Christina Suriadjaja, Kembangkan Travelio dengan Disiplin pada KPI

Christina Suriadjaja, founder & chief strategy officer (CSO) Travelio

Sebagai cucu Benjamin Suriadjaja, pendiri PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSI), masa depan Christina Suriadjaja tentulah sudah terjamin. Kalau mau, ia berpeluang besar menduduki posisi strategis di perusahaan besar tersebut.

Namun, wanita yang sekarang berusia 27 tahun ini memilih memenuhi passion-nya, dengan mendirikan perusahaan baru di luar SSI. Ia merasa, membangun komunitas dan membuat orang-orang percaya dengan visinya merupakan hal yang lebih menantang.

Christina mendirikan Travelio, perusahaan startup yang membidangi sewa properti online pada 2015. Keputusan itu justru mendapat dukungan dari sang ayah, Johannes Suriadjaja, Presdir SSI, yang melihat potensi di industri digital. “Orang tua saya juga sangat terbuka dengan pilihan hidup yang saya jalankan, karena tidak mengharuskan untuk meneruskan bisnis keluarga,” kata Christina. “Yang terpenting, bagaimana kami harus memegang teguh nilai-nilai integritas,” katanya lagi.

Lahirnya Travelio dimulai dari pitching bisnisyang dilakukan oleh Hendry Rusli, Co-founderdan kini CEO Travelio, kepada lembaga family fund milik keluarga Suriadjaja. Family fund ini merupakan inisiatif mendiang Benjamin Suriadjaja untuk memberikan pendanaan kepada aktivitas yang bersifat non-profit dan corporate social responsibility (CSR). Namun, family fund ini juga fokus digunakan untuk melakukan investasi langsung (direct investment) pada perusahaan startup lokal. “Ketika itu, ayah saya menunjukkan proposal bisnis mereka untuk dipelajari,” kata Christina. Melihat adanya kesamaan visi-misi, Travelio mendapat modal pendanaan dari SSI serta dana pribadi Christina. Maka, Christina pun tercatat sebagai co-founder perusahaan rintisan ini.

Christina menyelesaikan pendidikan di University of Southern California Marshall School of Business. Ia juga telah meraih gelar master pada bidang real estate dari Cornell University. Perempuan ini sempat mengawali karier sebagai management trainee di InterContinental Hotels Group di Singapura. Namun setelah Travelio berkembang sekitar empat bulan, ia makin tertarik dengan Travelio dan memutuskan keluar dari InterContinental.

Di struktur organisasi Travelio, Christina duduk sebagai chief strategy officer. Ia bertanggung jawab di bidangperancangan strategi bisnis, pengelolaan properti, dan hubungan investor. Mulanya, model bisnis Travelio adalah menyediakan layanan tawar-menawar hotel secara online. Setelah mempertimbangkan prospek bisnis, ia bersama Hendry dan Christie Amanda (sebagai chief operating officer) mengambil langkah pivoting dengan mengubah model bisnis ke penyewaan properti pribadi pada Januari 2017.

Perubahan model bisnis ini ternyata menarik minat kalangan modal ventura dan investor lainnya, yang bersedia mengucurkan pendanaan. Pada pendanaan pra-seri A pertengahan 2016, Travelio memperoleh sekitar US$ 2 juta dari modal ventura asal China, Gobi Partners, serta Anthull Ventures dan Kuok Group. Lalu, pertengahan 2018, dalam putaran pendanaan seri A, mengucur dana US$ 4 juta dari sekumpulan investor yang dipimpin oleh Vynn Capital, dan didukung Insignia Ventures Partners, Fenox Venture Capital, IndoGen Capital, dan Stellar Kapital.

Christina mengatakan, Travelio baru saja menutup pendanaan seri B, meski investor dan nilainya belum diumumkan. “Dengan semakin banyak suntikan dana yang masuk ke Travelio, kepemilikan SSI tidak lagi mayoritas dan sudah tidak menjadi bagian anak usaha,” kata anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Dengan permodalan yang solid, saat ini Travelio telah menjangkau 5.000 unit listing properti dari pihak ketiga dan 1.800 unit apartemen yang dikelola langsung oleh Travelio Property Management. Di samping model listing, layanan Travelio Property Management menyediakan pengelolaan apartemen bagi individu dan pengembang.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)