Shandy Purnamasari, Prioritaskan Keselamatan Karyawan dan Berikan Bantuan untuk Masyarakat

Shandy Purnamasari, pendiri MS Glow.
Shandy Purnamasari, pendiri MS Glow.

Pada September 2020, MS Glow membukukan penjualan lebih dari 2 juta produk per bulan dengan kategori produk mencapai 3 juta stock keeping unit (SKU). Keberhasilan ini tercapai berkat optimalisasi strategi omnichannel. Portofolio bisnis terus bertambah, dari sekadar menjual produk hingga memiliki pabrik sendiri. Dalam waktu singkat, MS Glow berekspansi tidak hanya menjangkau pasar Indonesia, melainkan juga pasar luar negeri.

Kesuksesan MS Glow tak lepas dari kemampuannya dalam membaca peluang dan memanfaatkan momentum serta upayanya mengaktivasi komunikasi pemasaran secara gencar di media sosial pada era pandemi. Para mitra yang tergabung sebagai reseller juga rajin menggunakan kanal digital untuk memasarkan produk MS Glow. Jumlah reseller MS Glow mencapai 50 ribu orang, mayoritas kaum perempuan.

Guna mendongkrak penjualan di masa pandemi, MS Glow menggandeng artis dalam promosi, antara lain Raffi Ahmad, Nagita Slavina, dan Sarwendah. Para duta merek (brand ambassador) ini juga dilibatkan dalam memperkenalkan produk-produk terbaru: MS Glow Beauty dan Body Lotion Maskulin dari MS Glow for Men.

Pelaku bisnis merespons kondisi kelaziman baru (new normal) sebagai peluang mengembangkan penjualan dan meluncurkan produk inovatif sesuai dengan tren dan keinginan konsumen. Shandy Purnamasari, pendiri MS Glow, mengatakan, beragam cara diterapkan dalam menghadapi masa pandemi ini, antara lain beradaptasi dalam menangkap peluang bisnis. “Pandemi ini berdampak luar biasa untuk seluruh pihak,” Shandy mengakui.

Salah satu tantangan terbesar di era pandemi ini, menurutnya, adalah permintaan pasar yang semakin tinggi dan terus meningkat yang melampaui prediksi manajemen. “Sehingga, kami perlu mengatur perencanaan supaya kapasitas pabrik kami lebih besar lagi untuk dapat memenuhi membludaknya permintaan pasar. Oleh karena itu, kami bangun dua pabrik baru yang berada di Bekasi dan Surabaya dengan kapasitas produksi yang lebih tinggi,” ungkapnya.

Di masa ini, lanjut Shandy, kesehatan dan produktivitas karyawan merupakan prioritasnya. Pelaku bisnis merespons kondisi new normal sebagai peluang mengembangkan penjualan dan meluncurkan produk inovatif sesuai dengan tren dan keinginan konsumen.

Yang dilakukan Shandy, misalnya, mengembangkan usaha klinik kecantikan, menyediakan aplikasi untuk konsultasi online, dan meluncurkan masker yang sudah melalui uji dermatologi. Masker ini dibuat setelah mengamati permasalahan munculnya jerawat yang diakibatkan penggunaan masker.

Di aspek operasional dan internal perusahaan, Shandy memastikan keselamatan karyawan dan keluarganya hingga menyiapkan vaksinasi pegawai. Ia mengatakan, kesehatan karyawan merupakan prioritas utama yang diwujudkan dengan memberikan tunjangan kesehatan, melakukan tes usap (swab) untuk seluruh pegawai, serta menyediakan BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan.

“Tak hanya itu, kami juga bekerjasama dengan FWD Insurance untuk memberikan fasilitas rawat inap kepada karyawan. Karyawan yang melakukan perjalanan dinas untuk keperluan kantor juga kami support fasilitas kesehatan, seperti immune booster, tes swab, serologi, dan kami beri kesempatan istirahat atau WFH satu hari,” tuturnya.

Untuk meningkatkan motivasi karyawan, Shandy memberikan apresiasi kepada pegawai setiap bulan, berupa uang tunai atau produk yang disesuaikan dengan prestasi pegawai. ”Semakin baik prestasi perusahaan, reward yang diterima juga akan semakin meningkat. Dari sini karyawan menjadi terpacu untuk bekerja sebaik mungkin,” ungkapnya.

Untuk creating value, accelerate growth, and sustainability diperlukan integrasi dari seluruh elemen perusahaan. Maka, Shandy bersama seluruh pegawai mengimplementasikan budaya perusahaan sesuai dengan core values-nya agar selalu ada dalam benak setiap karyawan, yaitu CANTIK’S: Collaborative, Adventurer, No person Left Behind, Trust, Innovation, Knowledge & Serve.

Pandemi, menurut Shandy, meningkatkan empati dan keinginan MS Glow untuk membantu masyarakat. Sebagai contoh, dia menggagas program Jumat Barokah, dengan memberikan bantuan kepada masyarakat yang berdomisili di sekitar perusahaan, dan melaksanakan beragam kegiatan CSR melalui tim khusus yang diberi nama J99 Foundation.

“Kegiatan J99 Foundation mencakup pendidikan, sosial, dan kemanusiaan. Untuk bidang kemanusiaan, yaitu kegiatan sosial tanggap bencana yang dilakukan di Mamuju, Sulawesi Selatan, disusul Banjarmasin, Kalimantan Barat, dan yang terbaru di Dringu, Probolinggo, Jawa Timur. Kami ingin MS Glow dapat turut hadir di tengah masyarakat membantu mengurangi beban mereka,” Shandy menuturkan. Ini adalah bagian dari menjalankan empathic leadership ala Shandy di era pandemi ini.

Ke depan, MS Glow menyiapkan diri untuk beradaptasi di era Revolusi Industri 4.0 dan menuju era digital 5.0 “Pandemi ini membuat situasi cepat berubah, sehingga perusahaan dituntut untuk lebih adaptif dalam menghadapinya. Terlebih, semua yang serba cepat saat ini didukung oleh digitalisasi di berbagai sektor. Untuk itu, perusahaan kami juga sedang dalam tahap untuk improving dari berbagai sektor untuk beradaptasi menuju era digital 5.0,” kata Shandy. (*)

Jeihan Kahfi Barlian & Vicky Rachman

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)