Lea Kusumawijaya, Berkolaborasi dengan Direksi Lakukan Turnaround Bank Permata

Pengalamannya di industri keuangan dan perbankan tidak diragukan lagi, Lea Kusumawijaya dipercaya sebagai Chief Financial Officer (CFO) PT Bank Permata Tbk. sejak 2017. Bagi Lea, posisi CFO sangatlah strategis di dalam sebuah perusahaan.

“Jadi, kalau bicara role CFO, sebetulnya sekarang role-nya sudah jauh berbeda dengan yang 10-20 tahun lalu. Dulu lebih seperti good keeper, tetapi kalau saya lihat, makin ke sini makin seperti penasihat utama untuk CEO dalam menakhodai kapal perusahaan,” katanya. Itu sebabnya, CFO sebagai mitra CEO berperan dalam menentukan strategi bisnis dan memastikan pencapaian sasaran sesuai dengan strategi bisnis yang ditetapkan.

Dengan demikian, seorang CFO harus memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai seluruh aktivitas bisnis strategis dan operasional yang terjadi dalam suatu perusahaan, termasuk mengenai kinerja unit bisnis. Seluruh informasi ini sangat relevan untuk mendukung pengambilan keputusan strategis oleh CEO. Hal ini yang mendasari dalam banyak kondisi, CFO dapat dengan mudah menggantikan CEO apabila diperlukan. 

Tantangan bagi seorang CFO adalah memastikan bahwa dirinya selalu memiliki wide-spectrum business view, tetap up-to-date mengenai pergerakan pesaing dan perubahan perilaku nasabah. Kemudian, menjaga keseimbangan antara risk dan return, serta tetap menjalankan peran sebagai seorang leader (pemimpin) yang memperhatikan pengembangan karyawan dan bekerja dengan hati.

Tentunya, kalau menjadi “asisten CEO” atau penasihat utama CEO dalam menakhodai sebuah kapal, kapal itu tidak selalu dalam keadaan baik. Adakalanya cuaca cerah, tetapi bisa juga cuaca buruk, yang bisa diartikan sebagai sebuah tantangan yang tengah menghadang.

Hal ini pun pernah dialami Lea ketika mulai bergabung dengan Bank Permata, pada 2017. “Pada saat saya join itu adalah saat di mana Bank Permata sedang di titik terendahnya (kinerja bisnis),” kata mantan CFO Standard Chartered Indonesia (2014-2017) ini.

Pada 2016, Bank Permata mengalami tantangan yang cukup besar dengan kerugian senilai Rp 6,5 triliun. Ini merupakan kerugian terbesar di industri perbankan sejak krisis 1998.

Sebagai CFO Bank Permata yang baru ditunjuk, waktu itu Lea berperan memperbaiki kinerja bersama CEO dan direksi lainnya. Berbagai langkah perbaikan utama dilakukan pengelola bank ini, yaitu memperbaiki kerangka manajemen risiko, khususnya risiko kredit dan risiko permodalan, serta menerapkan disiplin manajemen biaya, termasuk disiplin dalam pengurangan biaya operasional secara selektif.

Adapun hal-hal khusus yang dilakukan Lea sebagai CFO dalam upaya memperbaiki kinerja Bank Permata adalah menyelesaikan aksi korporasi rights issue untuk memperkuat permodalan bank (diselesaikan di Juni 2017). Kemudian, melakukan divestasi anak perusahaan yang masih merupakan grup perusahaan, sehingga divestasi tidak berpengaruh negatif terhadap pendapatan operasional tapi menghilangkan ketidakefisienan penggunaan modal, dan capital adequacy ratio (CAR) bank ini pun meningkat (diselesaikan di Mei 2018).

Hal lainnya yang ia lakukan adalah menyusun rencana bisnis bank bersama CEO dan direktur bisnis. Fokusnya pada pertumbuhan pendapatan berbasis biaya serta pertumbuhan tabungan dan giro sebagai sumber dana murah untuk menurunkan biaya dana guna mendukung pertumbuhan aset.

Lea pun menjaga rasio likuiditas dan menempatkan cadangan likuiditas pada instrumen Bank Indonesia dan obligasi pemerintah yang bebas risiko kredit tetapi memberikan imbal hasil yang memadai. Yang ia lakukan lainnya: menerapkan disiplin manajemen biaya dengan memangkas biaya operasional yang tidak mendatangkan manfaat langsung terhadap pertumbuhan bisnis, sehingga biaya operasional bank tidak meningkat selama empat tahun, walaupun pertumbuhan bisnis tetap mengalami peningkatan signifikan. 

Bersama direktur risiko, ia juga membentuk pencadangan kerugian kredit dengan prinsip kehati-hatian, dengan tetap menjaga rasio non performing loan (NPL), agar menurun secara bertahap. Lalu, menginvestasikan seluruh profit bank untuk memperkuat modal dan menunda pembayaran dividen dengan persetujuan pemegang saham. 

Tak lupa, ia juga melakukan komunikasi yang berkelanjutan dengan pemegang saham dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai pengawas bank, dan memastikan langkah strategis yang diambil bank sesuai dengan arahan regulator. “Transparansi menjadi kunci utama perbaikan kinerja yang sangat diapresiasi oleh OJK,” ujar lulusan Akuntansi, Universitas Trisakti ini.

Berkat peran CFO bersama CEO dan direksi lainnya, bank ini sukses melakukan turnaround. “Ini adalah key achievement dari CFO. Yang menjadi role CFO adalah terutama untuk bisa membantu mengembalikan kinerja bank ini,” ungkap peraih gelar MBA International Banking & Finance dari Universitas Birmingham Inggris ini.

Philip Purnama, juri Indonesia Best CFO 2021, mengatakan bahwa Lea pernah menjadi CFO Standard Chartered di Filipina (2013-2014). Dengan pengalamannya tersebut, walau kepemilikan Bank Permata beralih dari Standard Chartered ke Bangkok Bank, Lea tetap dipercaya sebagai CFO. “Ini membuktikan Lea layak sebagai CFO perbankan kelas dunia, bisa beradaptasi di kultur kerja Barat maupun Timur,” ujar Philip. (*)

Dede Suryadi dan Arie Liliyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)