Evi Afiatin Ismail, Berkontribusi Perbaiki Proses Bisnis

Evi Afiatin Ismail, Direktur Keuangan dan Direktur Manajemen Risiko BPJS Ketenagakerjaan.
Evi Afiatin Ismail, Direktur Keuangan dan Direktur Manajemen Risiko BPJS Ketenagakerjaan.

Bidang keuangan telah menjadi keahlian Evi Afiatin Ismail selama berkarier 25 tahun hingga sekarang menjabat sebagai Direktur Keuangan dan Direktur Manajemen Risiko BPJS Ketenagakerjaan (sejak 2016). Banyak kontribusi yang telah ditorehkan Evi. Dia berperan penting dalam memperbaiki proses bisnis di BPJS Ketenagakerjaan.

“Kontribusi perbaikan dari sisi proses bisnis, dalam hal ini di Direktorat Keuangan BPJS Ketenagakerjaan untuk bisnis proses operasional, baik itu pembayaran iuran maupun pembayaran klaim,” mantan Direktur Manajemen Risiko dan Kepatuhan Bank Muamalat Indonesia (2014-2016) ini menjelaskan perannya.

Ada perbaikan pada beberapa proses bisnis di perusahaan ini. Antara lain, Lapal Asik, yaitu digitalisasi pembayaran klaim bagi peserta BPJS Ketenagakerjaan. “Sebelumnya, pembayaran klaim itu harus secara fisik. Karena corona, mendorong transformasi lebih cepat,” kata Evi yang lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (1993) ini.

Lalu, dibuat juga digitalisasi kanal layanan permbayaran iuran dan sentralisasi rekening operasional, yaitu efisiensi dari awalnya 2.500 rekening operasional menjadi 250 rekening. Selanjutnya, pihaknya ingin mencoba menjadi hanya 50 rekening.

Selama tahun 2019, perusahaan dengan total aset kelolaan Rp 450 triliun per 30 September 2020 ini telah memperbaiki sistem anggaran dan biaya, yang tidak nge-link ke Kementerian Keuangan (Kemenkeu). “Saat ini, Kemenkeu bisa melihat, serta nantinya kami dan Kemenkeu akan bisa interface dalam hal anggaran dan biaya,” kata mantan SEVP BRI Syariah (2010-2014) ini.

Masih di 2019, perusahaan melakukan proses manajemen aset. Sebelumnya, aset yang dimiliki BPJS Ketenagakerjaan sudah sekitar enam tahun tidak dilakukan inventarisasi dan prosesnya cukup kompleks. Peraih gelar Master Chemical Engineering dari University of Wales Inggris (1994) ini mengatakan, “Kami menggandeng Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk melakukan ini. Kemudian, kami lakukan proses perbaikan manajemen asetnya sehingga internal control-nya jadi lebih baik.”

BPJS Ketenagakerjaan pun sudah membangun sistem pembayaran luar negeri. Pada Agustus 2018 pihaknya diharuskan melayani pekerja migran Indonesia (PMI), sehingga Direktorat Keuangan perusahaan ini juga harus segera memiliki sistem pembayaran dari luar negeri. “Kami bekerjasama dengan beberapa mitra di luar negeri,” ujar wanita yang juga meraih gelar Master of Applied Finance dari University of Melbourne Australia (1999) ini.

Perusahaan ini pun telah memperbaiki proses settlement transaksi investasi dan kustodian; membangun dan secara kontinyu melakukan pengkinian terhadap standar akuntansi BPJS Ketenagakerjaan (Pabastek); memperbaiki proses manajemen risiko investasi dan operasional; serta memperbaiki proses internal kontrol.

Sudah banyak prestasi yang ditorehkan BPJS Ketenagakerjaan, di antaranya meraih Medali Perunggu dalam Asia Sustainability Reporting Award dari NCSR (2018), juga meraih Medali Emas dari NSCR (2019). “Insha Allah, kami berusaha untuk 2020 ini bisa meraih Platinum,” ujar Evi optimistis. Di sisi lain, pihaknya pun ingin dikenal di tingkat Asia, dan pada 2020 meraih juara ketiga The Best Sustainability Report for Public Sector (Asia Sustainability Reporting Award), Singapura.

Tak hanya itu, mantan VP MayBank Indonesia (2006-2010) ini juga telah memperoleh beberapa penghargaan. Di antaranya, Asia’s Top Sustainability Super Woman dari CSRWorks Singapura.

Selain itu, Evi pun sering tampil mewakili Indonesia dari unsur pemerintah, antara lain dalam Asean Security Association Board Meeting di Brunei Darussalam, Konferensi Tingkat Tinggi sidang ILO di Jenewa, dan International Workers Social Securities yang digelar oleh Comwell Korea, serta menjadi pembicara pada Sustainability Reporting dan the UN’s SDG’s Adelaide, di Australia.

Terkait tantangan yang dihadapi saat ini, Evi mengatakan, pertama, Covid-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga pada ekonomi dan ketenagakerjaan. Kedua, ternyata dunia bergerak semakin cepat sehingga perkembangan teknologi lebih cepat daripada perubahan organisasi.

Untuk strategi ke depan, tentu saja, karena digitalisasi sudah di depan mata, transformasi digital merupakan keharusan. Pada 2020, perusahaan telah mengakselerasi transformasi digital, dan pada 2021 akan melanjutkannya.

“Selama ini yang didigitalisasi adalah yang di  front-end, selanjutnya kami juga ingin melakukan digitalisasi di back-end. Untuk front-end lebih efisien dan lebih baik, dalam hal ini pelayanan kepada masyarakat,” kata mantan Direktur Keuangan Bosowa Nusantara Motor ( 2000-2004) ini.

Dari sisi manajemen keuangan, ada lima strategi yang dilakukan Evi. Yaitu, shifting from good to better cost, emphasizing cost effectiveness, managing financial health and solvability, strengthening financial risk mitigation, dan digitalizing channels and buniness process.

Untuk melakukan semua itu, pihaknya pun menyadari, yang juga harus diberi perhatian penuh adalah people, orang yang akan menjalankannya. “Jadi, strategi mau sebagus apa pun, kalau tidak bisa dieksekusi dengan baik, tidak akan menjadi apa-apa,” kata Evi tandas. (*)

Dede Suryadi dan Arie Liliyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)