BPJS Ketenagakerjaan, Menerapkan Casual Leadership

Dari kiri - Tri Candra Kartika, Ibnu Rusdan, Mohamad Irvan,Naufal Mahfudz, M Desto Bagus Wuragil, Tosis Hudiyanto, Satriyo Adi Sasongko.
Tim BPJSTK: Dari kiri - Tri Candra Kartika, Ibnu Rusdan, Mohamad Irvan,Naufal Mahfudz, M Desto Bagus Wuragil, Tosis Hudiyanto, Satriyo Adi Sasongko.

Dalam program pengembangan kepemimpinan, BPJamsostek/BPJS Ketenagakerjaan (BPJSTK). memiliki Human Capital Strategy Journey. Salah satunya, di bidang kepemimpinan, yang berfungsi menciptakan pemimpin yang mampu memotivasi, menginspirasi, mendorong, mendukung, dan memandu entitas BPJamsostek mewujudkan visi dan misinya. Sasarannya adalah menyiapkan pemimpin yang berasal dari dalam untuk memimpin di internal dan eksternal, menyiapkan leader masuk menjadi 50 top leader nasional, dan membangun talent pool.

Desto Bagus, Deputi Direktur Bidang Learning BPJSTK, mengatakan, strategy journey di tahun 2020 ini fokusnya adalah best leadership practice. Adapun sasaran utamanya, menghasilkan high performance leader, menjalankan excellent leadership practice, dan provide leaders for national public institution and corporation.

“Dalam membentuk pemimpin, kami menggunakan tiga pendekatan, yaitu melalui assessment center, kemudian leadership development yang sifatnya untuk menduduki jabatan struktural, yaitu mulai dari basic leadership development program, intermediate leadership development program, advanced leadership development program. Juga ada program pengembangan tambahan, yaitu executive development program, dan talent development,” Desto menjelaskan.

Menurut Satriyo Adi Sasongko, instruktur dalam pengembangan SDM di BPJSTK, ada sejumlah masalah yang teridentifikasi. Namun, yang paling menjadi sorotan adalah leadership blindspot, yakni terjadinya feedback yang minimal dari follower kepada leader, dan para leader terlambat mempersiapkan generasi milenial (saat ini karyawan milenial sebanyak 72%).

Berangkat dari hal itu, sejak 2016 pendekatannya berubah menjadi casual leadership, yakni mengaktifkan personal power, bukan hanya position power. “Yang selalu terus-menerus ditekankan Direktur Umum & SDM kami adalah bahwa leader itu bukan hanya position power (legitimate, coercive, reward, information), tetapi juga harus punya personal power, yaitu meliputi rational persuasion, expert, charisma, referent, komunikasi, dan sebagainya,” ungkap Satriyo.

Selanjutnya, dalam hal estafet kemimpinan, Desto menjelaskan, BPJSTK mencoba mengacu kepada nilai budaya Harmoni dari tujuh nilai budaya yang dimilikiny: Iman, Ekselen, Teladan, Harmoni, Integritas, Kepedulian, Antusias. Mereka juga menggelar sejumlah pelatihan tentang communication across generation untuk pembekalan. “Diharapkan dengan adanya pengetahuan ini, pada sisi milenial sudah siap menerima estafet kepemimpinan, (sementara) pada sisi senior bisa ikhlas untuk memberikannya,” ujarnya.

Terkait kurikulum yang dijalankan untuk kompetensi kepemimpinan, ketiganya (planning & organizing, problem solving & decision making, dan strategic leadership) diterapkan di semua level, baik basic leadership development program, intermediate leadership development program, maupun advanced leadership development program. Penjabaran per program dibagi menjadi tiga kegiatan: pre-program, in-class, dan post-program.

Di level eksekutif, Desto mengatakan, komitmen para pemimpin perusahaan terhadap penguatan human capital juga sangat tinggi. Tecermin dari penetapan karakteristik yang harus dimiliki semua eksekutif, yang disebut sebagai Lima Kualitas Insan BPJamsostek, dan dituangkan dalam peraturan direksi. Kelima kualitas itu adalah kompeten, ahli di area tugasnya; mempunyai motivasi dan etos kerja tinggi; berorientasi pada performa kinerja; memiliki semangat untuk terus belajar; dan mengasah diri.

Kemudian, sejak 2018, BPJSTK sudah menjalankan program-program pembelajaran kombinasi online dan offline secara tematis setiap tahunnya. Tahun 2019, penekanannya pada pemanfaatan seluruh kanal komunikasi. Lalu di tahun 2020, kata Desto, fokus pada tema kepemimpinan di era turbulensi.

Saat ini BPJSTK memiliki total 6.211 karyawan, dengan sebaran generasi karyawan: baby boomer 2%, Gen X 24%, milenial 68%, dan Gen-Z 6%. Desto menekankan bahwa setiap karyawan yang akan naik level harus melewati tahapan, mulai dari basic, intermediate, advanced leadership, hingga executive development program. “Seluruh leader di BPJSTK ini harus lahir dari internal,” katanya.

Desto juga menyampaikan, sampai saat ini, berdasarkan pengukuran leadership dan pengelolaan karier di tahun 2020 oleh konsultan independen, BPJSTK mencatatkan hasil “Dipersepsikan secara positif oleh karyawan”. Dan, tahun 2018, BPJSTK mendapatkan Leadership Award dari Dale Carnegie. (*)

Yosa Maulana

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)