Eva Bachtiar, Tidak Ingin Bergantung pada Donasi

Eva Bachtiar, founder socio-eco-enterprise Garda Pangan.
Eva Bachtiar, founder socio-eco-enterprise Garda Pangan.

Banyak orang yang dalam bekerja dan berkarier lebih fokus mengejar uang alias pendapatan. Hal itu berbeda dengan Eva Bachtiar, mantan profesional di Freeport yang kini mengelola sebuah socio-eco-enterprise bernama Garda Pangan. Dalam bekerja, ia mencari tiga hal sekaligus. “Secara finansial bisa menghidupi, secara sosial kita bisa serve banyak orang, dan secara intelektual pekerjaan itu challenging,” ungkap lulusan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung ini.

Karena itu, setelah lima tahun bekerja di sana, ia meninggalkan kariernya di Freeport, yang gajinya pasti besar, untuk mendirikan Garda Pangan. “Di Garda Pangan ini, jujur saja, saya merasa fulfilled. Menyenangkan,” ungkapnya. Garda Pangan memiliki dua tujuan besar, yaitu mengurangi food waste dan menyetarakan akses pangan kepada warga yang membutuhkan. Startup ini dibangun oleh tiga orang termasuk Eva. Dua partnernya adalah suami-istri yang punya bisnis katering sehingga lebih mengetahui kondisi di lapangan, sedangkan Eva fokus di bisnis dan pekerjaan strategic thinking.

“Garda Pangan memiliki entitas sebagai food bank, kegiatan sosial yang kami lakukan tidak berbayar. Di satu sisi kami juga punya business unit sebagai sumber pendanaan operasional,” Eva menjelaskan.

Sebagai food bank, Garda Pangan “me-rescue” makanan dari potensi makanan. Modelnya, Garda Pangan bekerjasama dengan industri hospitality, seperti restoran, kafe, bakery, dan hotel. Biasanya, mereka punya makanan berlebih (bukan makanan sisa) yang sebenarnya masih layak tetapi dibuang karena memang mereka harus menjaga standar.

Makanan itu di-pickup Garda Pangan tiap hari dan didistribusikan ke warga yang membutuhkan. Food rescue juga dilakukan di acara-acara besar seperti pernikahan, festival, atau konferensi. Intinya, kegiatan apa pun yang menyisakan makanan berlebih. “Kami juga me-rescue makanan ke lahan-lahan petani ketika panen, di mana biasanya petani memiliki surplus hasil panen,” kata Eva.

Dari sisi bisnis murni, Garda Pangan punya bisnis jasa food waste management. “Ini sama persis dengan food rescue, tetapi klien kami adalah perusahaan besar yang memiliki makanan yang sudah mendekati tanggal kedaluwarsa. Sekitar tiga bulan mendekati tanggal kedaluwarsa, produk mereka biasanya ditarik dari distributor dan dimusnahkan. Saya berpikir, daripada dimusnahkan, lebih baik memanggil kami untuk mendistribusikan ke orang-orang yang membutuhkan,” Eva menjelaskan. 

Di luar itu, pihaknya juga menyelenggarakan Food Waste Education & Workshop serta Ugly Produce Business berupa pickup buah dan sayur yang secara visual tidak menarik. Contohnya, keriput, di bawah ukuran standar, dan terlalu matang. Biasanya dari penampilan, orang-orang tidak mau beli, maka di-pickup oleh tim Garda Pangan dan dijual kembali secara langsung. Ada juga yang diolah menjadi cold pressed juice atau chips.

Untuk menggulirkan bisnis sosial ini, Garda Pangan dibantu beberapa karyawan. “Kami lebih banyak melibatkan relawan,” kata Eva. Pihaknya didukung sekitar 30 relawan inti dan 600-700 relawan publik. Pihaknya juga membuat sistem manajemen relawan yang ternyata menarik bagi warga sekitar Surabaya untuk bergabung. Semuanya tersedia di online sehingga relawan yang tertarik bisa langsung mendaftar.

“Bahkan di beberapa situasi, kami charge relawan karena memang potensi minatnya besar. Contohnya, waktu kegiatan cleaning di Jember, para relawan itu bersedia bayar untuk ikutan panen. Surprisingly, sistem ini bisa diterima. Value-nya ada. Apalagi karena ini kegiatan sosial,” Eva mengenang.

Soal sustainability, Eva melihat bahwa value sosial dari Garda Pangan ini besar sehingga banyak orang yang akan mau berdonasi. Namun, bagaimanapun, pihaknya tidak ingin bergantung pada donasi.

Tak mengherankan, pihaknya akan memperkuat porsi dana mandiri dari bisnis --saat ini porsi donasi masih lebih besar. Yang pasti, hingga Desember 2020 (3,5 tahun berjalan), Garda Pangan telah mendistribusikan 155.274 porsi makanan, setara dengan 31 ton potential food waste dan sudah melayani 109 ribu penerima manfaat. Startup ini pun sudah banyak mendapatkan penghargaan dari berbagai lembaga.

Eva berencana melakukan ekspansi ke kota-kota besar karena di sana terdapat  potensi food bank yang besar dan situasi kemiskinan terlihat nyata. “Kami tidak mau terburu-buru. Fokus dulu mengembangkan best practice di Surabaya,” ia menegaskan.

Menurutnya, tantangan Garda Pangan ialah meningkatkan kemampuan pickup pangan secara cepat. “Di luar negeri, orang-orangnya lebih banyak mengonsumsi makanan kaleng sehingga challenge dari food bank di sana lebih pada bagaimana memperbesar storage. Tetapi di Indonesia, orang-orang lebih banyak mengonsumsi makanan basah sehingga challenge kami pada kecepatan pickup makanan, ” kata Eva. (*)

Sudarmadi & Andi Hana Mufidah Elmirasari

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)