Sido Muncul, Setelah Kuasai Pasar Domestik, Ekspansi ke Filipina

Irwan Hidayat, Direktur Pemasaran Sido Muncul
Irwan Hidayat, Direktur Pemasaran Sido Muncul

PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. termasuk dalam jajaran perusahaan champion di Tanah Air. Sido Muncul meningkatkan skala bisnisnya, dari yang awalnya menjual jamu di warung atau bakul jamu menjadi skala industri. Perusahaan yang berdiri pada 1951 di Semarang, Jawa Tengah, ini mampu mengembangkan bisnisnya hingga meraih sukses. Sebut contoh, Sido Muncul mengekspor satu kontainer produk Tolak Angin yang menandai ekspor perdana ke Filipina di tahun 2018. Di dalam negeri, produk Sido Muncul mudah dijumpai konsumen di berbagai pelosok daerah.

Rahasia sukses perseroan menancapkan dominasi di dalam negeri terletak pada kepiawaian manajemen, terutama ide-ide brilian Irwan Hidayat, Direktur Pemasaran Sido Muncul, yang bertekad mengangkat industri jamu dari kelas rumahan menjadi industri modern yang tidak kalah dari industri farmasi dan industri lainnya.

Untuk mewujudkannya, menurut Irwan, tidak semudah membalikkan tangan. Terlebih lagi, pemain di industri ini sangat banyak, jauh melampaui jumlah pemain di industri obat. Industri farmasi pemainnya sekitar 200 dengan market size Rp 70 triliun-80 triliun, sedangkan di industri jamu ada 1.600 pemain. Industri farmasi juga masuk ke sini sehingga total market size industri jamu secara nasional hanya Rp 8 triliun-10 triliun per tahun. Sebab itu, kata Irwan, perlu effort yang besar agar Sido Muncul bisa menjadi perusahaan unggulan, yakni berupa dukungan inovasi, riset dan pengembangan, uji klinis, serta proses produksi berbasis Good Manufacturing Practice.

Sido Muncul mulai menerapkan teknologi maju dalam produksinya pada 1997. Kendati begitu, sejak 1990 perusahaan sudah menjalankan produksi berbasis penelitian atau ilmiah. “Hanya saja, waktu itu kami melakukannya dengan sederhana di pabrik lama Sido Muncul. Kami punya laboratorium kecil, dan kami manfaatkan maksimal. Kalau tidak bisa meneliti sendiri, minimal menggunakan riset atau jurnal ilmiah mengenai obat dan herbal,” papar Irwan yang merupakan cucu Rahkmat Sulistio, pendiri Sido Muncul. Dengan kata lain, embrio riset telah lama diterapkan perusahaan untuk menghasilkan produk yang berkhasiat tetapi aman dikonsumsi.

Pada 1997, Sido Muncul membuat pabrik baru di Ungaran, Jawa Tengah. Di pabrik ini juga dibangun lab modern seluas 3 ribu m2, dilengkapi peralatan yang sesuai dengan standar lab. Ada 200 karyawan R&D yang bekerja di lab. Kehadiran lab modern menandai babak baru perjalanan Sido Muncul karena sejak itu seluruh produknya dihasilkan melalui hasil uji lab yang dikembangkan divisi R&D. Ini pula yang menjadi momentum perjalanan Sido Muncul ke tangga sukses, mengingat semua produk yang diproduksi berpegang pada R&D, quality control, dan quality assurance. Divisi R&D mengembangkan dan menciptakan produk baru yang kualitasnya terjamin dan memastikan semua produk telah memenuhi syarat yang distandarkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan.

Proses produksi sudah mulai menggunakan teknologi otomasi, seperti dalam pembuatan produk Tolak Angin cair, soft capsule, dan Tolak Linu. Penerapan otomasi, menurut Irwan, bertujuan menghindari kesalahan manusia (human error), mengingat Sido Muncul sangat menjaga kualitas produknya. Otomatisasi juga bertujuan meningkatkan kecepatan produksi hingga 5-6 kali lipat. Selain itu, otomatisasi pun menjadi langkah perusahaan menyiapkan produk-produk inovatif untuk pasar masa depan.

Ketersediaan bahan baku menjadi hal yang urgent agar bisnis berjalan langgeng. Dalam hal pemenuhan pasokan bahan baku, sejak 30 tahun lalu perusahaan membuat jaringan hulu, yakni membangun tanaman obat secara industri dengan menggandeng petani sebagai kelompok binaan. Sekarang ada 120 kelompok tani di Jawa Tengah yang dibina Sido Muncul untuk memasok bahan baku. Langkah ini juga membantu meningkatkan ekonomi petani.

Perusahaan ini sudah lama mendorong ekspor, hanya saja porsinya masih kecil, yaitu 5%. Sebagian besar produknya memang dijual di pasar dalam negeri. Namun, Irwan berpendapat, produk ekspor menghadapi tantangan regulasi setempat (tujuan ekspor), sehingga butuh perhatian khusus. “Kami penuhi dulu saja kebutuhan lokal, sambil terus menggarap peluang ekspor. Tahun ini akan masuk Vietnam setelah Filipina,” Irwan menerangkan.

Alhasil, melalui serangkaian upaya yang dilakukan manajemen, bisnis Sido Muncul menuai hasil positif. Mengutip laporan keuangan perusahaan di Bursa Efek Indonesia, pendapatan Sido Muncul pada 2018 tercatat Rp 2,76 triliun, naik 7,38% dibandingkan tahun 2017 yang nilainya Rp 2,57 triliun. Dengan komposisi pendapatan kontribusi dari penjualan jamu herbal dan suplemen Rp 1,84 triliun, segmen penjualan makanan dan minuman menyokong Rp 819,50 miliar, lalu sumbangan dari segmen penjualan farmasi sebesar Rp 100,18 miliar. Laba bersih sepanjang tahun lalu itu senilai Rp 663,85 miliar, tumbuh 19,87% dari laba tahun sebelumnya.

Memasuki semester 1/2019, Sido Muncul mencatat penjualan bersih Rp 1,41 triliun atau naik 10,65% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 1,27 triliun. Produk jamu herbal dan suplemen memberikan kontribusi terbesar, yakni 66,88%, terhadap penjualan, diikuti produk makanan dan minuman 28,61%, dan farmasi 4,5%. Produk Tolak Angin dan Pegal Linu adalah pemimpin pasar dengan pangsa 50%.

Sebagai pengelola bisnis, Irwan masih meluangkan waktu untuk turun ke lapangan guna memantau kinerja tenaga penjualan, berdiskusi dengan tim R&D mengenai rencana pengembangan produk, juga mengawal pembuatan iklan Sido Muncul. Hal ini dicontohkan ke anak-anaknya tentang pentingnya pemimpin terlibat dalam setiap proses dan menekuni bisnis dengan baik. “Dalam berbisnis harus berniat baik, agar bisa menghasilkan hal baik,” Irwan menegaskan. (*)

Herning Banirestu & Vicky Rachman

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)