Muhammad Syafri Rozi,  Bank BRI: Siapkan Great Leader untuk Gerakkan Visi-Misi dan Kultur Perusahaan

Muhammad Syafri Rozi,  EVP HC Development Bank BRI (tengah).
Muhammad Syafri Rozi,  EVP HC Development Bank BRI (tengah).

Tantangan dunia perbankan di era VUCA dan industri 4.0 memang sangat besar. Muhammad Syafri Rozi, Executive Vice President HC Development Bank BRI,  mengatakan bahwa hal itu selain karena dorongan melakukan transformasi digital, juga kegiatan perbankan sekarang telah berubah. Kini, nasabah semakin jarang menggunakan kantor bank. Mereka ramai-ramai pindah bertransaksi melalui gadget. “Perubahan kebiasaan dan perilaku konsumen serta percepatan teknologi yang luar biasa membuat lanskap bisnis perbankan pun turut berubah,” kata Syafri.

Seiring dengan laju industri perbankan yang semakin pesat, dibutuhkan para pemimpin yang hebat. Bank BRI menyadari, kehadiran leader akan menentukan pengendaliannya. “Yaitu, leader yang bisa men-drive bisnis ke depan. Leader yang bisa menggerakkan visi dan misi perusahaan serta membentuk kultur perusahaan,” Syafri menandaskan.

Untuk itulah, demi mewujudkan Visi 2022 Bank BRI “Home to The Best Talent”, pada awal Januari 2020 Bank BRI membentuk sebuah program terkait pengembangan great leader yang berkelanjutan dan komprehensif, yang memberikan penekanan pada penguatan karakter, wawasan kebangsaan, wawasan global, wawasan bisnis/perbankan, serta wawasan teknologi, yang bernama BRILiaN Leader Development Program. “BLDP merupakan program mandatory yang wajib diikuti top talent yang akan dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi dengan lebih menekankan pada kompetensi kepemimpinan,” kata Syafri.

Program ini diikuti para talenta leader terbaik, yang diseleksi sejak rekrutmen. Ada empat tahap yang dijalankan, yakni attraction, identification, selection, dan development succession.

“Tahap pertama, proses rekrutmen kami lakukan menggunakan multisource dan multichannel,” ungkap Syafri. Talenta dijaring melalui beasiswa, internship, dan penyelenggaraan kontes kreativitas. Dijaring pula talenta dari luar yang berprestasi dari tingkat regional hingga nasional secara reguler.

Tahap berikutnya, identification; yaitu mengidentifikasi talenta berdasarkan aspirasi kariernya. “Mereka menyampaikan aspirasi jabatan dengan scoring yang mereka peroleh. Setelah itu, kami menetapkan pengelompokannya: prelimenary talent cluster, prelimenary talent pool, dan prelimenary list of succsesor candidate,” Syafri menjelaskan. Upaya ini didukung talent committee yang bertugas menetapkan ketiga kelompok itu.

Dalam penetapan prelimenary talent cluster, ada pengelompokan pekerja yang dinilai berdasarkan performa, dari rata-rata selama tiga tahun berdasarkan Key Performance Indicators (KPI), dan kapasitas pekerja yang dilihat melalui potential assessment yang dinilai oleh assessment center. “Kami menetapkan klaster untuk para top talent dan akan ditempatkan di BRIlian Society,” kata Syafri .

Dari sana, mereka akan dikembangkan dan menjadi kandidat yang akan berkiprah di Kementerian BUMN dan nasional. Mereka memiliki privilege dan cuti yang berbeda dengan karyawan lainnya. Selain itu, mereka juga memiliki program yang harus dikuti berdasarkan konteks korporasi dan BRIlian Development Plan. “Di dalam sistem tersebut, kami mengakomodasi pekerja sehingga mereka bisa memberikan aspirasi ingin menjadi apa, sehingga antara perusahaan dan pekerja memiliki titik temu,” ungkap Syafri.

Intinya, Syafri menjelaskan, pengembangan talenta di Bank BRI didasarkan pada value perusahaan dan value BUMN yang menitikberatkan pada tiga hal utama: leadership competency, profesional competency, dan technical competency. Ketiganya dibangun secara bersamaan dengan soft competency dan hard competency yang meliputi sertifikasi nasional ataupun international.

Tujuan program BLDP antara lain menyampaikan materi berupa soft skills yang ditentukan berdasarkan gap kompetensi terbesar (hasil assessment center); membekali pekerja untuk naik ke corporate title yang lebih tinggi (khusus untuk BOD - 1, dipersiapkan menjadi Direksi BUMN atau PA dengan materi directorship & comissionership); serta mengakomodasi kebijakan BUMN untuk memberikan national values dan character building

Di samping itu, Bank BRI pun mengembangkan digital framework dengan menanamkan digital mindset secara global. Hal tersebut dilakukan untuk menjamin bank ini tetap mempertahankan program digital pemerintah guna pemberdayaan masyarakat yang lebih luas.

Proporsi pengajaran yang diberikan adalah 10% pendidikan formal, 20% melalui coaching dan mentoring, dan 70% melalui job dan assignment. “Kami memiliki platform untuk mengembangkan pekerja bernama BRIlliance atau integrated talent management system, di mana mereka bisa memasukkan data dan mendapatkan scoring dari pekerjaan mereka,” kata Syafri.

BRIsmart yang merupakan platfrom corporate university BRI digabungkan dengan studi BRIlliance untuk mengembangkan soft competency dan hard competency pekerja. “Selama Covid-19 masih bercokol, kami tetap menjalankan proses pendidikan dengan menyesuaikan diri. Kami memastikan pengembangan leader bisa dijalankan dengan baik,” Safri menegaskan.

Dalam hal itu, visi perusahaan menjadi ujung tombak. “Kami selalu menekankan kultur perusahaan dan BUMN, bahwa yang memastikan arah ke depan adalah leader. Secara umum para leader memiliki kesenjangan dengan sekelilingmya,” katanya.

Sayfri berharap, BLDP berkelanjutan dan terus menginspirasi. (*)

Dyah Hasto Palupi/Anastasia A.S.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)