James Hadisurjo , Suguhkan Inovasi Baru di Bisnis Kacamata

James Hadisurjo, Founder & CEO Bridges Eyewear

Ingin menjadi seorang entrepreneur. Inilah obsesi James Hadisurjo, yang dipendamnya sejak kuliah di Boston College Carroll School of Management, Amerika Serikat. Setelah merampungkan kuliah dan menyabet gelar Bachelor of Science bidang keuangan dan ekonomi pada 2016, hasrat James menjadi pengusaha itu diwujudkan tatkala pada Juli 2016 mendirikan Bridges Eyewear, merek kacamata yang menyasar segmen konsumen berusia 20-30 tahun. Bridges Eyewear merupakan anak usaha Optik Melawai.

James adalah generasi ketiga pemilik Optik Melawai, Budi Purnomo Hadisurjo. Putra Eddyanto Hadisurjo dan Priscilla Bahana ini menimba ilmu kewirausahaan dari kedua orang tuanya itu. “Saya belajar dari Ibu (Priscilla) mengenai operasional bisnis, sedangkan dari Ayah, saya lebih banyak belajar strategi bisnis serta management skills,” ungkap James yang pernah berkarier sebagai Manajer Pemasaran Optik Melawai, Juni 2015-Juli 2016.

Sejatinya, James bisa saja bergabung dengan perusahaan milik kakeknya itu tanpa harus membuat dan merintis perusahaan baru. Namun, hal itu tidak dilakukan. “Saya melihat bahwa membuat bisnis sendiri atau menjadi seorang entrepreneur merupakan salah satu jalan untuk mengekspresikan ide-ide dan membawa sesuatu yang diperlukan dan diinginkan pasar,” kata James, Founder & CEO Bridges Eyewear.

Ide inovasinya berawal dari pengamatannya mengenai keterbatasan pilihan harga kacamata di pasar kacamata nasional. Dibandingkan dengan harga sepatu, pakaian, gawai, dan produk aksesori lainnya, pilihan harga kacamata sangat terbatas. Selain itu, banyak perusahaan di industri kacamata membebankan tarif premium kepada konsumen untuk merek yang berbeda, sehingga harga jual kacamata cukup menguras kocek konsumen. Kondisi ini membuat sebagian konsumen membeli kacamata tiruan atau palsu dari merek terkenal demi mendapatkan kacamata berdesain indah. “Karena itulah, Bridges Eyewear hadir dan berperan menjadi 'jembatan' (bridge) yang menghubungkan masyarakat umum dengan kacamata dan sunglasses berkualitas tinggi namun memiliki harga terjangkau,” katanya.

Inilah kekuatan Bridges Eyewear: menawarkan aneka macam kacamata berdesain indah dan berkualitas internasional yang setara dengan kacamata merek global dengan harga terjangkau. Adanya kemampuan memberikan harga terjangkau lantaran Bridges Eyewear mengontrol langsung seluruh rantai ekosistem bisnis, mulai dari produksi, distribusi, hingga operasional toko ritel yang menjual langsung ke konsumen. “Makanya, kami bisa memberikan harga yang kompetitif pada produk kacamata berkualitas dan tetap membuat profit bagi perusahaan,” James menjelaskan. Bridges Eyewear menawarkan bentuk kacamata trendi yang simpel dan kasual, baik dalam desain vintage maupun modern yang diminati konsumen muda.

Setiap kacamata Bridges Eyewear dikreasikan oleh perancang internal (in-house designer) dan diproduksi langsung oleh eyewear manufacturers terkemuka untuk menghindari tarif premium dari desainer merek ataupun distributor. James menyebutkan, inovasi tersebut diperoleh dari orang tua yang sangat berpengalaman mengeluti bisnis kacamata.

Kedua orang tuanya berperan membimbing bisnisnya ini agar berjalan mulus, dari pertama kali perusahaan berdiri yang hanya memiliki sebuah toko dengan enam karyawan, hingga saat ini berkembang menjadi delapan cabang dengan lebih dari 90 karyawan. Ayah-ibunya dianggap sebagai mentor bisnisnya yang memberikan berbagai sudut pandang, di antaranya strategi meningkatkan penjualan. Terkait strategi penjualan, James membentuk tim internal yang melatih karyawan Bridges Eyewear (training in-house) dalam hal keterampilan berjualan.

Inovasi dan Platform Online.

Rupanya, inovasi tersebut salah satu variabel yang menggenjot laju bisnis perusahaan. Inovasi James tidak berhenti sampai di sini. Perilaku konsumen berbelanja di platform online disikapinya dengan menyediakan kanal penjualan kacamata secara online, di laman Bridgeseyewear.com, yang memiliki fitur yang memudahkan konsumen mengunggah foto ukuran lensa. Kemudian, tim optician akan memproses ukuran foto tersebut untuk pembuatan lensa kacamata baca. Setelah itu, konsumen akan dikirimi kacamata yang sudah jadi ke alamat tujuan dan kacamata siap dipakai. Hal ini untuk memudahkan konsumen bebelanja dan memesan kacamata. Inovasi ini menurut James belum dilakukan oleh optik dan merek eyewear lainnya.

Toko kacamata konvensional selama ini umumnya hanya menonjolkan ketersediaan produk yang diklaim berkualitas. Anggapan bahwa konsumen akan mencari dan mendatangi optik untuk membeli atau memesan kacamata sepertinya masih dipegang teguh oleh para pemain lama di bisnis optik. Padahal, di era digital ini konsumen menuntut layanan yang serba mudah dan nyaman. Seharusnya ini menjadi fokus perusahaan untuk melanggengkan usahanya agar tidak ditinggal pelanggan. Bridges Eyewear hadir untuk menghapus anggapan tersebut dan menyuguhkan kemudahan layanan bagi pelanggan sebagai inovasi pelayanan konsumen yang ciamik.

Inovasi lain yang dilakukannya adalah desain toko kacamata yang tidak tradisional. Optik lainnya menggunakan sistim konter, yakni konsumen harus berbicara dengan wiraniaga di belakang meja untuk melihat atau menjajal produk. Adapun gerai Bridges Eyewear menonjolkan desain open-concept shopping experience, yang memudahkan konsumen langsung menjajal atau membeli produk dari rak (shelving) dinding ataupun meja.

Melalui serangkaian diversifikasi dan inovasi itu, bisnis Bridges Eyewear meraih kinerja penjualan yang positif. “Bisnis kami sudah sehat secara keuangan. Pertumbuhan omset di tahun 2018 mencapai double digit dibandingkan tahun 2017,” ungkap James. Upaya penetrasi pasar dilakukannya dengan membuka gerai di Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Medan, Manado, Yogyakarta, dan Semarang.

James optimistis kehadiran Bridges Eyewear memicu konsumen muda di kelas menengah (profesional muda) untuk melirik produk di tokonya itu. “Optik Melawai sudah memiliki posisi yang kuat di kelas ekonomi atas dan menengah-atas. Dengan Bridges Eyewear, saya berharap grup usaha kami kuat di kelas ekonomi menengah,” ia menegaskan. (*)

Herning Banirestu & Vicky Rachman

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)