Mega Andalan Kalasan, Terapkan Manajemen Mutu dan Kembangkan Ekosistem

Buntoro, Chairman PT Mega Andalan Kalasan (MAK)
Buntoro, Chairman PT Mega Andalan Kalasan (MAK)

MAK adalah penyetor pajak terbesar di Kabupaten Sleman dari 2014 hingga sekarang,” kata Buntoro dengan nada bangga. MAK, singkatan PT Mega Andalan Kalasan, adalah produsen alat-alat kesehatan, terutama buat rumah sakit (RS), yang didirikan Buntoro.

Buntoro mengaku predikat penyetor pajak terbesar sekabupaten lebih membanggakannya ketimbang pencapaian MAK atas ukuran produksi atau business size tertentu. Alasannya, sebagai pembayar pajak terbesar, berarti MAK sudah menjadi usaha yang memberikan dampak cukup nyata bagi negara. Dan, predikat tersebut rupanya menjadi cita-cita Buntoro, sejak Soeharto, Presiden ke-2 RI, mulai memberikan penghargaan kepada pengusaha pembayar pajak tertinggi pada 1990-an.

Daftar pembayar pajak terbesar itu sampai saya pajang di samping meja kerja saya, sebagai pemicu semangat,” kata Chairman MAK ini seraya tertawa. Ia yakin suatu ketika akan masuk dalam daftar tersebut.

Meski dua tahun terakhir kondisi bisnis kurang menggembirakan, Buntoro mendorong agar bisnis MAK bisa menembus angka triliunan rupiah. Ia dan timnya telah membuat perencanaannya. “Kalau sudah tercapai pada 2022, saya yakin MAK akan menjadi penyetor pajak terbesar di (Provinsi) Daerah Istimewa Yogyakarta,” katanya.

Saat ini, MAK memiliki kapasitas produksi maksimum senilai Rp 600 miliar. Untuk mencapai omset bisnis Rp 1 triliun, setidaknya kapasitas produksinya harus dinaikkan minimal senilai Rp 1,5 triliun.

Buntoro mengatakan, pihaknya tidak bisa sembarang memancang target tinggi, kapasitas pabriknya tidak bisa digunakan 100%. Alasannya, industri peralatan kesehatan ini bersifat seasonal juga. “Ini tergantung pada anggaran pemerintah juga, karena klien-klien kami banyak dari kalangan RS pemerintah,” katanya.

MAK yang kini diperkuat sekitar 650 karyawan memiliki kapasitas produksi tempat tidur (bed) untuk RS –merupakan produk utamanya-- 100 ribu unit per tahun. Menurut Buntoro, kapasitas sebesar ini merupakan yang terbesar di Indonesia dan masuk 10 besar di dunia.

Adapun output dari kapasitas produksinya itu maksimum 60-80%. Mayoritas produknya diarahkan untuk pasar lokal, dengan menggunakan merek MAK. Sisanya ditujukan untuk melayani pemesan jasa maklun dan diekspor. Menurut Buntoro, saat ini porsi ekspor MAK hanya 20% dari total penjualan, dengan komposisi 15% menggunakan merek luar dan 5% memakai merek MAK.

MAK sudah mengekspor produknya ke sekitar 30 negara. Istimewanya, MAK mampu menembus pasar peralatan rumah sakit di Jepang, yang terkenal dengan perhatiannya pada kualitas produk. Bahkan, Negeri Sakura ini hingga kini merupakan pasar ekspor utama MAK. “Yang membuat sebuah merek itu bagus terutama adalah kualitas. Kedua, layanan pascajual terbaik,” kata Buntoro menandaskan.

Setiap minggu MAK mengekpsor rata-rata lima kontainer bed RS ke Jepang. Satu kontainer berisi 80-100 unit bed. Nilai ekspor ke Jepang tahun lalu sekitar US$ 3 juta.

Adapun nilai ekspor total ke berbagai negara mencapai US$ 3,5 juta. Target total ekspor MAK tahun 2019 ini US$ 5 juta, setara dengan sekitar 30 ribu unit bed. “Karena, ada komitmen permintaan dari Jepang yang besar,” ujar Buntoro. Selain Jepang, MAK baru saja memenangi tender dari Pemerintah Tanzania senilai hampir US$ 1 juta, berupa 500 unit meja operasi untuk memenuhi kebutuhan unit health center (seperti puskesmas) di negara di Afrika itu.

Untuk memenuhi permintaan yang besar dari pasar Jepang, MAK sampai merasa perlu menyediakan satu lini produksi, berupa sebuah pabrik, yang diresmikan Menteri Kesehatan pada tahun lalu. Pabrik khusus pasar Jepang ini berkapasitas terpasang sekitar 10 kontainer bed per minggu. Total ada enam pabrik yang dimiliki dan dioperasikan MAK, dengan luas keseluruhan 12 hektare. Semuanya berlokasi di Kabupaten Sleman, DIY.

Agar bisa menambah kapasitas produksi, MAK meningkatkan penerapan teknologi fabrikasi modern, yakni otomasi, selain menambah karyawan. “Dengan teknologi otomasi, kecepatan proses bisa mencapai 10 kali lipat dibandingkan dengan mesin biasa,” ungkap Buntoro. Artinya, ada perbaikan proses. Misalnya, dulu memotong besi dengan alat sederhana, sekarang sudah menggunakan laser. MAK sejauh ini baru melakukan otomasi, belum robotasi proses. Namun, standar manajemen mutu kelas dunia, ISO 9001, sudah diterapkan MAK.

Menurut Buntoro, langkah MAK untuk berkomitmen berinvestasi dalam perbaikan proses bisa memberikan kepercayaan pada distributornya, terutama Enseval. “Dengan nama besarnya sebagai distributor terkemuka, mana mungkin mereka mau mengambil barang yang tidak berkualitas,” katanya.

Harga yang kompetitif, menurut Buntoro, juga menjadi kekuatan MAK. ,Bahkan untuk level dunia. MAK bisa melakukannya karena terbantu oleh kapasitas produksi dan efisiensi produksinya. “MAK is the most competitive hospital bed manufacturing in the world,” katanya yakin.

Sebagai jawara industri, target MAK ke depan bukan sekadar membesarkan bisnis peralatan kesehatan, tetapi lebih besar lagi, yaitu membangun industri baru, yang diharapkan demand-nya lebih besar dibandingkan industri yang sudah ditekuninya. “Akhir tahun ini saya targetkan akan lahir industri baru, tapi saya belum bisa buka (infonya) sekarang,” ujarnya seraya tersenyum.

Cita-cita Buntoro lainnya adalah menjadikan industri sebagai soko guru ekonomi di daerahnya, Sleman. Karena itulah, MAK membangun ekosistem industri, agar industri lain dan UMKM bisa tumbuh. “Saya yakin ekosistem seperti ini bisa mendorong pertumbuhan PDRB, seperti dicontohkan China yang punya banyak pusat industri,” katanya.

Dalam rangka membangun ekosistem itu, MAK mendirikan Pabrik Mega Andalan Komponen Logam. Sebagai unit bisnis, pabrik dengan dukungan teknologi pemotongan laser ini sudah menggaet omset tahunan Rp 66 miliar. Sebelumnya memang hanya dipakai untuk mendukung kebutuhan MAK. Namun, dengan kapasitasnya yang besar, mulai tahun ini dibuka juga industri lain, termasuk kalangan UMKM. MAK juga membangun pabrik Mega Andalan Komponen Plastik, industri electro-plating, industri pembuatan moulding, dan sebagainya.

Sebagai bagian dari ekosistem ini, MAK berupaya membantu mengembangkan SDM industri, dengan mendirikan Akademi Teknik Mega Andalan di Yogyakarta. Tiap tahun lebih dari 30 anak diberi beasiswa pendidikan plus uang saku. Di akademi ini, mereka diajari dasar-dasar mekanis secara praktis.

Saya percaya Indonesia bisa membangun industri sendiri,” kata Buntoro tandas. “Karena itu, saya menyiapkan SDM untuk mendukung industri Indonesia,” tambahnya. (*)

Joko Sugiarsono & Herning Banirestu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)