Agit Bambang Suswanto, Ingin Jadikan Agitama Top Company di Bidang Lifestyle

Agit Bambang Suswanto, pendiri dan CEO Grup Agitama.
Agit Bambang Suswanto, pendiri dan CEO Grup Agitama.

Acungan jempol layak diarahkan ke Agit Bambang Suswanto, pendiri dan CEO Grup Agitama yang berpusat di Bandung, Jawa Barat. Di usianya yang masih muda, Agit sukses merintis usaha hingga punya 210 karyawan dan omset sebelum krisis Covid-19 bisa menyentuh Rp 26 miliar. Ia membangun dua bidang usaha, yakni sepatu merek Amble yang kuat di pemasaran online dan jaringan kedai resto Mie Merapi.

Agit memulai bisnis dengan menjual sepatu dengan label yang ia buat sendiri, Amble, sejak 2009. “Saat itu saya sedang kuliah semester tiga. Saya mendapatkan beasiswa Rp 1,5 juta dan uang tersebut yang saya jadikan modal untuk membuat sepatu. Akhirnya, saya jadikan 13 sepatu dan berhasil menjualnya di kampus dan jualan online di Kaskus,” katanya mengenang.

Ia memang mencoba banyak cara untuk memperkenalkan Amble ke publik, seperti ikut event offline dan memasarkannya secara online. Ternyata, respons publik di luar dugaan. Sepatu Amble sangat diterima dan akhirnya bisa diproduksi ribuan pasang per bulan hingga sekarang.

Agit bercerita, ia memang diajari untuk bisa mencapai sesuatu dengan usaha sendiri meskipun hasilnya tidak besar. Ia kuliah di univeritas swasta yang biayanya mahal. “Mau tidak mau, saya harus membiayai kuliah sendiri. Bagaimana caranya berpikir strategis serta mengatur kuliah dan bisnis, itulah kenapa saya mulai usaha sepatu saat itu,” ungkapnya. Lulus dengan predikat cumlaude dalam waktu 3,5 tahun, Agit sangat suka mempelajari manajemen sumber daya manusia (SDM), terlebih keluarganya memang tidak ada yang memiliki latar belakang bisnis atau memimpin organisasi.

Pada 2011, ia mulai tertarik masuk ke bisnis kuliner. “Dengan dibantu ibu saya untuk membuat racikan bumbu kuah rempah, akhirnya jadilah bisnis kuliner pertama saya, yaitu Mie Merapi. Waktu itu saya mencoba tes pasar dengan ikut event kuliner, ternyata responsnya sangat bagus sehingga saya memutuskan membuka gerai pertama saya di Unisba (Universitas Islam Bandung),” Agit menuturkan. Kini Mie Merapi punya 13 cabang yang tersebar di Bandung, Cimahi, dan Tangerang.

Sebelum pandemi Covid-19, total omset bisnisnya di dua lini itu sekitar Rp 26 miliar per tahun. Tahun 2020 merupakan tahun yang berat di divisi Mie Merapi karena basisnya restoran, tetapi sampai sekarang masih bisa bertahan dan tidak ada gerai yang tutup. Adapun bisnis Amble tetap stabil karena dari awal basis penjualannya memang online.

Di tahun 2020, Agitama mengeluarkan konsep kafe baru, yakni outdoor forest coffeeshop. Dalam waktu dua bulan sukses mencapai pay back period. “Visi kami ingin menjadi top company di bidang lifestyle melalui fashion dan makanan,” ujar Agit tandas.

Tentang kiat merintis bisnis, ia selalu memisahkan uang pribadi dan uang untuk bisnis (perusahaan). Sejak memulai usaha dengan modal yang kecil, ia selalu menggunakan sistem gaji untuk dirinya sendiri. Meskipun, pada tiga tahun pertama gajinya tidak selalu diambil setiap bulan. “Sistem gaji ini saya terapkan hingga sekarang. Gaji saya menyesuaikan dengan gaji level di bawah saya,” katanya seraya mengungkapkan, ia termasuk orang yang strict dalam memisahkan uang pribadi dan uang perusahaan.

Mie Merapi, misalnya, sampai sekarang tidak memiliki investor, semua pertumbuhannya dilakukan organik dari kas internal. “Sampai sekarang, saya masih invest di bisnis saya dan mengambil gaji sewajarnya. Terpenting, bisa mencukupi kebutuhan saya. Sisanya diinvestasikan lagi. Jika di akhir tahun angka untungnya besar, saya akan ambil untuk invest lagi. Untuk karyawan, beberapa leader diberi saham 3%-7%. Untuk staf, kami memberikan sistem bonus,”Agit menjelaskan cara kerja bisnisnya.

Yang pasti, dalam 10 tahun ini, ia mengaku banyak belajar dari mentor dan kesalahan. Ia punya visi dan selalu men-share-nya ke orang-orang di sekitarnya. “Dari dulu saya selalu memiliki modal kreatif, sehingga saya selalu memotivasi teman-teman di Agitama untuk terus berkreasi dan berinovasi. Selain itu, kami jadikan kerja menjadi sesuatu yang fun. Kami selalu membuat sesuatu yang simpel, tetapi berarti,” kata Agit seraya menyebutkan, pada 2016 Amble mendirikan offline store pertamanya yang diandalkan, selain melalui penjualan online.

Agit punya visi, Mie Merapi bisa memimpin pasar untuk chain restaurant mie kuah rempah dengan standardisasi quick service retail. Ditargetkan, dalam lima tahun ke depan pihaknya memiliki 60-70 gerai Mie Merapi. Untuk mengembangkan bisnis, pihaknya akan terus banyak melakukan kolaborasi dan promosi story telling di media sosial.

Pihaknya mengembangkan sistem e-commerce untuk mengejar pertumbuhan. Saat ini Amble sudah membangun jalur penjualan via online, baik website maupun marketplace, membangun fanbase by member loyalty, serta banyak berpromosi melalui medsos. (*)

Sudarmadi & Anastasia A.S.

www.swa.co.id

# Tag