Mona Lusia Manihuruk, PT Prodia Widyahusada Tbk.: Dorong SDM Produktif, Kompeten, dan Happy

Mona Lusia Manihuruk, Learning Operation & Quality Management Section Head PT Prodia Widyahusada Tbk.
Mona Lusia Manihuruk, Learning Operation & Quality Management Section Head PT Prodia Widyahusada Tbk.

Sebagai Kepala Seksi Operasi Pembelajaran dan Manajemen Kualitas Prodia, Mona Lusia Manihuruk menyadari tantangan yang dihadapi Human Resources (HR) Prodia. Sebesar 75% dari total 4.000 karyawan perusahaan laboratorium terbesar di Indonesia dengan penguasaan pasar 38,8% ini adalah wanita. Mayoritas dari mereka sudah bekerja dalam jangka panjang: 60% bekerja di atas 10 tahun dan 17% di atas 20 tahun. Selain itu, SDM Prodia pun tergolong sumber daya langka. Sebanyak 70% pekerja memiliki latar belakang farmasi.

“Jadi, tugas saya mendorong perkembangan karier karyawan perempuan yang pada umumnya lebih sulit berkembang karena alasan sebagai ibu rumah tangga yang terikat dengan tanggung jawab sebagai ibu dan istri,” ungkap Mona.

Justru karena itu, Mona bersemangat terus melakukan perbaikan di bidang human capital. Dengan persentase komposisi 70% karyawan milenial, dimungkinkan untuk mentransformasi HR mengikuti perkembangan organisasi.

“Kami dituntut terus bertransformasi secara bertahap dan berjangka panjang demi mewujudkan misi Prodia, yaitu For Better Diagnosis dan For Him or Her, Who Join Prodia (Untuk Diagnosis Lebih Baik dan Untuk si Dia, yang Bergabung dengan Prodia), serta visi menjadi Center of Excellence dan Layanan Kesehatan Terpercaya Menunjang Pengobatan Generasi Baru.,” kata Mona.

Menurutnya, ada dua aspek dalam hubungan human capital dengan bisnis. Pertama, aspek bisnis bahwa human capital harus memahami tren sosial, tren teknologi, tren ekonomi dan politik, tren lingkungan, serta demografi. Dan kedua, human capital harus memahami siapa yang menjadi stakeholder-nya: investor, customer, community, line manager, dan employee.

Jadi, people yang kompeten, produktif, dan happy adalah target yang akan dicapai Prodia. Untuk mewujudkannya, pihaknya menerapkan MCS, Management Control System. “Artinya, sistem berkelanjutan yang dapat digunakan untuk membuat, mengevaluasi, me-monitoring pembagian tugas, dan mengukur suatu proses kerja dalam organisasi,” Mona menjalaskan.

MCS memiliki empat prinsip, yaitu Forcast (target yang ingin dicapai), Plan (bagaimana melakukannya untuk mencapai target tersebut), Control (bagaimana mengontrol agar sesuai dengan track menuju target), dan Report (hasil output yang sudah direncanakan apakah sesuai dengan target).

Dalam kaitannya dengan peran HR dan bisnis, ketika perusahaan membutuhkan peningkatan pendapatan, kontribusi SDM melalui keterlibatan langsung dalam proyek (sebagai gugus tugas, SEM) akan membantu menciptakan cara-cara baru dalam bekerja di tim penjualan. Misalnya, menjadi pelaksana proyek dari awal hingga akhir proyek, membuat kebijakan untuk pedoman kerja mereka, memastikan bahwa kebijakan bekerja melalui pengukuran personal indicator (PI), dan mengembangkan materi pembelajaran untuk tenaga penjualan Prodia. “Pendeknya, semua langkah ini berhasil meningkatkan kunjungan pelanggan, dari 0,6% menjadi 3,6%,” ujar Mona.

Untuk meningkatkan account receivable, HR berkontribusi dalam efisiensi operasi melalui pembelajaran sistematis dan metode pelacakan disiplin untuk meningkatkan produktivitas dalam Tim Keuangan Prodia. Juga melalui Program Optimalisasi Sistem Pemantauan Kehadiran (ACS), upaya meningkatkan keterampilan dasar yang diperlukan, mengelola ukuran tenaga kerja yang ideal, serta melalui analisis dan tindakan berdasarkan rasio keuangan & beban kerja.

Menurut Mona, terkait pengembangan talenta, Prodia mengelola talenta dengan cara “duduk lalu didik“. Hingga per tahun ini, setidaknya Prodia sudah menjalankan program “didik dan duduk“, terkait upaya akselerasi talenta. Prodia pun memaksimalkan data yang diperoleh dari employee opinion survey, untuk pengembangan karyawan.

Hal itu dilakukan karena sulitnya mencari orang, termasuk yang untuk dipromosikan. “Makanya, pada 2019 kami mulai mencetak leader-leader, melalui program satu tahun talenta akselerasi,” kata Mona. Mereka yang bisa mengikuti program ini adalah para bintang di 9 box. Mereka akan mendapat training in class selama setahun, dirotasi job-nya, menjalankan project selama tiga bulan, lalu mereka akan acting tiga bulan, kemudian dilihat apakah lulus atau tidak. “Rencananya akan diterapkan pada semester I tahun ini, tapi mundur karena adanya pandemi ini,” ungkapnya.

“Saya sangat percaya bahwa program leadership sangat penting, karena saya merasakan banyak didukung atasan saya sampai di sini. Hal yang sama juga saya lakukan ke tim HR dengan banyak berbagi yang saya dapatkan,” kata Mona tandas. Yang penting, tambahnya, harus punya waktu untuk diri sendiri agar kita tahu kapan waktu terus bergerak dan kapan berhenti. (*)

Dyah Hasto Palupi/Herning Banirestu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)