Haryati Lawidjaja, Membawa LinkAja Melejit di Saat Pandemi

Haryati Lawidjaja, CEO PT Fintek Karya Nusantara (Finarya), pemegang merek LinkAja.

LinkAja belum satu tahun beroperasi ketika muncul pandemi Covid-19 di Indonesia pada Maret 2020. “Kami baru beroperasi pada 30 Juni 2019 dan sedang fokus untuk membangun fondasi saat pandemi muncul. Beberapa sektor, seperti SPBU dan transportasi, terdampak akibat adanya physical distancing dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Bahkan, pembayaran melalui LinkAja di sektor transportasi mengalami penurunan transaksi hingga mencapai 80%,” kata Haryati Lawidjaja, CEO PT Fintek Karya Nusantara (Finarya), pemegang merek LinkAja.

Wanita yang akrab dipanggil Fey ini dipercaya untuk menduduki kursi nomor satu di LinkAja pada April 2020. Tentu saja, dia menghadapi tugas yang tidak ringan. Sebab, sebagaimana kita tahu, pandemi corona tidak hanya menimbulkan masalah besar di bidang kesehatan, tetapi juga merontokkan dunia bisnis di Tanah Air. Namun, dia punya prinsip, di dalam kesulitan tidak melulu muncul dampak negatifnya. “Justru tantangan tersebut membuat kami berpikir lebih keras dan kreatif. Fokus kami di masa pandemi adalah consumer centric,” Fey mengungkapkan.

Sebagai contoh, LinkAja membantu pedagang pasar tradisional dan ibu-ibu rumah tangga yang kesulitan berbelanja karena pasar tutup dengan melakukan digitalisasi pasar bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Dengan demikian, orang bisa berbelanja melalui aplikasi LinkAja. Mereka bisa mencari pasar terdekat dan berbelanja. Kemudian, belanjaannya diantarkan ke rumah dan melakukan pembayaran melalui QRIS.

Betul, lanjut Fey, saat pandemi sektor pariwisata dan transportasi menurun, tetapi sektor lain, seperti pasar tradisional dan merchant online, mengalami kenaikan. Bahkan, perusahaan penyedia platform digital payment ini bisa menutup buku tahun 2020 dengan kenaikan revenue mencapai 250% dibandingkan tahun sebelumnya. “Challenge tidak selalu negatif, pandemi menyebabkan percepatan adopsi digital. Masyarakat dipaksa untuk mencoba transaksi digital. Bisa dibilang, pandemi mengakselerasi adopsi dan literasi digital,” dia menegaskan.

Adapun terobosan yang dilakukan LinkAja di masa pandemi, menurut Fey, pertama, LinkAja menjadi uang elektronik yang memiliki ekosistem transportasi paling lengkap, tidak hanya transportasi yang dimiliki BUMN, tetapi juga swasta. Masyarakat bisa membayar Gojek, Grab, dan Blue Bird menggunakan LinkAja. Tidak hanya transportasi nasional, tetapi juga lokal.

Kedua, meluncurkan LinkAja Syariah pada April 2020. “Kami merupakan satu-satunya uang elektronik yang memiliki ekosistem paling lengkap untuk uang elektronik syariah di Indonesia dan Asia Tenggara,” ujarnya bangga.

Kemudian, ketiga, LinkAja menyalurkan kredit ultramikro, bekerjasama dengan Bank Mandiri, juga dengan PT Permodalan Nasional Madani dan Pegadaian. Dan, keempat, mendapatkan series B fund rising di tengah keadaan ekonomi Indonesia dan dunia yang challenging.

“Kami mendapatkan pendanaan dari Gojek dan Grab, tidak hanya dari pendanaan tapi juga akses ekosistem. Sehingga, user LinkAja bisa melakukan pembayaran di dua platform tersebut. Harapannya, kami bisa melakukan akselerasi inklusi keuangan dan ekonomi di Indonesia dengan lebih baik lagi,” kata Fey.

Mantan Executive Vice President, Head of Marketing, Digital Banking PT Bank BTPN ini menjelaskan, di masa pandemi, ada tiga hal yang menjadi prioritas dalam kepemimpinannya di LinkAja. Pertama, employee. Menurutnya, perusahaan bisa berhasil jika memiliki tim yang tepat, dan employee menjadi prioritas di masa pandemi.

Kedua, konsumen, yakni mencari apa yang dibutuhkan konsumen. Setelah itu, berpikir kreatif untuk memberikan solusi terhadap kebutuhan mereka. “Dalam memberikan solusi tersebut, kami melakukan inovasi,” wanita yang pernah menjadi konsultan di Arthur Andersen & Co. ini menambahkan.

Dan, ketiga, shareholder; manajemen LinkAja harus bertanggungjawab, bukan hanya untuk performa hari ini, tetapi juga membuat fondasi yang kuat untuk bisnis ke depan.

Untuk membangun trust karyawan, menurut Fey, seorang leader harus menjalankan apa yang diomongkan. Lalu, ada transparansi, di mana semua orang berhak tahu informasi, manis ataupun pahit. Hanya saja, bukan untuk disikapi dengan pesimisme, tetapi dengan optimisme. “Kami harus melihatnya sebagai tantangan yang harus dilalui bersama,” dia menegaskan.

Selanjutnya, inklusi dalam mengambil keputusan dan eksekusi, dengan mengajak tim untuk berpartisipasi dan berkontribusi memberikan solusi. Sebagai contoh, menghadapi situasi bisnis yang tidak menentu yang membuat banyak perusahaan melakukan pengurangan karyawan, Fey memahami bahwa karyawan LinkAja juga khawatir bahwa hal itu bisa terjadi pada diri mereka, meskipun mereka tidak mengungkapkannya.

Karena itu, ia menegaskan komitmen perusahaan dan menjamin tidak akan ada pemutusan hubungan kerja (PHK). Sosialisasi mengenai hal ini dilakukan dengan mengajak head group untuk meyakinkan karyawan agar tetap tenang dan memberitahukan bahwa mereka aman selama mereka mengerjakan pekerjaan dengan baik dan tidak melanggar intergritas. Di saat yang bersamaan, LinkAja juga berhati-hati dalam melakukan hiring (merekrut karyawan baru).

Lalu, bagaimana Fey menjalankan emphatetic leadership di era pandemi? Bagi dia, emphatetic leadership adalah kemampuan untuk bisa connect dan relate dengan tim, sehingga bisa menginspirasi dan memberdayakan tim supaya bring out the best in them. Jika leader bisa mendorong hal terbaik dari diri mereka, mereka akan memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Sehingga, perusahaan bisa tumbuh dengan baik. “Emphatetic leadership adalah ketika orang lain tidak harus berbicara akan suatu hal, namun kita bisa merasakannya. Intinya, we put ourself in their shoes,” ungkapnya.

Sebagai contoh, seperti disebutkan di atas, walaupun karyawan tidak ada yang secara terang-terangan mengungkapkan kekhawatiran terhadap adanya PHK, Fey tetap relate dan connect dengan mereka, dan menegaskan komitmen perusahaan untuk tidak akan melakukan PHK.

Contoh lain, dalam hal kesehatan, tidak ada karyawan yang mengkhawatirkan atau mempertanyakan bagaimana perusahaan memproteksi karyawan saat pandemi. Namun, “Saat itu kami langsung membuat satuan tugas (satgas) pengamanan untuk memprtoteksi karyawan dan keluarganya agar bisa tetap sehat dan baik di masa pandemi,” kata Fey.

Terlebih, selama masa pandemi, tantangan semakin sulit, pekerjaan semakin banyak karena yang ingin di-deliver juga semakin banyak. Selain itu, banyak hal baru yang disesuaikan dan harus beradaptasi dengan keadaan baru ini (new normal).

“Orang-orang pasti merasakan burn out, walaupun mereka tidak bilang. Ketika karyawan mengerjakan sesuatu dengan purpose dan meaning, mereka akan tetap merasakan harmoni dalam dirinya. Setiap orang memiliki purpose, jika mereka mengerjakan pekerjaan yang banyak, namun tetap align dengan purpose hidupnya, mereka akan bisa tetap menikmatinya,” Fey menerangkan. 

Hasilnya, selain revenue yang melonjak hingga 250% di tahun 2020, kata Fey, sekitar 73% dari user aktif berada di wilayah tier 2 dan tier 3 yang tersebar di 34 provinsi, 89 kotamadya, 387 kabupaten. “Per Februari 2021, jumlah user kami berada di angka 63 juta. Di tahun 2019, jumlah pengguna kami berada di angka 40 juta user, angka tersebut naik menjadi 61 juta di akhir tahun 2020,” ungkapnya.

Sementara untuk LinkAja Syariah, per akhir tahun 2020 penggunanya tercatat sebanyak 1,6 juta. Merchant saat ini berjumlah 900 ribu, pasar tradisional berjumlah 680, yang tersebar di wilayah tier 2 dan tier 3. (*)

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)