Eva Musyrifah, Sun Life Financial Indonesia: Mendorong HR yang Data Driven dan Usung Fleksibilitas

Eva Musyrifah, Learning & Development, Engagement & Comm Manager PT Sun Life Financial Indonesia
Eva Musyrifah, Learning & Development, Engagement & Comm Manager PT Sun Life Financial Indonesia

Bisnis asuransi termasuk industri yang turnover karyawannya cukup tinggi. Orang sangat biasa berpindah perusahaan. Kenyataan itu menjadi tantangan bagi Eva Musyrifah untuk mengatasinya, terutama terkait bidang tugasnya, pengelolaan HR di Sun Life. Sebab itu, dengan posisinya sekarang, Eva tertarik memotori perusahaannya untuk mengembangkan fungsi HR yang lebih mendukung personalization and flexibility, pengukuran employee experience (EX) yang akurat dan real-time, serta pengembangan keputusan HR yang data driven.

Lulusan S-2 Bahasa Inggis Universitas HAMKA tahun 2013 ini menjelaskan, upaya personalization dan flexibility dibangun di semua tahap life cycle setiap karyawan di perusahaannya. Mulai dari saat pertama kali seorang karyawan kenal perusahaan hingga saat melakukan farewel. Ini dilakukan mulai dari tahap wawancara, proses pelatihan, dan melakukan performance review.

Contohnya, soal performance review, menurut Eva, "Kebanyakan organisasi dalam melakukan performance review sangat rigid, dalam arti harus diawali dengan goals, lalu di tengah ada mid-year performance, dan terakhir year-end review performance. Waktunya pun sangat rigid. " Bagi Eva, hal itu seharusnya dibuat lebih fleksibel.

Ia menjelaskan, goal setting tidak harus ditaruh di awal tahun dan tidak harus banyak, tetapi harus measureable dan achievable. "Employee bisa me-manage goals-nya sendiri," ujarnya. Menurutnya, performance review bisa dilakukan fleksibel tak harus di akhir tahun atau awal tahun karena beberapa riset menunjukkan pola yang lebih baik ialah yang model review secara reguler.

Selain itu, yang juga menjadi perhatian Eva, bagaimana mengembangkan experience (EX) yang baik bagi semua karyawan tentang perusahaan. "Kami adakan engagement survey untuk bisa mendapatkan feedback dari employee. Kami gali dan ukur EX tersebut. Kami buat EX Dashboard sehingga KPI yang kami punya itu sudah baik atau belum, apakah kami sudah ada di good zone atau red zone, ini bisa membantu atasan to get the attention," paparnya. Experience karyawan yang bagus ini penting untuk membangun corporate branding di pasar tenaga kerja.

Yang terakhir, Eva juga mendorong data driven dalam pengambilan keputusan oleh tim HR. Menurutnya, hal ini penting. Dan ke depan, orang HR harus punya data driven skill. "HR tidak hanya soal memantau people, tetapi juga harus bisa menjadi people advisor sehingga nantinya bisa memberikan advise ke unit bisnis berdasarkan data," katanya.

Ia akui, di bidang data ini umumnya perusahaan asuransi masih kalah jauh dibandingkan perusahaan bidang teknologi. "Tapi, kami harus bisa beradaptasi dengan situasi sekarang, terutama dengan dunia digital," kata Eva menegaskan. (*)

Sudarmadi & Anastasia A.S.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)