Ira Puspadewi, ASDP Ferry Indonesia: Pentingnya Menjaga Keseimbangan, Membangun Ruang Keberagaman

Ira Puspadewi, Direktur Utama PT Angkutan Sungai Danau Penyeberangan (ASDP) Ferry Indonesia

Tidak banyak sosok perempuan pemimpin yang memiliki jalan karier zig-zag berakhir cemerlang seperti Ira Puspadewi, Direktur Utama PT Angkutan Sungai Danau Penyeberangan (ASDP) Ferry Indonesia. Sebelum ditunjuk sebagai orang nomor satu di BUMN yang bergerak dalam jasa angkutan penyeberangan dan pengelola pelabuhan penyeberangan untuk penumpang, kendaraan, dan barang itu, ibu dua anak ini menjabat sebagai Direktur Ritel, Jaringan, dan SDM PT Pos Indonesia dan Direktur Utama PT Sarinah (Persero).

Wanita kelahiran Malang 53 tahun yang lalu ini adalah alumni Universitas Brawijaya Malang dan telah meraih gelar doktoralnya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Sebelum berkarier di Sarinah, Ira mencatatkan pengalaman kerja di GAP Inc., perusahaan garmen terkemuka di Amerika Serikat yang bermarkas di San Francisco. Produk populer GAP Inc. yang dikenal masyarakat adalah brand Republic Banana dan Old Navy. Posisi terakhirnya di perusahaan ini adalah Direktur Kawasan Asia Pasifik.

Menurut Ira, yang terpenting dalam memimpin di industri semacam ASDP adalah keselamatan dan pelayanan. Dua hal utama yang harus menjadi prioritas karena betapa pun ASDP bergerak di bidang jasa yang sangat bergantung pada kekuatan SDM.

“Saya bersyukur bahwa saat saya bergabung dengan ASDP, Desember 2017, perusahaan ini mulai memperkuat kualitas pelayanannya kepada pengguna jasa,” ungkap Ira. Ia gembira karena sejak tiga tahunan lalu perusahaan melakukan berbagai program transformasi secara lebih terstruktur dan terukur.

Misalnya, kini untuk mengetahui keadaan lapangan dalam kondisi baik, ASDP mempunyai perangkat berjenjang untuk memastikan kualitas pelayanan ini. Di luar itu, jika ada hal-hal atau waktu critical seperti di musim liburan atau Lebaran, Ira memastikan diri hadir dan cek langsung ke lapangan. “Saya pasti ada di sana untuk memastikan kelancaran dan ketertiban,” ujarnya tegas.

Hal lain yang juga dilakukan pengecekan adalah kebersihan toilet. “Tampaknya kecil, tapi sesungguhnya indikator yang sangat penting untuk menggambarkan kualitas pelayanan yang baik,” katanya.

Kepada seluruh anak buahnya, Ira menegaskan bahwa layanan ASDP bukan hanya menyeberangkan orang dengan selamat, tetapi juga dengan senyum. Dengan unsur hospitality, kualitas pelayanan akan lebih baik. Untuk itu, seluruh karyawan harus bersatu, saling melebur, dan menjadi mitra dialog manajemen.

Dikatakan Ira, ada dua hal penting dalam caring leadership. Pertama, caring for customers. Dalam orientasi baru, menurutnya, pemahaman konsep konsumen harus diperluas. Arti “konsumen” tidak hanya konsumen eksternal, tetapi juga internal di dalam perusahaan. “Kesadaran bahwa setiap fungsi itu punya konsumen di dalam perusahaan, sehingga membangun caring adalah tugas seluruh organ perusahaan karena baik-buruknya yang kami lakukan memengaruhi baik-buruk orang lain juga,” Ira menandaskan.

Kedua, penanganan program SDM. Untuk itu, ada beberapa program baru yang dikembangkan ASDP yang diharapkan menjadikan caring sebagai budaya. Di antaranya, Captain Development Program. “Ini adalah program di mana seluruh nakhoda diberi pelatihan yang pada ininya meningkatkan kepemimpinan dan kepedulian para nakhoda terhadap armada dan tim masing-masing,” kata Ira.

Pihaknya juga mengembangkan program penyediaan tenaga ahli konseling. Program ini bertujuan membantu karyawan menyelesaikan masalah pribadi dan pekerjaannya, sekaligus memberikan peluang agar karyawan bisa berdiskusi tentang pengembangan diri.

Memiliki pengalaman kerja di bidang yang beragam dan merasakan pengalaman bekerja di perusahaan swasta asing membuat Ira sangat percaya pentingnya memberikan ruang untuk keberagaman, termasuk keberagaman ide di antara anggota tim. Hal itu dia wujudkan dalam setiap BOD meeting. Ia selalu mengundang direksi lain untuk memberikan pandangannya.

“Dari situ kami formulasikan bersama tentang langkah yang diambil,” ungkapnya. Semakin banyak masukan dan ide yang beragam, menurutya, akan semakin baik.

“Dalam interaksi sebagai leader, saya juga percaya harus ada keseimbangan antara menjadi leader yang memberikan komando dan leader yang menjadikan kita semua sebagai keluarga. Ada kondisi yang mengharuskan kita jadi komandan betul, dan ada kondisi yang mengharuskan kita jadi kawan, kakak, bahkan ibunya karyawan. Di saat santai, kita bisa jajan, nyanyi bareng, atau kembaran sepatu sneakers dengan teman-teman,” demikian kata Ira tentang prinsip kepemimpinan yang dijalankannya.

Memang diakuinya, menjadi pemimpin yang dapat merengkuh seluruh karyawan jelas tidak mudah. Apalagi, dengan jumlah karyawan hampir 5.000 orang, tentu sulit mengharapkan mengenal mereka satu per satu. Namun, Ira meyakinkan kepada seluruh karyawannya bahwa pintu ruangannya selalu terbuka untuk mereka.

Ira juga berusaha tidak melewatkan membalas teks dari karyawan. “Saya juga punya akun IG pribadi yang kontennya campuran pribadi dan pekerjaan yang sifatnya kasual. Dengan ini, karyawan yang jauh lebih muda atau jauh jaraknya juga suka bersapa,” katanya.

Dalam hal relasi dengan karyawan, Ira berpandangan pentingnya memiliki investment of relationship dengan semua orang, apalagi tim kerja. Mengapa? Hubungan antar-orang itu seperti memiliki tabungan. “Kalau kita tersenyum, itu tabungannya bertambah. Apalagi kalau kita membantu tim untuk menjadi lebih berkembang, lebih pintar, lebih bijak, nah ini namanya tabungan positif. Kalau kita tegur, walaupun mungkin disampaikan dengan halus, ada perasaan yang agak tidak enak di tim kita. Tapi tidak apa, selama tabungan positif kita banyak,” Ira menjelaskan panjang lebar.

Maka, ia pun percaya, dengan memperbanyak membuat tabungan positif, kalau suatu ketika harus ambil tabungan (alias menegur), jumlah tabungan itu masih banyak dan hubungan kerja pun akan masih baik.

Yang pasti, Ira memercayai, setiap leader adalah role model. Terkait budaya caring, ia mengaku justru belajar dari kru kapal: bagaimana kapten di laut adalah commander in charge, sekaligus bapaknya para kru. “Di laut yang penuh tantangan alam, caring ini sesuatu yang organik,” ujarnya tandas. (*)

Dyah Hasto Palupi dan Vina Anggita

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)