Laurence Suhanto, Lebarkan Sayap Bisnis Keramik Asri Pancawarna

Laurence Suhanto, Direktur Operasional Asri Pancawarna

Sejatinya, Laurence Suhanto bercita-cita menjadi pebisnis di bidang kuliner atau perhotelan. Namun, cita-citanya itu belum bisa diwujudkan. Penyebabnya, ia harus membantu mengelola roda bisnis PT Asri Pancawarna, produsen granite porcelain tile dengan merek Indogress dan Decogress. Di tahun 2008, John Suhanto, pendiri dan pemilik sekaligus Presdir Asri Pancawarna, tengah melakukan transisi bisnis dengan menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada anak-anaknya.

Laurence adalah anak sulung dari lima bersaudara. Dan, tongkat estafet kepemimpinan perusahaan yang dimiliki orang tuanya itu akan jatuh ke tangannya. Padahal, sejak awal ia sama sekali tidak berminat mengurusi perusahaan. Di matanya, kiprah perusahaan lebih kepada urusan bahan bangunan, manufacturing, dan distribusi granit tile. Tentu saja, hal ini bertolak belakang dengan ilmu manajemen bisnis yang dipelajari sewaktu kuliah di Seattle University, Amerika Serikat. “Awalnya saya tidak berminat, tapi selalu dibujuk oleh orang tua. Kemudian, saya pulang ke Indonesia tahun 2008 dan langsung ikut membantu usaha yang dirintis oleh Ayah,” ungkap Laurence yang kala itu berusia 34 tahun. Sementara adik-adiknya menekuni bisnis bangunan di segmen ritel.

Tidak ada jabatan khusus untuknya saat kali pertama bergabung dengan Asri Pancawarna. Tugasnya menangani pembelian bahan baku dan suku cadang serta pengecekan harga. John menugaskan Laurence untuk membantu bagian keuangan guna mempelejari lebih rinci mengenai arus kas (cash flow) perusahaan. Ini dilakukan Laurence selama tiga tahun, dan ternyata banyak hal yang diperoleh selama masa pembelajaran tersebut. “Banyak hal di perusahaan yang bisa diperbaiki dan saya coba untuk perbaiki. Ini adalah tantangan,” katanya.

Berbagai pembenahan dilakukan agar biaya produksi dari hulu ke hilir lebih efisien. Ia merancang proses produksi sedemikian rupa agar tidak ada pemborosan biaya yang berefek domino terhadap peningkatan harga jual produk. Semakin efisien biaya produksi, harga keramik Asri Pancawarna lebih kompetitif. Tujuan efisiensi biaya itu, seperti dituturkan Laurence, agar daya saing produk perusahaan semakin meningkat.

Efisiensi juga diterapkan di produksi dengan menekan sekecil-kecilnya kuantitas hasil produksi yang tidak standar. Semua itu dilakukan agar bisnis berjalan efektif. Dulu, perusahaan hanya memiliki tiga lini produksi, dan sekarang lima lini produksi. “Ini karena efisiensi. Hasil dari efisiensi tersebut kami gunakan untuk ekspansi di produksi sehingga kapasitas produksinya bisa meningkat,” Laurence menerangkan. Lantaran keberhasilannya itu, ia diberi kepercayaan menjabat sebagai Direktur Operasional Asri Pancawarna sejak tiga tahun lalu.

Laurence dikenal sebagai figur yang ulet. Rekam jejak keuletannya bisa ditelusuri tatkala ia kuliah di Negeri Abang Sam. “Dulu, saya di Amerika sempat bekerja sebentar di beberapa perusahaan makanan dan minuman, serta sebagai tenaga marketing di perusahaan lainnya,” katanya.

Di Asri Pancawarna, keuletannya tetap dipertahankan. Ia pun kerap menyampaikan ide-ide cemerlang. Kendati demikian, Laurence tidak memandang sebelah mata gagasan orang lain, terlebih kepada orang yang lebih tua. Saat rapat, misalnya, ia acapkali beradu argumentasi dengan kedua pamannya yang lebih dulu bergabung dengan perusahaan. Setiap perbedaaan pendapat itu menghasilkan solusi. Secara pribadi, katanya, sudut pandang anak muda dan orang tua pasti berbeda. Anak muda lebih suka mendobrak dan ingin serba cepat, sehingga orang tua tidak bisa menerimanya. Maka, biasanya dia mengalah lebih dulu, kemudian mengubahnya dengan cara halus dan pelan-pelan. “Tidak bisa langsung frontal karena biasanya mereka langsung menolak. Sehingga, cara saya lebih halus dan memberikan dukungan data untuk meyakinkan pendapat yang saya ajukan,” tuturnya.

Laurence juga merupakan sosok yang kreatif dan inovatif. Produk inovatif Asri Pancawarna antara lain Indogress terbaru seri marmer alam dan keramik dengan teknologi self-cleaning dan antibakteri pertama di Indonesia. Produk baru dengan tema Beyond the Surface ini diklaim memiliki lima keunggulan, yakni antibakteri, melepas ion negatif, memancarkan emisi far infrared, antijamur, dan anti-formaldehida. Produk ini sangat cocok diaplikasikan pada bangunan rumah sakit, sekolah, rumah tinggal, hotel, apartemen, toilet, dan bandara.

Produknya selalu mengikuti tren dan teknologi, misalnya produk glazed polished. Di Indonesia, Asri Pancawarna adalah produsen keramik yang pertama memproduksi glazed polished. Motifnya bercorak alam yang menggunakan teknologi pencetakan digital yang lebih baru lagi sehingga produknya lebih menyerupai marmer.

Selain itu, perusahaan ini juga yang pertama mengangkat keunikan dan keindahan motif batik budaya Jawa dalam produk granite tile Indogress. Mengandalkan teknologi digital dalam pembuatannya, kehadiran motif batik ini diharapkan dapat menjadi salah satu pilihan bagi mereka yang menyukai bangunan bernuansa budaya asli Indonesia. Inovasi tersebut merupakan strategi perusahaan untuk memenangi persaingan.

Perluasan jaringan distribusi tak luput jadi perhatian Laurence untuk mengembangkan kepak bisnis perusahaan keluarganya itu. Produknya sudah ada di seluruh Indonesia, melalui puluhan jaringan agen dan gerai. Keberagaman motif dan ukuran, serta stok barang yang selalu tersedia jadi keunggulannya. “Sebenarnya untuk produk kami lebih ke middle high karena kami produksi ukuran besar, motif-motifnya dengan teknologi terbaru sehingga kami terus mengikuti zaman,” Lucence menerangkan.

Ia mengemban tugas memajukan dan mengembangkan perusahaan keluarga. Garis tangan menuntunnya menjadi ahli waris perusahaan (next generation), dan ia berupaya sekuat tenaga mewujudkan harapan orang tua dengan cara mengelola perusahaan secara profesional. Terlebih, persaingan industri granite tile di Tanah Air tergolong ketat. Ia terus berupaya membawa Asri Pancawarna meraih tangga sukses yang lebih tinggi. Untunglah, orang tuanya sudah membekalinya dengan nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil. “Ayah saya orangnya disiplin dan harus fokus dalam mengerjakan sesuatu. Nilai-nilainya lebih pada kejujuran dan integritas. Apalagi di dunia bisnis, nomor satu itu adalah kepercayaan orang lain yang harus dijaga. Ini yang selalu diingatkan orang tua,” tuturnya lagi.

Bisnis Asri Pancawarna kini semakin melaju mulus. Tiga tahun belakangan kinerja penjualannya memang stagnan karena pasar sedikit menciut. Namun, dengan dirilisnya produk terbaru tahun ini, Laurence optimistis omset perusahaan bisa tumbuh 5-10 persen.

Kapasitas produksinya kini sekitar 25 ribu m2 per hari. Sebanyak 15 persen dari total produksi itu diekspor ke Jepang, Thailand, Korea Selatan, Taiwan, Brunei Darussalam, dan Vietnam. Jepang menjadi negara tujuan ekspor terbesarnya. Lantas, bagaimana dengan cita-citanya dulu menekuni bisnis perhotelan? “Mungkin ke depan saya akan main ke sana (bisnis hotel). Saya ingin bermain di perhotelan. Soalnya, masih relate dengan industri sekarang,” katanya. Saat ini, fokusnya adalah membesarkan bisnis perusahaan keramik ini. Rencananya, Asri Pancawarna bakal menawarkan saham perdana (IPO) dalam lima tahun ke depan. 

Sri Niken Handayani & Vicky Rachman

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)