Sepeda Polygon, Melaju Kencang di Atas Lintasan Pasar Dunia

William Gozali, Direktur Insera Sena, produsen sepeda merek Polygon
William Gozali, Direktur Insera Sena, produsen sepeda merek Polygon

Gerak Polygon dalam lintasan pasar sepeda dunia tak terbendung lagi. Perusahaan sepeda dari Sidoarjo, Jawa Timur, ini semakin melaju di lintasan cepat pasar global. Tak kurang dari 30 negara berhasil dilampauinya dan lebih dari 60 negara mendapatkan pasokan produk original equipment manufacturer (OEM) darinya.

Demi memenuhi permintaan pasar lokal dan pasar global, sejak 2017 PT Insera Sena, produsen Polygon, memperluas pabriknya sehingga kapasitas produksi kini mencapai 1 juta unit sepeda per tahun. Menurut William Gozali, Direktur Insera Sena, jumlah produksi tersebut sesuai dengan kebutuhan merek Polygon yang memiliki sekitar 170 model dengan 300-an jenis; selain untuk OEM yang jumlahnya juga mencapai ratusan jenis.

Bagi William, yang terpenting bagaimana perusahaan menyiapkan mekanisme pemasaran dan penjualan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar untuk tiap model sepeda. Hal ini, diakuinya, membutuhkan kejelian melihat selera pasar. “Dengan strategi wing range product, kami dapat memenuhi kebutuhan segmen konsumen global, mulai dari pehobi, antusias, sampai dengan atlet,” katanya.

Yang tak kalah penting, menyangkut proses produksi Polygon yang harus memenuhi standar kualitas dunia. Untuk itu, dalam merancang produknya, Polygon selalu memperhatikan tren teknologi sepeda masa depan melalui pameran-pameran sepeda internasional. “Ini merupakan momentum kami untuk melihat dan mempelajari tren yang akan datang. Selain itu, kami juga mempertimbangkan masukan dari tim atlet dan influencer kami untuk menghasilkan produk yang berkualitas,” papar William.

Untuk proses produksinya, Polygon telah memiliki aturan main yang jelas dan tim pengembangan yang solid. Proses pengembangan mulai dari pembuatan sampel dan melakukan Quality Control untuk memastikan kualitas produk sebelum diproduksi secara masal, dilanjutkan dengan proses welding (pengelasan dari bahan baku membentuk kerangka sepeda), lalu proses painting dan pemasangan decal dari kerangka yang sudah jadi, dan yang terakhir adalah proses assembling untuk menggabungkan kerangka dengan komponen dan part, semua telah berjalan sesuai dengan SOP yang berlaku.

Justru konsentrasi kini lebih pada inovasi dalam tim riset dan pengembangan (R&D). Seperti diketahui, Polygon dirancang oleh Ripple Coalition Team yang terdiri dari para teknisi dan tim kreatif yang berbasis di Jerman, Prancis, Amerika Utara, dan Asia. “Tim R&D kami memiliki background dan pengalaman di bidangnya,” kata William bangga. Menurutnya, inovasi yang dilakukannya untuk mengakomodasi dan memenuhi tuntutan pasar sekaligus sebagai dedikasi untuk mengembangkan industri sepeda secara global.

Salah satu inovasi teknologi yang dihasilkan dan digunakan Polygon, juga diakui dunia, adalah Floating Suspension System yang lahir pada 2012 dan kini masuk ke generasi ke-3. Teknologi ini diakui media Jerman World of MTB sebagai teknologi yang otentik dan menyumbang inovasi teknologi MTB dunia. Yang terbaru, pada 2017 dan 2018 Polygon --dengan visi memberikan pengalaman bersepeda yang terbaik-- menghadirkan seri XQUARONE EX dengan inovasi desain suspensi terbaru yang diklaim sebagai pelopor di Indonesia, bahkan di dunia.

Kami sudah mengarah ke Industri 4.0,” William menegaskan. Ia mengatakan, untuk teknologi pabrik, Polygon sudah menggunakan teknologi Automated Storage Retrieval System untuk penyimpanan material part; menggunakan sistem SAP sebagai alat untuk membantu manajemen, perencanaan, electrostatatic painting system sehingga mempercepat dan mempermudah proses pengecatan sepeda; serta menggunakan automatic welding process untuk mempercepat proses produksi dari bahan baku menjadi kerangka sepeda. “Kami terus berupaya mengembangkan teknologi yang digunakan untuk dapat lebih efisien sesuai dengan perkembangan Industri 4.0,” katanya.

Diakui William, meski secara teknologi dan produksi benar-benar karya bangsa sendiri, komponennya saat ini sebagian besar masih diimpor karena terbatasnya pemasok lokal. “Kami berusaha supaya komponen impor datang dari negara ASEAN sehingga bisa memenuhi aturan Free Trade di beberapa negara. Sesuai dengan aturan ASEAN content, sebagian besar dari model sepeda kami sudah memenuhi aturan ASEAN content,” katanya menandaskan.

Pendeknya, sebagai pemain global, Polygon ingin memperkuat diri sebagai merek sepeda dunia dari Indonesia yang didukung oleh perusahaan berkualitas internasional. Polygon akan terus memperbaiki diri sehingga bisa membuat produk yang relevan bagi pasar. Dengan makin dinamisnya permintaan konsumen terhadap teknologi sepeda, Polygon pun harus bisa menghadapi tuntutan mereka. Selain itu, dengan makin canggihnya teknologi manufacturing, diperlukan kesiapan menerima perubahaan industri saat ini yang sedang mengarah ke Industri 4.0. Maka, dalam jangka pendek dan menengah Polygon akan tetap fokus dalam industri Sepeda. (*)

Dyah Hasto Palupi/Andi Hana Mufidah Elmirasari

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)