LIPI, Bergerak Cepat Berinovasi untuk Atasi Covid-19

Dr. Laksana Trihandoko, Kepala LIPI.

Sebagai lembaga negara yang tergabung dalam Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 di bawah prakarsa Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bergerak cepat untuk menghadirkan berbagai inovasi yang terkait dengan penanganan Covid-19. Bahkan, beberapa inovasi dari lembaga ini sudah diproduksi oleh perusahaan yang minjadi mitra konsorsium tersebut.

Dr. Laksana Trihandoko, Kepala LIPI, menjelaskan, salah satu inovasi lembaga ini adalah sinar ultraviolet-C (UV-C) dengan panjang gelombang 220 nm, yang mampu membunuh mikroba. Kemudian, ozon nanomist berbasis air yang diozonisasi dan disemburkan dalam ukuran nano, sehingga dapat digunakan sebagai disinfektan yang lebih aman dibandingkan klorin.

Menurut Laksana, keduanya sudah terbukti mampu membunuh bakteri, dan saat ini sedang uji virus, khususnya SARS-CoV2, sekaligus untuk menentukan dosis (jarak, lama, konsentrasi) paparan untuk berbagai jenis benda. Berbeda dengan disinfektan kimiawi, ini jauh lebih aman dan tidak menimbulkan polusi ataupun iritasi. Meski begitu, ia memperingatkan, tetap tidak direkomendasikan untuk langsung ke manusia, melainkan pada benda mati. UV-C dan ozon nanomist ini dilisensi oleh dengan Plasma Center Indonesia.

Inovasi LIPI lainnya adalah alat pendeteksi virus. Periset LIPI mengembangkan metode dan alat alternatif untuk mendeteksi virus di level molekuler, seperti uji PCR (polymerase chain reaction). Metode ini berbasis pada RT-LAMP (reverse transcription loop-mediated isothermal amplification) yang tidak membutuhkan mesin RT-PCR (reverse-transcriptase polymerase chain reaction). Ada dua metode yang dikembangkan, yaitu RT-LAMP berbasis turbudimetri yang melihat perbedaan kekeruhan, serta RT-LAMP berbasis kolorimetri yang melihat perubahan warna.

Menurut Laksana, RT-LAMP turbidimetri dapat memberikan hasil secara lebih cepat dan akurat, tetapi dengan metode yang lebih sederhana, sehingga seseorang dapat diketahui terinfeksi virus atau tidak secara lebih dini. RT-LAMP turbudimetri tersebut dalam proses validasi, dan akan diproduksi oleh PT BioSains Medika.

Sementara itu, sejak Maret 2020 LIPI telah memulai pelatihan personel BSL (biosafety lab) dengan total 808 orang. Pelatihan ini sangat urgent karena untuk memastikan ketersediaan SDM terlatih guna melakukan uji PCR sesuai dengan standar keamanan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dengan pelatihan ini, diharapkan peningkatan kapasitas uji virus nasional bisa dilakukan. Pelatihan personel BSL masih akan dilanjutkan pada Juli dan bulan-bulan selanjutnya.

Kemudian, ada alat pelindung diri (APD) berupa masker dengan komposisi Cu (tembaga) serta tekstil dengan lapisan nano-Ag (perak), yang sedang dalam proses finalisasi. Laksana mengatakan, meski saat ini sudah teruji sebagai antimikroba, baru dibuktikan dengan bakteri. Uji terhadap virus, khususnya SARS-CoV2, baru akan dilakukan.

Di samping itu, ada juga ventilator tipe HFNC (High Flow Nasal Cannula) yang dilisensi oleh mitra industri, PT Gerlink Utama Mandiri. Ventilator tipe ini untuk mencegah pasien tidak sampai gagal napas dan tidak harus diinkubasi menggunakan ventilator invasif dengan cara memberikan terapi oksigen beraliran tinggi. Lalu, untuk cairan disinfektan outdoor/indoor, serta hand sanitizer sesuai dengan standar WHO, diproduksi dengan mitra, antara lain PT Danone Indonesia.

Tak berhenti di situ, LIPI juga sedang melakukan uji klinis OHT (obat herbal) dan fitofarmaka, termasuk immunomodulator di RSDC Wisma Atlet, yang merupakan uji klinis multi center clinical trial pertama di Indonesia. Laksana menjelaskan, saat ini yang diuji ada dua formula, yaitu yang berbasis cordyceps (jamur asal Himalaya) yang sudah dibudidayakan di Indonesia, serta ramuan ripang jahe, sambiloto, dan meniran yang asli Indonesia.

“Melalui uji klinis ini, kita akan membuktikan apakah herbal Indonesia mampu menjadi obat bagi penderita COVID-19 skala ringan-sedang. Bila terbukti, ini akan membuka ekonomi baru berbasis herbal Indonesia,” kata Laksana. Kedua formula yang diujikan tersebut sudah beredar di pasaran, tetapi masih sebatas sebagai herbal suplemen dan diproduksi oleh Grup Kalbe.

Di luar hasil inovasi yang telah disebutkan di atas, Laksana mengungkapkan, saat ini LIPI juga sudah memulai kultur virus dalam skala besar untuk aneka uji kelak. Juga, dipersiapkan animal BSL-3 yang sangat diperlukan untuk uji praklinis berbagai vaksin yang dikembangkan oleh berbagai pihak, termasuk Eijkman dan LIPI. Selain itu, LIPI bersama Kalbe Farma dan perusahaan lainnya akan terlibat pula dalam uji klinis fase 2 dan 3 untuk vaksin berbasis gen yang dikembangkan oleh Genexyne dari Korea Selatan. Keterlibatan LIPI dalam berbagai aktivitas pengembangan vaksin di berbagai fase ini perlu untuk memastikan bahwa Indonesia memiliki akses ke semua kandidat vaksin di dunia. (*)

Anastasia Anggoro Suksmonowati

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)