Andy Rahardja, CFO IDS Medical Systems Indonesia: Strategi Mengembalikan Profitabilitas

Andy Rahardja, CFO IDS Medical Systems Indonesia
Andy Rahardja, CFO IDS Medical Systems Indonesia.

Andy Rahardja berkarier di bidang keuangan sejak 2004. Dia pernah bekerja di Max Power, bagian dari Grup Medco, dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Akunting Regional untuk Asia Tenggara; pernah pula bergabung dengan Sinarmas Agribusiness and Food sebagai Kepala Strategi Finansial dan Proyek Investasi; serta menjadi Regional Adviser untuk Asia Tenggara di CIMA UK.

Tahun 2019, Andy berlabuh di perusahaan penyedia solusi alat kesehatan, PT IDS Medical Systems Indonesia, sebagai Direktur Keuangan. Ketika bergabung, dia langsung dihadapkan pada situasi menantang. Perusahaan PMA yang memiliki induk perusahaan di Hong Kong tersebut sedang mengalami penurunan profit. Maka, segala upayanya saat itu diorientasikan untuk mengembalikan profit perusahaan.

“Misi utama saya ketika bergabung dengan IDS adalah mengembalikan profitabilitas perusahaan. Pada tahun 2018 perusahaan mencatatkan profit, namun pada 2019 mendadak minus. Bersyukur akhirnya pada 2020 sudah kembali profit,” kata Andy dalam penjurian Indonesia Best CFO 2020.

Dia fokus pada enam strategi untuk mengembalikan profitabilitas. Pertama, meluncurkan financial products, di antaranya leasing; rumah sakit bisa membeli barang dengan cicilan dan memanfaatkan fintech. Kedua, merestrukturisasi sumber pendanaan (fund sourcing), dengan mencari sumber pendanaan yangg lebih murah. Ketiga, menciptakan new revenue streams, aliran pendapatan baru, melalui merger dan akuisisi; yaitu dengan mengakuisisi salah satu distributor terbesar alat kecantikan di Indonesia.

Keempat, meningkatkan profitabilitas dengan data analytics dan business intelligence. IDS mengalihdayakan aktivitas yang non-value added ke pihak luar.

Kelima, melakukan transformasi digital dengan pembaruan ERP (Enterprise Resource Planning) dan otomatisasi proses. Keenam, menerapkan good corporate governance. “Saya membentuk divisi manajemen kepatuhan (compliance management) dan sentralisasi pembelian (centralized procurement),” kata Andy.

Lebih jauh, dalam urusan pendanaan, pengelolaan keuangan, dan keputusan investasi, menurut Andy, setidaknya ada empat isu yang perlu dicarikan solusinya. Isu pertama, kondisi keuangan yang sedang rugi. Pada isu ini, dia mengurangi inventory waste dalam supply chain medical equipment agar menciptakan nilai tambah. Kemudian, menghemat biaya, dengan memperkenalkan konsep operating profit center (OPC), bottom-up budgeting, procurement controller, dan cost optimization initiative. Juga, mengoptimalkan modal kerja, yakni alih daya modal kerja ke leasing company dan fintech; mempercepat tax refund; dan memakai data analytics untuk matching pembelian dengan target penjualan.

Isu kedua, perusahaan hanya memiliki sumber pendanaan tunggal karena sedang merugi. “Mengajukan proposal pinjaman bank dalam kondisi keuangan yang rugi adalah sebuah tantangan berat,” kata Andy.

Timnya akhirnya berhasil mendapatkan funding dari satu bank dari Singapura. Dalam bernegosiasi dengan mereka, pihaknya menyampaikan secara terbuka bahwa siklus pembayaran dari pemerintah cenderung pada akhir tahun dan ada barang yang fast moving dan slow moving. “Kalau fast moving, kami minta term-nya lebih pendek. Kalau slow moving, kami minta term lebih panjang. Cara ini bisa menekan risiko dan interest dari kedua belah pihak. Intinya adalah keterbukaan bisnis kami ke mereka dan transparan tentang kebutuhan kami,” Andy menerangkan.

Isu ketiga, efek samping dari penerapan e-catalogue yang menekan margin penjualan, baik untuk sektor rumah sakit pemerintah maupun swasta. Isu keempat, risiko kredit pelanggan, terutama terkait pembayaran BPJS yang sering terlambat. Untuk hal ini, Andy menjalankan inisiatif untuk menekan risiko terjadinya gagal bayar dengan cara meminta pelanggan membuat akun bank gabungan (escrow account).

Andy mengungkapkan, ada lima strategi utama yang akan diterapkan dalam hal pendanaan, pengelolaan keuangan, dan investasi tersebut. Kelima strategi itu mengacu pada Visi Indonesia Sehat 2030. Strategi pertama, mempercepat pertumbuhan sektor kesehatan dengan memanfaatkan fintech/P2P lending. Strategi kedua, menggalakkan produksi dalam negeri untuk mengurangi tingkat ketergantungan pada impor produk kesehatan, baik equipment maupun consumables.

Strategi ketiga, mengembangkan lini bisnis baru di bidang jasa pendidikan di sektor kesehatan (healthcare learning & education). Strategi keempat, menyediakan jasa perencanaan rumah sakit (hospital planning & advisory services) dan jasa logistik medis (medical logistics). Kelima, mengembangkan portofolio di bidang manajemen aset pelayanan kesehatan.

Pada poin pertama, Andy menjelaskan, perusahaan telah menggandeng tiga fintech, yaitu Investree, Modalku, dan KoinWorks. IDS memanfaatkan teknologi e-wallet yang dimilikinya, khususnya untuk pembayaran terkait BPJS karena mampu menghemat waktu. Pihaknya bisa mencairkan dana BPJS lebih cepat karena Modalku bekerjasama dengan BPJS. Menurutnya, langkah ini termasuk inovasi terbaiknya karena menjadi terobosan baru dalam industri kesehatan.

“Jadi, rumah sakit tidak perlu menunggu waktu lama untuk investasi, cukup memberikan ke kami daftar tagihan BPJS. Ini kami jadikan collateral. Mereka tidak perlu bayar apa-apa, cukup beri list-nya saja. Lalu, Modalku ada strategic lender di belakangnya. Jadi, zero risk dengan bunga yang lebih murah,” Andy menjelaskan.

Sebagai perusahaan penyediaan alat kesehatan, kinerja IDS tentu sangat terkait dengan situasi pandemi Covid-19. Andy mengakui alat kesehatan untuk perawatan Covid-10, seperti masker, APD, dan alat pernapasan, melonjak tinggi permintaannya di semua rumah sakit. Alhasil, bukan hanya harga barang naik, tetapi waktu pengiriman pun lebih lama, bahkan hingga barang tidak tersedia di pasar.

Di luar itu, ada juga kendala lain, seperti kebijakan lockdown, sulitnya akses, dan keterbatasan sumber daya manusia. “Sejak terjadinya pandemi, kami segera mendistribusikan persediaan kami agar dapat membantu perawatan pasien secepat mungkin, yaitu berupa ratusan ventilator, monitor pasien, dan barang-barang perawatan Covid-19 lainnya kepada rumah sakit rujukan, juga kepada para donatur,” katanya.

Andy mengungkapkan, lima strategi itu jugalah yang menjadi senjatanya menjaga kinerja keuangan perusahaan agar tetap baik dalam situasi pandemi Covid-19. Hal itu sejalan dengan mimpi besar IDS, yaitu manusia Indonesia memiliki kualitas hidup yang lebih baik, hidup tanpa ketakutan, bebas dari kekhawatiran akan kesehatan dan masa depan.

“Pandemi ini telah membuka mata banyak pihak, menyadarkan kita semua bahwa fasilitas pelayanan kesehatan di negara kita belumlah mencukupi. Kami melihat bahwa perjalanan masih panjang, akan terjadi lonjakan investasi di sektor kesehatan, khususnya dalam tiga tahun ke depan. Strategi tersebut untuk merealisasikan mimpi perusahaan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia,” Andy memaparkan. (*)

Yosa Maulana

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)