Supra Boga Lestari, Siapkan Strategi Baru dan Terus Berinovasi

Meshvara Kanjaya, CEO PT Supra Boga Lestari Tbk. (SBL).
Meshvara Kanjaya, CEO PT Supra Boga Lestari Tbk. (SBL).

Pandemi Covid-19 memaksa pelaku bisnis melakukan berbagai langkah strategis untuk survive menghadapi krisis ini. Selain itu, mereka juga mempersiapkan strategi baru menuju kondisi normal yang baru. Hal ini pun dilakukan PT Supra Boga Lestari Tbk. (SBL) yang terus melakukan penyesuaian sejak wabah ini menyebar di Indonesia. Saat ini SBL mengelola ritel Ranch Market dan Farmers Market, serta melalui merek anak usaha mengembangkan The Gourmet by Ranch Market dan Day to Day by Farmers Market.

CEO SBL Meshvara Kanjaya menjelaskan, pandemi ini memperlihatkan bahwa manusia sebenarnya tidak bisa hidup independen. Pandemi ini juga memaksa banyak perubahan, orang lebih banyak di rumah sehingga tentu berdampak ke bisnis-bisnis di Indonesia. Terlebih, banyak bahan baku yang masih diimpor, dan negara lain menahan bahan baku yang mereka miliki. “Kami, sebagai pengelola ritel, memang sudah menyiapkan cadangan satu bulan ke depan, jadi aman,” katanya.

Perempuan yang akrab disapa Mei ini mengungkapkan, sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan dua pasien pertama di Indonesia pada 2 Maret 2020, gerai-gerai SBL langsung diserbu pengunjung. Menariknya, yang banyak dibeli adalah makanan kalengan. Padahal, dalam kondisi normal, makanan kalengan tidak terlalu tinggi pembeliannya. “Penjualannya lebih dari dua kali lipat. Selain makanan kalengan, yang diserbu pembeli juga tisu, hand sanitizer, masker, makanan beku, dan mi instan,” katanya.

Dengan berjalannya waktu, hand sanitizer dan masker sudah tidak terlalu habis-habisan dibeli. Ini karena ada sosialisasi bahwa hand sanitizer ternyata bisa dibuat sendiri, dan masker untuk yang sehat bisa dengan masker kain.

Pihaknya pun selalu mengedukasi pembeli agar tidak panic buying dan membatasi penjualan produk-produk yang diserbu pembeli. Di gerai-gerainya juga dilakukan protokol pencegahan Covid-19, seperti membuat marking untuk social distancing, membatasi pembeli di dalam toko hanya 100 orang, dan mengontrol temperatur tubuh pengunjung toko.

Bagi pengunjung disiapkan tempat duduk berjarak agar bisa menunggu dengan nyaman sebelum masuk ke toko. “Kasir kami perlengkapi dengan face shield,” kata Mei. Bahkan, sejak 2 Maret lalu perusahaan sudah menerapkan protokol kesehatan untuk menjaga karyawan tetap sehat dengan memberi vitamin C, wedang empon-empon, buah-buahan, dan tentunya masker, sarung tangan, serta face shield.

Dengan pengelolaan yang ketat, Mei bersyukur tidak ada pengurangan karyawan (PHK) dan tidak ada pengurangan gaji karyawan. “Kami pun tetap memberikan THR, walau kami harus berkurang keuntungannya. Karyawan kami bisa menghidupi minimal empat orang. Dengan lebih banyak berbagi, ini hal terkecil yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan orang,” ia menjelaskan.

Langkah-langkah CSR pun dilakukan perusahaan. Sejak awal Mei, setiap pembeli yang berbelanja sebesar Rp 600 ribu di gerai-gerainya, Rp 20 ribu dari pembelian tersebut diserahkan untuk bantuan sosial sembako kepada 3.500 keluarga yang terkena dampak Covid-19.

Sebelumnya, perusahaan juga menyerahkan bantuan 600-an alat pelindung diri (APD) ke RSUD Kalideres, Puskesmas Jatinegara, Puskesmas Kelapa Gading, Puskesmas Cilandak, dan Kantor Wali Kota Jakarta Barat. Mei mengingatkan bahwa demam berdarah juga mengancam nyawa masyarakat selain corona saat ini. Maka, perusahaannya pun mengadakan fogging seputar gerai-gerai yang stand alone.

Mei pun mengungkapkan kinerja bisnisnya. Tanpa menyebut detail angka, sebenarnya pendapatan SBL di bagian bottom line naik walau tidak setinggi top line kenaiknya. Seperti pada Maret 2020 peningkatan penjualannya di atas 50%. “Tapi, sayangnya April dan Mei sudah mulai terjadi penurunan. Bisa jadi karena daya beli turun, masyarakat mulai menghemat pengeluaran,” katanya.

Adanya pandemi Covid-19 membuat pihaknya merasakan betapa menjaga kepercayaan pelanggan menjadi kunci perusahaan saat ini. “Kami telah lama membangun kepercayaan customer melalui standar ISO, melakukan quality control sekali sebulan di setiap toko. Tidak mengherankan, pada awal Maret sampai kami di-rush pelanggan,” Mei menuturkan.

Saat ini yang dilakukan perusahaan ialah memastikan stok barang di gerai-gerai yang dikelolanya aman. Dan untuk mengamankan stok itu, harus meningkatkan inventory, dan ini adalah biaya tambahan.

Supplier yang mengalami kesulitan keuangan, kami percepat pembayarannya. Biasanya kami bayar dalam sebulan. Untuk supplier yang barangnya kami butuhkan, pembayarannya dipercepat. Yang penting, kami harus memastikan stok barang harus aman,” Mei menjelaskan. Diakuinya, sejak tahun lalu pihaknya sudah menjalankan upaya agar cash flow tetap terjaga agar perusahaan stabil.

Di masa pandemi corona ini, pihaknya juga melakukan berbagai penyesuaian. “Seperti dalam hal ekspansi, kami tahan pembukaan gerai. Rencananya kalau tidak ada Covid-19, akan buka 10-12 gerai. Mungkin sampai akhir tahun paling hanya 6-7 gerai,” ungkap Mei.

Perusahaan pun mulai membuka layanan pembelian via WhatsApp dan mendorong layanan e-commerce yang sudah ada, yaitu KeSupermarket.com, untuk melayani pemesanan dan pengiriman langsung ke rumah. Pelayanan pemesanan dan pengiriman ini ada di seluruh Ranch Market dan Farmers Market di Indonesia.

Selain itu, pihaknya juga terus memberikan inspirasi kepada pelanggan dengan membuat Cooking Class online melalui berbagai media sosialnya dengan menggandeng para chef berpengalaman. “Saya selalu ingatkan ke tim, jangan puas, harus terus mencari inovasi sebagai jalan terbaik dalam kondisi ini,” katanya tandas. (*)

Herning Banirestu dan Dede Suryadi

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)