Meylindawati, Pimpin Transformasi Keuangan

Meylindawati, chief financial officer (CFO) PT Asuransi Allianz Life (Allianz Indonesia)
Meylindawati, chief financial officer (CFO) PT Asuransi Allianz Life (Allianz Indonesia)

Bidang akuntansi tak bisa dilepaskan dari perjalanan karier Meylindawati. Sejak lulus dari Jurusan Akuntansi Universitas Tarumanagara pada 1995, ia selalu bersentuhan dengan akuntansi. Wanita kelahiran 1972 ini mengawali karier di Cooper & Lybrand Siddharta & Harsono sebagai staf junior tim layanan akunting. Hanya setahun di sana, kemudian ia pindah ke KPMG Hanadi Sudjendro sebagai auditor senior.

Kurang dari satu tahun, ia pindah ke KPMG Siddharta & Harsono, masih sebagai auditor senior selama setahun. Kariernya mulai moncer setelah pindah ke PT Asuransi Allianz Life (Allianz Indonesia) pada Juni 1999. Dimulai dari posisi manajer akunting, kemudian menanjak menjadi chief financial officer (CFO) pada 2012 hingga saat ini.

Dijelaskan Meylindawati, Allianz mulai beroperasi di Indonesia tahun 1996 dengan menawarkan produk asuransi jiwa, asuransi kesehatan, employee benefit, DPLK, dan asuransi syariah. Didukung oleh 20 ribu agen asuransi, Allianz di Indonesia melayani 60 ribu nasabah. Selain melalui agen asuransi, Allianz juga melakukan penjualan melalui mitra bancassurance, antara lain Maybank, HSBC, dan BTPN.

Menurutnya, ada lima tantangan yang dihadapi Allianz, yaitu proses manual, era disrupsi digital, IFRS 9 dan IFRS 17, payment touch point, serta kelangkaan ahli di pasar. Ia melihat, era disrupsi ini membuat perilaku nasabah berubah, ingin lebih cepat dan mengakses sesuatu di mana pun. Lalu, Allianz juga memiliki beberapa lini bisnis --asuransi jiwa, kesehatan, dan sebagainya-- dan core system pun tidak hanya satu, ada beberapa. Sayangnya, saat ini belum terkoneksi sehingga ada beberapa proses yang manual. “Karena segmen pasar Allianz tidak hanya menengah-atas, tapi ada juga mass market, ada yang masih unbankable. Maka, perusahaan pun harus memikirkan payment point yang menjangkau semua segmen,” katanya.

Bagaimana strategi yang dilakukan untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut? “Kami melakukan transformasi di keuangan yang mencakup tiga hal utama: growth, quality, dan experience,” katanya. Dari sisi growth, umpamanya, ada perubahan Key Performance Indicators (KPI) dari pemegang saham. Jadi, manajemen tidak hanya memikirkan pangsa pasar, tetapi mindset pun berubah dari top line menjadi bottom line.

Pihaknya juga mengasah tim penjualan soal bagaimana menjual premi yang paling profitabel. Tentunya, harus melalui proses edukasi. Bagaimana mereka memahami berbagai komponen perhitungan new business value dan faktor apa saja yang mereka bisa kontrol.

Dalam hal quality, Allianz menerapkan host-to-host payment, Robotics Programming Automation (RPA) untuk mengatasi penerapan IRFS baru, serta mengubah sistem aktuaria dan akuntansi yang ada. Dalam hal memberikan pengalaman kepada nasabah yang lebih baik, pihaknya menerapkan sistem straight through payment sehingga yang semula klaim butuh dua hari sekarang bisa real-time. “Semua langkah transformasi ini juga terkait capaian yang ditargetkan pemegang saham bahwa produktivitas Allianz Indonesia bisa meningkat 20%,” kata Meylindawati menginformasikan.

Sebagai mitra strategis CEO, peran dan posisi CFO tetap sama ke depan. Bahkan, bukan hanya kepada CEO, tetapi juga dengan semua elemen perusahaan, seperti dengan tim support. “Kami memberikan insight, memberikan channel controling. Lumayan detail bagi sales, untuk mengukur produktivitas mereka. Target kami pun ingin menjadi leading di pasar sehingga saya secara aktif dengan CEO dan tim lain menuju ke arah sana,” paparnya.

Soal kinerja, Allianz Indonesia mencatat pendapatan premi bruto (Gross Written Premium/GWP Gabungan, total dari lini usaha asuransi jiwa dan umum) sebesar Rp 11,9 triliun di 2018, atau mengalami pertumbuhan 7,9% dibandingkan 2017.

Total jumlah klaim yang dibayarkan kepada nasabah sepanjang 2018 adalah Rp 7,4 triliun untuk asuransi jiwa, kesehatan, dan umum. Adapun laba bersihnya Rp 792,7 miliar, meningkat 152% dibandingkan tahun sebelumnya. (*)

Herning Banirestu dan Dede Suryadi

Sumber: Tempo.co

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)