge mereka, serta membantu mereka menghadapi tantangan pekerjaan,” Dian menjelaskan prinsip kepemimpinannya.

Ya, Dian memimpin Shell Indonesia dengan sejumlah tantangan di depan mata. Tantangan yang paling utama: memastikan keluarga besar Shell Indonesia tetap sehat, bisa bekerja dengan aman dan nyaman di era pandemi Covid-19. Selain itu, juga memastikan bisnis terus bertahan dan berkembang, serta melihat kesempatan untuk meluncurkan bisnis baru. Bagaimanapun, pembatasan sosial berskala besar memengaruhi operasional dan distribusi Shell. “Kami mencari cara agar pabrik tetap beroperasi dengan aman dan karyawan tetap bekerja di rumah dengan baik,” katanya.

Di bawah kepemimpinan Dian, tahun lalu Shell memutuskan untuk memberikan allowance agar tim bekerja lebih nyaman di rumah –bisa untuk membeli meja, kursi, monitor, dll. Selain itu, juga memberikan portable modem untuk karyawan. Hal tersebut dilakukan agar karyawan memiliki jaringan internet yang bagus dan tidak mengalami sakit punggung akibat terus bekerja di rumah.

Karyawan juga didorong untuk belajar menggunakan platform digital agar bisa terhubung dengan distributor dan pelanggan. “Kami belajar untuk berdiri di depan kamera, melakukan live streaming, serta melakukan new way of working lainnya,” katanya.

Dian pun mendorong timnya terus berinovasi, baik skala besar maupun kecil. “Buat saya, inovasi adalah kegiatan yang sama sekali belum pernah kami lakukan,” katanya. Di sisi bisnis, di bawah kepemimpinnya, Shell meluncurkan Shell Lubricant Solution dan EV charging di masa pandemi. Sementara di sisi sustainability lingkungan, Shell fokus pada isu carbon footprint serta membantu konsumen di industri dan ritel untuk tetap beraktivitas sambil menjaga lingkungan.

Sebagai CEO, Dian memang sangat fokus pada isu SDM. Ia, misalnya, sangat concern dalam hal menjaga keselamatan karyawan dan keluarganya, misalnya dengan menberikan cover layanan telemedicine dan vitamin yang sebelumnya tak ada. Lalu, bila ada tim yang perlu beraktivitas di luar, perusahaan memberikan support tes PCR, dll. Di awal pandemi, Shell merelokasi dan mengevakuasi tim di seluruh Indonesia untuk kembali ke daerah asal sampai keadaan lebih aman.

Tugas Dian di Shell Indonesia memang spesial karena Indonesia termasuk negara yang menjadi fokus bisnis Shell. Pasar Indonesia diposisikan sebagai masa depan Shell sehingga sementara di negara lain Shell banyak mengurangi karyawan, di Indonesia tidak demikian. Bisnis Shell di Indonesia makin berkembang, dirinya justru terus melakukan grooming tim agar semakin berkembang.

Sebagai leader, Dian memotivasi dan membantu karyawan untuk terus tumbuh dan menggali potensi mereka. Baru-baru ini Shell memperkenalkan leadership framework yang bernama learner mindset atau pola pikir pembelajar. ”Kita harus belajar secara agresif, mengerti situasi di tengah uncertainty, dan mencari solusi. Kita juga harus berani bereksperimen dengan berbagai solusi, misalnya melalui digital platform, dll.,” katanya.

Sejauh ini, Shell Indonesia bisa beroperasi dengan baik dan mempertahankan bisnis dengan baik. Menurut Dian, hal itu menunjukkan bahwa timnya sudah bisa menanamkan cara kerja baru dengan efektif. (*)

Sudarmadi & Anastasia A.S.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)