Prita Kemal Gani, Mengelola Tim di LSPR Seperti Keluarga Besar

Prita Kemal Gani, pendiri & Chairman LSPR Communication & Business Institute
Prita Kemal Gani, pendiri & Chairman LSPR Communication & Business Institute

London School of Public Relations, atau LSPR, adalah salah satu perguruan tinggi swasta papan atas di Indonesia, khususnya di bidang komunikasi. Lembaga pendidikan tinggi yang berpusat di kawasan Sudirman Park, Jakarta Selatan, ini telah berusia 28 tahun, dan sudah mengembangkan sayapnya ke Bali dan Bekasi.

Saat ini, LSPR mengelola 525 karyawan, termasuk para dosen, dan menjadi tempat belajar bagi sekitar 5.000 mahasiswa. Jumlah lulusannya sudah lebih dari 20.000 orang, dan banyak yang menempati posisi penting, baik di lembaga pemerintahan, BUMN, mapun perusahaan swasta di berbagai sektor industri.

Keberhasilan LSPR tersebut tak lepas dari tangan dingin Prita Kemal Gani, pendiri & Chairman LSPR Communication & Business Institute, yang menerapkan caring leadership dalam memimpin perguruan tinggi tersebut. Dalam mengelola tim, terutama dalam hal mengembangkan timnya agar terus maju dan memberikan masukan kepada mereka, peraih Ernst & Young  Entrepreneurial Winning WomenTM  Asia-Pacific 2015 ini mengutamakan untuk mengenal dengan detail tiap orang secara pribadi. Sebab, menurut Prita, bisa saja seseorang bagus di satu pekerjaan atau di posisi tertentu, tetapi ketika dirotasi, tidak berhasil.

“Saya yakin, bukan dia tidak mampu. Saya selalu memastikan anak buah saya tidak gagal. Sebab kalau anak buah saya gagal, artinya saya juga gagal, seluruh tim gagal. Organisasi saya analogikan seperti bangunan, jika ada yang rusak, lama-lama bisa runtuh. Maka, kami harus segera bantu dengan dukungan buddy system,” ia mengungkapkan.

Dengan adanya buddy system, ia memastikan setiap tim ada buddy-nya. Menurut Prita, adanya backup ini bisa menyelamatkan organisasi dalam jangka panjang. “Memang jadi banyak deputi. Di eranya milenial ini, deputi di LSPR banyak yang muda, organisasi jadi energik, dan mereka berani ambil risiko. Karena itu, buddy-nya harus yang berpengalaman agar berimbang,” katanya. Buddy system ini pun diterapkan pada mahasiswa LSPR. Dalam kelas dibentuk organisasi dengan posisi president, vice president, dan class officer, sehingga dalam organisasi LSPR satu sama lain terkoneksi.

Di samping itu, Prita membuat suasana di LSPR seperti di rumah sendiri. Ia memahami bahwa orang yang bekerja lebih banyak waktunya di tempat kerja. Maka, Ketua Perhimpunan Hubungan Masyarakat 2011-2014 ini tidak ingin orang bekerja di LSPR tidak nyaman. “Jangan sampai bekerja itu seperti mimpi buruk. Jadi, saya selalu membuat lingkungan yang menjadikan tim rindu bertemu teman di kantor karena seperti keluarga,” ia menuturkan.

Caranya, pertama, membuat katering walau sederhana, sehingga menjadikan timnya bisa makan bersama. Kedua, menciptakan ruang kampus seperti rumah, dibuat secantik mungkin agar betah. Karena itu, office boy/girl di LSPR jumlahnya banyak; sekitar 60% dari total karyawan adalah maintenance crew, agar selalu tersedia kopi, toilet bersih, ruangan rapi, dsb. “Sekarang dengan kondisi work from home, banyak yang ‘curhat’, rindu kampus. Ini membuktikan eratnya hubungan kami,” ungkapnya.

Dengan lingkungan yang dibuat nyaman, menurut Prita, timnya bisa bekerja maksimal. Bahkan, tim bisa mengusulkan seperti apa interior kampus yang menarik. Mereka diizinkan membawa perlengkapan yang dibutuhkan ke kampus, seperti lampu atau bantal. Untuk diketahui, kampus LSPR di Bekasi ada ruang istirahat, jadi bisa tidur siang di kampus.

“Saya tahu sekarang eranya open office, orang bisa duduk di mana yang dia suka. Dengan suasana yang hangat, di kantor orang jadi feel like home,” katanya. Tak mengherankan, yang bekerja di LSPR memang loyal. Banyak yang sudah lama bekerja di perguruan tinggi yang dipimpinnya itu, bahkan banyak yang sudah 28 tahun, sama dengan usia LSPR.

Prita mengaku terbiasa bekerja dengan memo, membuat check list, sehingga setiap tugas ada catatannya. Ia punya catatan, yang diberi tugas pun demikian. Ini memudahkannya untuk melihat progress tugas yang diberikan kepada anggota timnya. Ia akan mencoret-coret jika ia tidak setuju bagaimana timnya merespons atau mengerjakan tugas tersebut. “Kalau saya masih coret-coret, berarti masih care,” ujarnya.

Namun, ia pun tak segan-segan menegur karyawan yang melakukan kesalahan. Menurutnya, jika ia masih bisa marah, memberikan kritik atau masukan, itu berarti ia masih memperhatikan timnya. “Tapi ketika orang itu sudah kelewatan, merusak tim, memberi contoh yang tidak baik, terjadi ketidakadilan, saya akan bertindak tegas. Tapi kondisi ini one of a million,” ia menandaskan.

Ia pun paham, semua manusia tidak luput dari kesalahan. Maka, jika tim berupaya memperbaiki kesalahannya, ia masih mau memberi kesempatan. “Saya bekerja berdasarkan riset, sebagai orang PR (public relations) memang harus demikian. Kalau ada orang yang demikian, saya akan tanya dan cari tahu dulu, memberi waktu dan kesempatan lagi,” ungkapnya.

Menurut Prita, banyak karyawan yang bukan hanya lama bekerja di LSPR, tetapi ada juga anak-anak mereka yang  kuliah gratis dan bekerja di kampus ini. “Ada lho office boy di LSPR, anaknya kuliah di sini hingga S-2, bekerja di kampus ini dengan posisi bagus, ayahnya tetap jadi office boy,” katanya. Inilah yang diyakininya membuat LSPR berumur panjang. “Saya lebih mengutamakan sustainability business. Tiap tahun kami selalu menambah program studi baru, jadi ada yang memikirkan product lifecycle. Ada kampus baru, dan ada cabang di Bali,” ia menerangkan.

Emilya Setyaningtyas, M.I.Kom, Head of Communication & Reputation Department LSPR Communication & Business Institute, mengungkapkan, Prita adalah seorang wanita yang memiliki mimpi besar, semangat tinggi, dan selalu menaruh perhatian terhadap karyawan. “Ibu selalu menyapa karyawan yang dia temui, kemudian tidak lupa menanyakan kabar istri dan anak karyawan,” kata Emilya.

Menurutnya, Prita menyediakan waktu yang cukup untuk karyawan. Biasanya dilaksanakan meeting reguler bersama tim manajemen terkait kebijakan baru, adanya perubahan, pengambilan keputusan bersama, serta pembagian tugas demi mengembangkan kemajuan LSPR. Meeting dilaksanakan tidak hanya secara tatap muka, tetapi juga sering secara online, melalui surat elektronik, chat personal WhatsApp, chat grup WA, dan via telepon.

Tak hanya pertemuan formal, pertemuan nonformal juga sering dilakukannya. Prita sering mengundang lunch, tea time, menonton bersama, olahraga bersama. “Di sela nonformal meeting tersebut, Ibu Prita bersama manajemen dapat bertukar ide & pikiran, brainstorming, bahkan sering Ibu Prita juga menanyakan kabar keluarga, dan sebagainya,” ungkap Emilya sambil tertawa. Sementara, untuk dosen, tambahnya, Prita juga sering membuat event gathering, Lecturer Convention, dan baru-baru ini dibuat selama tiga hari khusus pertemuan dosen dan asisten dosen.

Menurut Emilya, Prita memiliki insting yang begitu kuat dalam memilih tim yang terbaik bagi dirinya & LSPR. “Ia dapat melihat potensi dan kemampuan yang dimiliki timnya, serta dapat mengembangkannya sehingga potensi tersebut dapat bermanfaat bagi tim dan dapat memajukan LSPR,” kata wanita yang mendapatkan kepercayaan menempati posisi sebagai Kepala Departemen Communication Reputation di usianya yang masih 28 tahun ini.

Dan, seperti diungkapkan Prita, kebanyakan mereka yang menempati posisi penting di LSPR merupakan lulusan LSPR juga. Ini menjadi cita-citanya, agar terbangun kultur korporat di LSPR. Prita mengaku banyak belajar bagaimana The Swan, sekolah balet di Rusia, membangun kultur korporatnya. Mereka menghasilkan lulusan balerina terbaik yang kemudian menjadi bagian penting dalam manajemen. Tidak mengherankan, The Swan menjadi sekolah balet nomor satu dunia. “Saya ingin LSPR demikian, walau saya makin tua, tapi LSPR tetap muda dengan tim yang kuat kulturnya,” ia menegaskan.

Prita mengaku gaya kepemimpinannya banyak dipengaruhi didikan ibunya. Ia dibesarkan orangtua tunggal karena ayahnya meninggal ketika ia masih kecil. Dan, ia meyakini, gaya kepemimpinan lahir seiring pendidikan yang diterimanya di rumah.

“Bagaimana orang tua membesarkan, serta lingkungan membentuknya. Saya setuju, walau sekarang sudah tidak terlalu dilihat, soal bibit, bebet, bobot. Ini upbringing dalam keluarga. Saya terlahir dari seorang ibu dari Padang, yang memiliki latar matriarkat, jadi anak perempuan harus bisa segalanya. Anak perempuan harus bisa mengurus saudara laki-lakinya, pengambil keputusan, kebanyakan perempuan yang dibesarkan dengan latar seperti itu jadi perempuan kuat,” Ketua ASEAN Public Relations Network ini menuturkan.

“Ibu saya itu pekerja keras, mulai dari membuka kos-kosan, jualan kue, sampai punya hotel dan banyak usaha lain. Saya melihat ibu saya selalu mengembangkan usahanya. Ini pun mendidik saya, bahwa bisnis tidak bisa berhenti di satu titik, apa lagi ya, apa lagi ya,” ia bercerita.

Hal itu menjadikan Prita terus mengembangkan inovasi dan kreativitas dalam membangun LSPR. Tidak pernah puas di satu titik. “Saya harus terus bergerak, mengembangkan inovasi, karena makin hari yang menjadi tanggungan saya makin banyak di LSPR. Selain karyawan, juga keluarganya, makanya saya harus selalu berpikir peluang baru agar kami bisa bertambah kesejahteraannya,” kata Prita tandas.

Dengan latar belakang seperti itu, sekarang tak masalah baginya memiliki bawahan profesor, doktor, bahkan usainya jauh di atas dirinya karena sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu. Ibunya mengajarkan, melalui contoh sehari-hari juga, bagaimana ia mengelola banyak orang (keluarga). “Ibu saya mencontohkan bagaimana mengelola hubungan dan memperhatikan bukan cuma kakak, adik, tapi juga sepupu, om, dan keluarga lain,” katanya. Maka, Prita mengelola timnya di LSPR seperti layaknya mengelola keluarga besarnya. Ia mengaku bukan saja memperhatikan timnya, tetapi juga hingga istri dan anak-anak karyawannya.

Bagi Prita, laki-laki ataupun perempuan dalam hal kapabilitas, empati, ataupun caring, sama. “Kelebihan perempuan, mungkin ini dikasih Tuhan, memang lebih detail, laki-laki tidak go into detail. Perempuan dikenal bawel, suka remeh temeh. Justru hal-hal seperi ini yang membuat hal kecil jadi terlihat penting yang semula tidak dilihat orang lain,” tutur ibu tiga anak ini. Dalam organisasi, gaya perempuan yang sangat detail dalam melihat suatu hal, menurut Prita, sangatlah bermanfaat. (*)

Herning Banirestu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)