Nixon L.P. Napitupulu,  Direktur Keuangan Bank BTN: Ayunkan 5 Jurus untuk Transformasi Finansial BTN

Nixon L.P. Napitupulu, Direktur Keuangan BTN.

       Pada ajang Best CFO 2020, Nixon L.P. Napitupulu disepakati Dewan Juri sebagai CFO terbaik, dengan mencatat skor tertinggi di antara para finalis. Nixon tampil di ajang ini dalam kapasitasnya sebagai Direktur Keuangan PT Bank BTN Tbk.

       Nixon bukan orang baru di bidang perbankan dan keuangan. Ia bergabung dengan BTN sejak Maret 2017, melalui hasil RUPST BTN pada 17 Maret 2020. Sebelumnya, Nixon menjabat sebagai Direktur Utama Bank Mantap (Bank Mandiri Taspen Pos). Karier sebelumnya dijalani Nixon di Bank Mandiri Tbk., dengan posisi terakhir (sebelum ke Bank Mantap) sebagai corporate secretary.

       Perlu diketahui, BTN saat ini merupakan bank nasional dengan market share terbesar di segmen KPR di Indonesia (sebesar 40,3% pada 2019), terutama lewat pemberian KPR Subsidi. Bank ini juga merupakan kontributor utama dalam pemenuhan Program Sejuta Rumah, dengan kontribusi 60% setiap tahunnya.

       Publik sudah memahami bahwa bisnis perbankan termasuk salah satu sektor yang terdampak serius oleh disrupsi digital. Pandemi Covid-19 dan dinamika yang menyertainya pun turut menerpa sektor ini. Antara lain, banyak debitur kredit yang kehilangan kemampuan untuk membayar angsuran kreditnya. Maka, mengelola bisnis perbankan saat ini --apalagi dengan peran sebagai CFO-- bukanlah hal mudah.

       Di hadapan para juri, Nixon memaparkan sejumlah tantangan yang dihadapinya sebagai CFO BTN. Pertama, struktur kredit BTN masih didominasi sektor perumahan (sekitar 90%). Menurutnya, karena sebagian besar merupakan KPR subsidi (60%), yield-nya terbatas. Tantangan kedua, pandemi Covid-19 telah menurunkan demand terhadap kredit perbankan, sehingga menurunkan realisasi kredit pada semester I/2020 dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, banyak debitur yang mengajukan restrukturisasi kredit.

       Ketiga, terjadinya penurunan kualitas kredit (sebagai NPL/non-performing loan), dari semula 2,82% per Desember 2018 menjadi 4,78% per Desember 2019. Pada 2019 penurunan kualitas kredit di segmen komersial high rise disebabkan oleh melambatnya penjualan apartemen. Adapun penurunan kualitas kredit pada 2020 diakibatkan oleh penurunan kinerja ekonomi nasional dan pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), yang berdampak pada kemampuan mengangsur (tercatat NPL 4,72% per Juni 2020).

       Keempat, tantangan mendapatkan DPK (Dana Pihak Ketiga) yang makin kompetitif, yang membuat DPK jadi mahal. Karenanya, likuiditas BTN harus ditopang oleh deposito dan non-DPK. Komposisi dana non-DPK cukup tinggi, 15-25% dari total likuiditasnya. Adapun porsi dana murah dari CASA (Current Account Saving Account) atau dari giro dan tabungan masih rendah, < 50%. Akibatnya, cost of fund BTN paling tinggi di antara bank-bank nasional, yakni mencapai 6,09% per Desember 2020 (bandingkan dengan BRI 3,71%, Mandiri 3,05%, BNI 3,34% atau BCA 1,95%).

       Di samping itu, ada tantangan eksternal, terutama keharusan penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71 dan 73. Implementasi PSAK 71 membuat bank harus memiliki coverage Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) di atas 100% di awal 2020. Padahal, hingga 2019 rasio coverage CKPN BTN masih di bawah 50% (karena sebelumnya berpatokan pada PSAK 55). Untuk memenuhinya, diperlukan peningkatan CKPN secara bertahap.

       Lalu, apa yang dilakukan manajemen BTN di bawah komando Nixon sebagai CFO dalam menjawab segala tantangan tersebut? Nixon menyebutkan, pada dasarnya pihaknya menjalankan program transformasi finansial BTN. Tujuannya adalah mendukung visi BTN untuk menjadi “best mortgage bank in South East Asia” pada 2025.

       Untuk merealisasikannya, sebagai CFO BTN, Nixon mengayunkan lima jurus strategis.

        Jurus pertama,melakukan repricing dana-dana mahal, sekaligus memperbaiki struktur likuiditas BTN. Langkah pertamanya adalah me-rekomposisi tabungan, giro, dan deposito untuk memperbesar porsi CASA. Lalu, mencari produk non-DPK jangka panjang (berasal dari pinjaman luar negeri). Selain itu, juga melakukan repricing deposito dan dana wholesale yang jatuh tempo, dengan rate (bunga) yang lebih rendah. “Langkah ini berdampak pada meningkatnya rasio likuiditas BTN di tahun 2020 , serta penurunan cost of fund,” kata Nixon. Menurut catatannya, terjadi penurunan cost of fund dari 5,65% pada Juli 2020 menjadi 5,56% pada September 2020.

        Jurus kedua, melakukan rekomposisi dan restukturisasi kredit. Dalam jangka pendek, fokus strategi diarahkan pada restrukturisasi kredit terkait pandemi Covid-19. Adapun dalam jangka panjang, ditujukan untuk merekomposisi struktur perkreditan BTN.

       Restrukturisasi dilakukan pada Maret-September 2020. Puncak restrukturisasi terjadi pada Mei 2020 dengan jumlah debitur 85 ribu, dan nilai kredit Rp 11,72 triliun. Adapun pada September melibatkan 18 ribu debitur dengan nilai Rp 4 triliun.

       Dalam jangka panjang, langkah restrukturisasi kredit dimaksudkan untuk me-rekomposisi kredit dengan meningkatkan porsi kredit bermargin tinggi. “BTN mendorong penurunan rasio Kredit Perumahan hingga di bawah 85%, agar yield kredit naik,” kata Nixon. Ia juga menyebutkan, penurunan porsi Kredit Perumahan akan mengurangi risiko portofolio kredit BTN.

        Jurus ketiga, memperkuat cadangan kredit (coverage ratio) dan permodalan. Nixon mengatakan, selama 2019 pihaknya fokus pada peningkatan CKPN dan persiapan implementasi PSAK 71 dan 73. Adapun di tahun 2020 dilakukan retrospeksi modal, yang juga dimaksudkan untuk memenuhi PSAK 71.

       Retrospeksi modal dilakukan dengan dua langkah, yakni penerbitan pinjaman instrumen subdebt senilai Rp 3 triliun dan penerbitan junior global bond senilai US$ 300 juta (setara Rp 4,2 triliun). Nixon mengungkapkan, penerbitan instrumen junior global bond ini merupakan yang pertama kali dari jenisnya di Indonesia. Penerbitan pada Januari lalu itu mengalami oversubscribed hingga 12,3 kali.

       Nixon mengklaim, BTN berhasil mengimplementasikan PSAK 71 dan 73 dengan tepat waktu. BTN juga sudah melakukan Digitalisasi PSAK 71 dan 73, dimanifestasikan dengan penggunaan sistem REGLA, yang sudah memperoleh garansi dari Deloitte dan EY.

       Hasil lain dari langkah retrospeksi modal ini, menurut Nixon, BTN berhasil menjaga rasio kecukupan modal (CAR), dengan tren meningkat, dari posisi CAR 16,88% pada September 2019 menjadi CAR 18,95% pada September 2020.

        Jurus keempat, melakukan efisiensi untuk menurunkan biaya operasional. Cara yang dilakukan adalah mengubah strategi pengadaan (procurement) dari pola Collaborative Procurement menjadi Center-Led Procurement. Bersamaan dengan itu juga dilakukan transformasi tata kelola dan proses bisnis, termasuk membangun sistem TI untuk pengadaan. “Kami juga mensentralisasi aktivitas promosi korporasi di satu unit kerja, dan mengubah pola diklat konvensional menjadi online learning,”  kata Nixon.

       Hasil dari langkah efisiensi ini, menurutnya, terlihat cukup signifikan. Di antaranya, biaya promosi turun 51% dari Rp 317 milar pada September 2019 menjadi Rp 155 milar pada Sept 2020. Biaya sewa juga turun 11% pada periode yang sama (YoY). Adapun biaya pelatihan turun 51% (YoY), dari Rp 63,9 miliar pada September 2019 menjadi Rp 31,2 miliar pada September 2020.

        Jurus kelima, meningkatkan shareholder value. Fokusnya, kata Nixon, menjadikan BTN (dengan kode emiten: BBTN) sebagai emiten pilihan di mata para pemegang saham. Cara yang dilakukan adalah menguatkan kinerja fundamental (keuangan) perusahaan, melakukan komunikasi yang lebih intensif dengan para shareholder dan investor, serta mempertahankan engagement dengan para investor (lokal dan asing).

       Nixon menyebutkan sudah terlihat pergerakan harga saham BBTN hingga 107% dari posisi Mei 2020, seiring membaiknya kinerja perseroan pada 2020. “Kenaikan ini jauh lebih baik dibandingkan IHSG dan saham perbankan lainnya,” ujar Nixon.

       Dari segi pengakuan, BTN boleh berbangga diri. Selama periode 2019 hingga Juni 2020, BTN telah menggaet 42 penghargaan nasional dan dua penghargaan internasional. Di antaranya, masuk daftar Top 3 ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS), masuk sebagai salah satu bank dalam daftar Indeks SRI-Kehati, masuk dalam daftar Top 100 Most Valuable Brands dari SWA, serta masuk daftar Top Brand KPR sebagai KPR pilihan kaum milenial.

       Menurut Nixon, kunci sukses seorang CFO dalam merespons perubahan terdiri dari tiga hal, yakni bertransformasi, berimprovisasi, dan beradaptasi. (*)

Joko Sugiarsono & Arie Liliyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)