Viva Cosmetics, Dorong Penguatan Produk Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga

Yusuf Wiharto, Direktur PT Moga Djaja.
Yusuf Wiharto, Direktur PT Moga Djaja.

Sebagai pelopor kosmetik dari Surabaya, PT Vitapharm yang memproduksi Viva Cosmetics termasuk perusahaan yang berhasil menjaga eksistensinya sebagai produk perawatan dan kecantikan yang sesuai untuk daerah tropis selama lebih dari 55 tahun. Berdiri sejak 1962, perusahaan farmasi ini sebenarnya beberapa kali berpindah kepemilikan. Namun, hingga sekarang terbukti berhasil mempertahankan keberadaannya, bahkan terus berkembang mengikuti perubahan dan perkembangan zaman. Viva Cosmetics sukses melampaui zaman walau beberapa kali dihadang badai krisis ekonomi yang menerjang negeri ini.

Kali ini, badai krisis pandemi corona menghampiri dunia usaha dan hampir semua lini bisnis di Tanah Air. Namun, Yusuf Wiharto; salah seorang penerus yang menjadi Direktur PT Moga Djaja, perusahaan distribusi Viva Cosmetics untuk wilayah Timur, mengaku tidak khawatir.

“Kesulitan yang kami hadapi tidak banyak. Produksi kami masih berjalan, supply bahan tidak berkurang, meskipun demand-nya berkurang karena banyak wanita di rumah saja, tidak berdandan,” ungkap Yusuf ringan. Menurut dia, meskipun industri kosmetik secara nasional menurun, karena produknya memasyarakat, Viva Cosmetics tidak terlalu mengalami penurunan tajam.

Namun, dalam situasi sekarang pihaknya tidak berdiam diri saja. Yang dilakukannya sebagai upaya survival adalah memperkuat penjualan hand sanitizer. “Banyak yang belum tahu bahwa ternyata Viva Cosmetics memiliki produk ini. Memang dulu hand sanitizer ini hanya untuk internal. Tapi di situasi ini, kami jual lebih luas,” kata Yusuf. Pihaknya mendorong penguatan penjualan hand sanitizer yang kini termasuk dalam kategori Produk Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT).

Penguatan tidak hanya dalam produksi, tetapi juga dalam strategi penjualan. Seperti pemain lainnya, pihaknya pun mengandalkan penjualan online, walaupun porsinya belum sebanyak penjualan ritel. Bagi Yusuf, yang penting sekarang, membuka kanal seluas-luasnya, baik secara online maupun offline.         

“Tahun ini jangan cerita untung atau rugi. Utamakan bisa hidup lalu berkembang, tapi harus berpikir cara bagaimana bisa hidup. Jangan cerita tentang berkembang, tahun ini adalah tahun pelindung nyawa. Jika suatu instansi bisa bertahan hidup, instansi tersebut sudah beruntung,” katanya filosofis.

Komitmen untuk mempertahankan kehidupan perusahaan dan seluruh karyawannya dibuktikan dengan tidak berencana merumahkan karyawan. “Kami hanya meniadakan jam lembur dan mengefisienkan outsourcing yang tidak sampai 5%. Selama WFH, kami terus memotivasi karyawan untuk terus berpikir positif dan kreatif,” kata Yusuf tandas.

Vitaphram juga belum ingin memikirkan strategi pascacorona. “Biarlah situasi ini kami lalui. Kami lihat sikonnya terlebih dahulu. Kami tidak bisa langsung berlari dengan brand dan produk baru tanpa tahu kondisi pasar,” dia menegaskan.

Kini yang penting adalah menggencarkan pemasaran online, walaupun untuk saat ini hasilnya belum sebanding dengan penjualan ritel. Yusuf yakin, industri kosmetik pasti akan bersaing sangat ketat setelah rebound. “Namun, dengan adanya persaingan yang sehat, saya kira itu baik karena bisa memacu diri kita untuk berbuat lebih baik lagi,” kata Yusuf, berusaha berpikir positif. (*)

Dyah Hasto Palupi dan Andi Hana Mufidah Elmirasari

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)