Narendra Widjajanto, Jaga Keseimbangan agar Proyek Kilang Lancar

Narendra Widjajanto, Direktur Keuangan PT Kilang Pertamina Balikpapan.
Narendra Widjajanto, Direktur Keuangan PT Kilang Pertamina Balikpapan.

Sebagai Direktur Keuangan PT Kilang Pertamina Balikpapan, tugas Narendra Widjajanto tidaklah ringan. Perusahaan di Balikpapan, Kalimantan Timur, itu kini tengah mengerjakan sejumlah proyek besar. Di antaranya, revamping dari 250 ribu barel per hari (bph) menjadi 360 ribu bph. Proyek ini dimulai tahun 2019 dan ditargetkan selesai pada 2023, menggunakan 15 ribu pekerja. Mereka juga membangun tangki di Lawe-Lawe, Penajam Paser Utara, Kal-Tim.

       Tugas utama Kilang Pertamina Balikpapan memang menjalankan salah satu proyek strategis nasional, yaitu proyek pembangunan peningkatan kapasitas kilang minyak Balikpapan sesuai jadwal. Agar proyek tersebut berjalan lancar, menurut Narendra, pihaknya menjalankan beberapa strategi.

       Strategi pertama, mengelola kapital. Kedua, memanfaatkan tax supporting (fasilitas keringanan pajak). Ketiga, di samping mengandalkan ekuitas sendiri, juga berencana menggunakan project financing untuk pendanaan project dan commercial debt. Termasuk, meminjam kepada bank. “Kami baru mencoba menggunakan proyek Trustee Borrowing Scheme Mix Conventional and Shariah Debt,” kata Narendra. Langkah ini sangat wajar mengingat perusahaan masih relatif baru dan sumber pendanaan proyek investasi saat ini adalah dari penyertaan modal pemegang saham mayoritas.

       Kilang Pertamina Balikpapan baru: didirikan tahun lalu. Aset saat ini, dari awalnya US$ 84 juta, meningkat pada Agustus menjadi US$ 152 juta, dan ditargetkan akan mencapai US$ 307 juta pada akhir 2020.

       Keseluruhan strategi di atas, menurut Narendra, dijalankan demi menyeimbangkan kondisi keuangan. Maklum, karena proyeknya sejumlah konstruksi, cost optimization maintenance menjadi hal penting. Selain harus mampu menjaga kelangsungan investasi, perusahaan juga mesti menjaga likuiditas untuk membayar para kontraktor.

       Narendra sendiri, sebelum berada di posisi sekarang, telah malang melintang di Pertamina yang dimasukinya tahun 1990. Sebelumnya, dia menduduki kursi Direktur Keuangan PT Pertamina Geothermal Energy dan Direktur Keuangan PT Pertamina Retail.

       Alumni University of Illinois at Urbana Champaign, AS, ini mengungkapkan, dunia minyak dan gas memiliki dinamika yang tinggi sehingga pihaknya harus mampu mengelola volatilitas setiap hari, terutama untuk forex. Dengan volatilitas yang tinggi semacam itu, peran direktur keuangan begitu krusial. Karena itulah, Narendra juga mendorong corporate performance and governance culture untuk memonitor proyek yang dijalankan pihaknya. Jangan heran, katanya, bahkan pertemuan dewan komisaris  secara reguler terus dijalankan berdampingan dengan pertemuan dewan direksi.

       Tantangan yang berat itu kini bertambah dengan adanya pandemi Covid-19. Namun, Narendra mengungkap, pihaknya terus berupaya menjaga kontinutitas program investasi pembangunan kilang. Dan di tengah pandemi saat ini, sejumlah langkah pun dilakukan.

       Langkah pertama, mengupayakan tetap menjalankan kegiatan konstruksi lapangan sesuai dengan protokol Covid-19 yang ketat. Kedua, tetap melakukan monitoring dan mengupayakan solusi secara periodik bersama kontraktor serta konsultan proyek atas kendala yang dihadapi, terutama dari aspek keuangan (anggaran, pembayaran, dan perpajakan –termasuk bea cukai). Ketiga, menginventarisasi program kerja yang terdampak Covid-19 yang berpotensi memengaruhi nilai dan jadwal proyek, karena terdapat material impor ataupun tenaga kerja yang didatangkan dari luar lokasi Balikpapan.

       Agar kontinuitas perusahaan tetap berjalan, di samping mengoptimalkan biaya dan waktu, pihaknya pun melakukan cara kerja yang berbeda dibandingkan masa sebelumnya, yaitu dengan memanfaatkan teknologi. Seperti perusahaan lainnya, untuk aktivitas rapat kerja, wawancara, dan pengawasan, pihaknya memanfaatkan MS Teams, Zoom, dan software lain, termasuk drone.

       Untuk presensi online digunakan digital signature. Adapun untuk kegiatan penunjang yang bersifat shared services/multitasking digunakan platform ERP. Intinya, mereka terus bekerja demi mengejar target yang telah ditetapkan pemerintah. (*)

Teguh S. Pambudi dan Anastasia A.S.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)