Ade Rahadini, Damco Indonesia: Fokus Perbaiki Cost Management dan Optimalkan Cash Reserve

Ade Rahadini, CFO PT Damco Indonesia.
Ade Rahadini, CFO PT Damco Indonesia.

Dalam 10 tahun terakhir, Ade Rahadini berperan penting mentransformasi peran Divisi Keuangan PT Damco Indonesia menjadi mitra bisnis perusahaan. Dalam praktiknya sebagai CFO, Ade bertanggung jawab atas operasional keuangan Damco di Indonesia dan Filipina. Damco adalah perusahaan PMA yang merupakan bagian dari A.P. Moller-Maersk Group yang beroperasi di 50 negara; dengan bisnis di bidang logistik dengan jasa freight forwading, rantai pasok, dan kargo.

Ade pun mengelola cost management untuk memaksimalkan utilisasi sumber daya perusahaan. Ia mendorong peran Divisi Keuangan sehingga mampu memberikan pengaruh dalam keputusan bisnis. Juga, menaruh perhatian pada peningkatan working capital, mengeliminasi kebocoran revenue, serta mendorong profitabilitas. Dan, yang tidak kalah penting, mempersiapkan perusahaan untuk recovery setelah pandemi, menjaga stabilitas perusahaan, serta menangkap peluang baru.

Menurut Ade yang berpengalaman selama 20 tahun sebagai profesional, ada poin yang membedakan dirinya dengan para CFO lain. “Saya sangat percaya dengan eksekusi yang konsisten dan disiplin, yang dapat meningkatkan komitmen dan ownership dari tim, yang merupakan hal penting untuk memberikan hasil,” kata wanita yang memulai karier di bidang keuangan sebagai auditor KPMG ini.

Dalam hal cost management, Ade mengambil kebijakan merestrukturisasi trucking business Damco. Dengan mengoperasikan lebih dari 120 unit chassis dan head truck, ia menyebutkan, ada sejumlah tantangan yang dihadapi. Antara lain, manajemen armada, pemeliharaan dan perbaikan, pengadaan, manajemen pengemudi, layanan pelanggan, hingga produktivitas. Karena itu, Damco memilih melakukan alih daya kepada trucking provider pihak ketiga. Tentunya, kata Ade, dengan supervisi yang cukup ketat.

Hasilnya, terjadi peningkatan laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) pada tahap pertama (tahun 2014-2015) sebesar 245%. Tentu, ada juga risiko yang dihadapi dengan hanya fokus pada third party limited trucking provider. “Namun, perusahaan tetap mengontrol aktivitas outsourcing tersebut sehingga tidak ada ketergantungan pada single trucking provider,” kata Ade yang lulusan S-2 Manajemen Akuntansi, Universitas Indonesia ini.   

Peningkatan EBIT itu antara lain melalui pengurangan jumlah pegawai sebesar 70% (baik pekerja kerah biru maupun kerah putih) dan pengurangan armada secara cukup drastis, sebesar 98%.

Ada tiga hal penting yang menurut Ade berdampak besar terhadap kegagalan layanan (service failure), yakni claim, kurang disiplinnya operation, dan ada isu kualitas data. Masalah claim terjadi karena ketidakakuratan dan late-submission dokumen pelanggan, sehingga mengurangi profit dan mengurangi kredibilitas di mata pelanggan.

Permasalahan dalam disiplin operasional berupa human error. Contohnya, kesalahan dalam meng-input data di custom system. Perkara kualitas data, akar masalah yang ditemukan pada saat itu adalah selling-buying data tidak komplet, kurang validasi, sehingga menyebabkan terjadinya pembatalan invoice sekitar 88% yang terkait isu data quality. “Akhirnya, juga terjadi invoice tax cancellation dan tentunya mengurangi profit,” katanya.

Upaya yang dilakukan antara lain dari aspek claim, yakni membuat standardisasi tracking files yang dapat digunakan lintas departemen sehingga dapat mengurangi service failure sebesar 67% dari baseline. Lalu, untuk aspek disiplin operasional, Ade melakukan perbaikan dengan mengotomatisasi monitoring tools, sehingga bisa mendapatkan visibilitas yang baik terhadap profitabilitas.

Yang terakhir, memperbaiki aspek selling-buying data yang terotomatisasi. Langkah ini mengurangi invoice cancellation karena selling-buying sudah dikawal otomatis. Langkah ini juga bisa mengurangi invoice dispute, dan mempercepat receivable collection. “Jadi, ini semua adalah cost reduction initiatives yang saya lakukan dengan hasil pengurangan cost sebesar 51% dalam waktu delapan bulan (Januari- Agustus 2020),” kata Ade bangga.

Agar perusahaan dapat bertahan di era pandemi, Ade berusaha dapat mengoptimalkan cash reserve. Untuk jangka pendek, dengan memahami proses pembayaran pelanggan, pengumpulan, dan memprioritaskan critical payment. Adapun untuk jangka panjang, dengan membuat program refinancing distributor/pelanggan, memperketat credit assessment, menjaga balance sheet hygiene, melakukan portfolio shift yang fokus pada bisnis potensial, serta meningkatkan produktivitas melalui digitalisasi. (*)

Arie Liliyah Rahman & Jeihan Kahfi Barlian

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)