Ferdian Timur Satyagraha, Aktif Mendorong Transformasi Digital Bank Jatim

Tugas penting sebagai CFO (Direktur Keuangan) PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk. (BPD Jatim) yang diembannya sejak 2017 membuat Ferdian Timur Satyagraha ikut bekerja keras dan putar otak untuk menghadapi tantangan di era pandemi dua tahun belakangan ini. Sebagai CFO, ia memang harus memimpin dan mengoordinasi sejumlah divisi (unit kerja) di BPD Jatim agar berjalan dengan baik. Antara lain, Divisi Treasury, Divisi Pengendalian Keuangan, serta Divisi Perencanaan Strategis dan Manajemen Kinerja.

Tak hanya itu, Ferdian juga harus mampu memberikan arahan dan memantau kesehatan keuangan banknya agar tetap dalam kondisi yang sehat dan likuid. Ia pun wajib mengevaluasi seluruh kegiatan bisnis dan kinerja divisi di bawah koordinasinya.

Banyak terobosan yang sudah dijalankan Ferdian selama menjadi CFO BPD Jatim. Capaian pentingnya, antara lain, memimpin banknya dalam implementasi program PSAK 7I, tepatnya sejak 2018. Atas pencapaian itu, Bank Jatim menjadi bank pertama di Jawa Timur yang mengimplementasikan PSAK 7I.

Ferdian pun aktif mendorong berbagai program digitalisasi di BPD Jatim. “Kami sudah mengembangkan E-Planning untuk top management view. Lalu, di bidang treasury, kami sudah kembangkan Jatim FX sehingga transaksi yang dilakukan di cabang-cabang bisa langsung dikoordinasikan dengan Divisi Treasury di kantor pusat. Bisa langsung di-update di market,” kelahiran Surabaya 11 Januari 1982 ini menunjuk sejumlah contoh program digitalisasi.

Tamatan S-1 dan S-2 Commerce, Deakin University, Melbourne, ini juga terlibat mendorong perusahaannya untuk mengembangkan aplikasi Jatim Underlying Transaction. “Dengan aplikasi itu, kini semua cabang Bank Jatim bisa melihat transaksi underlying yang digunakan untuk transaksi valas dengan mudah,” kata Ferdian.

Bahkan, pihaknya pun telah mengembangkan Cross Currency Mobile Banking yang memungkinkan nasabah bertransaksi digital (mobile) berupa pemindahbukuan cross currency. “Nantinya kami juga akan ada kerjasama dengan sekuritas dan manajer investasi untuk transaksi reksa dana dan obligasi melalui mobile banking Bank Jatim,” katanya lagi.

Di masa pandemi ini, sebagaimana bank-bank lain, BPD Jatim juga berhadapan dengan situasi makro yang rumit. Di antaranya, meningkatnya risiko kerentanan ekonomi sebagai dampak pandemi Covid-19, pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di beberapa wilayah di Jawa Timur, tren kebijakan suku bunga rendah oleh bank sentral, serta kondisi likuiditas pasar yang cenderung overlikuid.

Dampaknya, antara lain, secara makro, imbal hasil yang diberikan oleh instrumen-instrumen pasar uang seperti penempatan pada Bank Indonesia, penempatan pada bank lain, serta tagihan Reverse Repo secara umum menjadi kurang menarik. Sebagai orang yang bertanggung jawab atas treasury dan pengelolaan uang perusahaan, Ferdian harus memikirkan solusinya.

Untuk menyikapi hal itu, ia bersama timnya kemudian melakukan strategi shifting dalam mengelola portofolio. Yakni, menggeser investasi dari instrumen dengan imbal hasil rendah (Penempatan pada BI dan Reverse Repo) ke portofolio surat berharga dengan imbal hasil yang lebih tinggi.

Kendati demikian, pihaknya tetap memperhatikan kecukupan likuiditas dan rasio-rasio bank lainnya. Jadi, prinsip prudent tetap dijaga. Pihaknya kini melakukan investasi portofolio pada surat berharga yang memiliki return menarik dan termasuk dalam kategori HQLA, dengan terus memantau rasio likuiditas secara harian.

Di bidang transformasi digital, banyak aspek yang sudah dilakukan. Misalnya, untuk menghadapi tantangan penyaluran kredit yang banyak menghadapi kendala saat pandemi, Ferdian dan tim mengembangkan aplikasi bernama Jatim Loan dan E-Form. “Ini adalah layanan digital untuk pembiayaan bisnis sehingga lebih mudah diakses para calon debitur,” ujarnya.

Digitalisasi bidang kredit juga dari sisi analisisnya, yakni dengan pengembangan teknologi digital untuk analisis kredit berupa aplikasi yang bisa mempercepat SLA proses kredit. Nama aplikasinya, Jatim Kilat dan E-Loan.

Dari sisi komersial, Ferdian mendorong timnya untuk aktif menjalin partnership dengan berbagai pelaku bisnis guna menggenjot pertumbuhan bisnis BPD Jatim. Misalnya, mendorong kolaborasi dengan kalangan fintech, BPR, dan koperasi untuk menyalurkan kredit ke kalangan pelaku usaha mikro dan kecil. Juga, berkolaborasi dengan perusahaan besar bonafide yang bisa menjadi off taker atau penjamin pasar/kredit.

Bank Jatim pun tak mau ketinggalan dengan berpartisipasi dalam penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) ―program pemerintah― dengan rate yang rendah kepada debitur (KUR Super Mikro 13% dan KUR Mikro 10%). Hal itu dilakukan untuk memudahkan Bank Jatim dalam ekspansi kredit dan subsidi bunga yang tinggi sehingga secara agregat bisa meningkatkan pendapatan bank.

Dalam dua tahun terakhir, kinerja BPD Jatim memang sangat positif. Tahun 2020, bank ini mengantongi laba bersih Rp 1,49 triliun. Tahun sebelumnya, 2019, laba bersihnya juga positif, mencapai Rp 1,38 triliun. Tahun 2020 pendapatan bunga bersihnya Rp 4,12 triliun dan total kredit yang disalurkan Rp 39,87 triliun.

Pembiayaan syariah juga sudah digarap BPD Jatim yang di tahun 2020 volume kreditnya mencapai Rp 1,61 triliun, alias tumbuh 14,66% dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagai CFO, tentu saja Ferdian punya andil penting dalam pencapaian tersebut. (*)

Sudarmadi & Arie Liliyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)