Leonardus Wahyu Wasono, Dukung Lima Strategi Telin Menjadi Global Digital Hub

Leonardus Wahyu Wasono, Chief Finance and Business Partner Officer PT Telekomunikasi Indonesia Internasional (Telin)
Leonardus Wahyu Wasono, Chief Finance and Business Partner OfficerPT Telekomunikasi Indonesia Internasional (Telin)

Visi PT Telekomunikasi Indonesia Internasional (Telin) adalah menjadi global digital hub pada 2021. Sejalan dengan hal tersebut, Leonardus Wahyu Wasono sebagai Chief Finance and Business Partner Officer berupaya mendukungnya melalui inovasi di bidang keuangan.

Pria yang akrab disapa Sonny ini menduduki posisinya sejak Agustus 2016. Sebelum bergabung dengan Telin, ia pernah menjabat sebagai GM Perencanaan Anggaran Telkomsel serta VP Perencanaan dan Analisis Keuangan Telkomsel. Sonny juga pernah diberi mandat sebagai VP Senior ERP Task Force dan Komisaris Telkom Infra.

Dari segi portofolionya, Telin menawarkan rangkaian layanan komunikasi suara internasional, layanan data, layanan mobility, internet & content, serta solusi bisnis. Target pelanggannya adalah kalangan wholesale, enterprise, pemain digital, dan peritel. Sejauh ini pelanggannya selain dari Indonesia, juga berasal dari Timor Leste, Singapura, Hong Kong, Australia, Malaysia, Makau, Taiwan, Amerika Serikat, Myanmar, dan Arab Saudi.

Infrastruktur global Telin melingkupi 207.260 kilometer panjang kabel, sudah mencakup konsorsium seperti SEA-US, SEA-ME-WE 5, dan IGG. Jaringan bisnis Telin terdiri dari 65 point of presence, 11 kantor global, dan lebih dari 19 data center tier II hingga tier IV yang beroperasi di Singapura, Hong Kong, Timor Leste, dan Indonesia.

Sonny menjelaskan, Telin memiliki lima strategi utama pengembangan, yaitu product and service, new scheme, new hub infrastructure, smart organic, dan transformation. Menurutnya, Telin sudah memahami bahwa bisnis traffic akan semakin terdisrupsi dengan adanya teknologi baru. “SMS dan voice menjadi sangat kecil marginnya,” ujar lelaki yang juga menjabat sebagai Direktur Telin Singapura dan Australia ini.

Karena itu, dalam hal produk, Telin berupaya mengembangkan produk yang kompetitif dan prospektif dengan melakukan transformasi menuju kepada cloud dan connectivity. Dari aspek skema baru, Telin mengembangkan dealing model bisnis baru. “Kami memahami Telin membutuhkan partner, karena kita bicara collaborative strategy. Peran saya sebagai business partner di keuangan adalah bisa menciptakan business model yang mendukung inovasi,” tutur Sonny.

Dalam hal new hub infrastructure, Telin baru saja mengembangkan infrastruktur di Eropa dan AS dalam dua tahun terakhir. Tujuannya agar bisa mengelola traffic langsung ke Indonesia daripada disalurkan dulu ke Hong Kong atau Singapura.

Selama ini, diceritakan Sonny, seluruh konektivitas dunia selalu melalui Singapura, sehingga yang diuntungkan Malaysia. Sebab, dari Indo Cina melewati Malaysia untuk ke Singapura, sedangkan Indonesia selalu tidak kebagian. “Karena itu, kita harus bangun infrastruktur, jika ingin meningkatkan daya kompetisi Indonesia,” kata Master Teknik Telekomunikasi dari Royal Melbourne Institute of Technology ini.

Adapun dari aspek smart organic, meskipun potensi domestik masih ada, Telin ingin tumbuh juga ke luar dengan melakukan ekspansi internasional. “Kami harus membawa kapabilitas perusahaan ke luar atau yang dari luar disalurkan melalui kami dengan pola akuisisi,” katanya.

Jurus strategi kelima adalah transformasi yang menopang seluruh kapabilitas perusahaan. Mulai dari transformasi SDM, budaya, hingga organisasi. Kelima strategi besar ini, menurut Sonny, dikelola oleh korporat. Adapun fungsi keuangan mendukung dengan formulasi yang tepat.

Sonny optimistis dengan potensi Telin sebagai global digital hub. Alasannya, Telin telah memiliki basis pelanggan yang cukup besar, yakni lebih dari 200 juta pelanggan. (*)

Herning Banirestu dan Jeihan K. Barlian

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)