Anthony Setiawan , Dorong Transformasi Gradual di Perusahaan

Anthony Setiawan (35 tahun), Presiden Direktur PT Duta Abadi Primantara (DAP)

PT Duta Abadi Primantara (DAP) merupakan perusahaan pemegang lisensi matras premium dari Amerika Serikat, yaitu merek Aireloom, King Koil, dan Serta. DAP juga merupakan distributor tunggal merek Tempur dari Eropa sejak 2005. Selain itu, DAP pun menjadi produsen matras Florence untuk pasar menengah-bawah serta Simply untuk pasar online sejak 2017. Florence dan Simply adalah merek yang diproduksi sendiri oleh DAP.

Berdiri sejak 1990, bisnis DAP dimulai dengan menjual produk Florence. Dan, pada 1995 mendapat lisensi untuk King Koil. “Kami tidak ingin bermain di harga, tapi di kualitas,” ungkap Anthony Setiawan (35 tahun), Presiden Direktur DAP. Perusahaan ini didirikan oleh Andreas Wihardja dan Hendry Setiawan (65 tahun), ayah Anthony. Kedua pendiri DAP ini merupakan teman sejak muda yang bertemu sebagai profesional di Jakarta. “Pak Hendry dari Bogor, dan Pak Andreas dari Bandung. Keduanya akhirnya merintis bisnis bersama. Awalnya keduanya dari paint industry,” kata Anthony menjelaskan. 

Saat ini, dari keluarga Setiawan yang bergabung dengan DAP adalah kakak Anthony, Indra Setiawan, yang menjabat sebagai Direktur Internasional dan Pengembangan Bisnis DAP, serta adik Anthony yang menjadi Head of Top of Bedding DAP. Adapun keluarga Wihardja kebanyakan sebagai komisaris. 

Bagi Anthony, DAP bukanlah tempat yang asing karena sejak ia kecil ayahnya sudah memperkenalkan perusahaan ini. “Sejak kecil sudah dibangun interest untuk meneruskan perusahaan keluarga,” ungkap lulusan Teknik Komputer University of Southern California, Los Angeles, Amerika Serikat ini. Saat dirinya kuliah di LA pun, Andreas dan Henry sering datang ke sana, dan mengajak Anthony mengikuti annual principle meeting karena ada mitra prinsipal DAP di Las Vegas yang dekat dengan LA.

Setelah bekerja di AS dan China, akhirnya Anthony bergabung secara penuh dengan DAP sejak 2011. “Awalnya, pemikiran saya perusahaan ini sudah berjalan dengan baik sehingga dengan adanya generasi kedua yang tidak mengerti terlalu dalam nanti malah mengganggu secara operasional. Nanti malah sama orang tua menjadi kurang baik hubungan keluarganya. Jadi, saya pikir lebih baik kami coba jalankan yang lain,” kata mantan Programmer Tokyopop AS (Januari 2007-Agustus 2008) ini. Namun akhirnya, ia mencoba bergabung dan ditempatkan di hospitality sales. Pasalnya, bidang hospitality merupakan bagian penting dalam penjualan DAP saat itu dan sekarang. Hal ini sejalan dengan terus tumbuhnya hotel dan pariwisata.

Dari sinilah Anthony banyak belajar tentang seluk-beluk bisnis DAP. Berbagai posisi pun telah dijalani, mulai dari manajer penjualan dept. store untuk merek Tempur, lalu Head of Tempur (2012-2013) dan Head of King Koil (selevel general manager) pada 2014, hingga posisinya sekarang sebagai presdir.

Bagi Anthony, setiap posisi memberikan pembelajaran berarti. Seperti ketika menangani penjualan Tempur yang merupakan divisi kecil, hanya berkontribusi 2 persen terhadap bisnis DAP. Namun, karena Tempur adalah merekpaling kuat di Eropa, prinsipalsangat aktif datang ke Indonesia untuk review bisnis. “Jadi, karena principle-nya aktif, dia juga menjadi mentor saya yang penting untuk karier saya,” ucap kelahiran Jakarta, 21 Maret 1984 ini.

Kemudian, ketika memimpin King Koil –yang telah jadi pemimpin pasardan nama mereknya sudah kuat-- Anthony sengaja tidak utak-atik kegiatan pemasarannya. Ia justru membenahi organisasi bisnisnya agar bisa lebih efektif dan efisien dalam melakukan pekerjaan. “Yang saya lihat waktu saya pegang King Koil ini baru proses transformasi,” ungkapnya. Jadi, dulu yang namanya DAP itu ingin seperti Astra, ada Daihatsu dan Toyota, dan diatur seperti Astra. Makanya, Tempur dan King Koil berdiri sendiri-sendiri, meeting-nya pun terpisah. Seolah-olah ada kompetisi internal dan diatur harus berkompetisi supaya seperti Daihatsu dan Toyota, dua duanya kuat. 

Waktu di King Koil, saya banyak bentrok dengan GM yang lain. Saya merasa internal competition-nya tidak begitu sehat. Sebagai suatu kultur, saya kurang suka. Saya ingin ada teamwork,” ungkapnya. Ia pun sampaikan kepada orang tuanya bahwa kultur tersebut sangat tidak baik dan merugikan dari segi efisiensi. Kultur kompetisi internal tersebut membuat jumlah karyawan jadi banyak. “Kemudian, kami mau internal consolidation, kami bicara all brand. Jadi, DAP harus bisa menjual semuanya. Kalau hanya satu-satu, menurut saya, tidak efisien. Selama setahun ini saya pelajari, saya rasa tidak benar. Akhirnya, saya atur sales semuanya,” ungkapnya. Anthony pun diangkat sebagai direktur penjualan pada 2015. Tujuannya, mengonsolidasi kultur kerja tim agar solid. 

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)