Nicola Reza Samudra, Kegigihan dan Kerja Keras Jadi Pusaka Warisan Keluarga

Nicola Reza Samudra & Momo Geisha (istri)

Darah bisnis mengalir deras dalam nadi Nicola Reza Samudra. Nicola Reza --yang akrab dipanggil Caca-- terlahir sebagai anak pertama pasangan Flores Samudra-Lies Kusumawati, pendiri CV Unggul Putra Samudra yang membidangi furnitur luar ruang berbahan rotan sintetis dan aluminium. Caca sekaligus cucu pertama Samsuwidayat dan Himawati Samsuwidayat, founding mother Grup Unggul, perusahaan induk yang membawahkan PT Bangun Sarana Wreksa, CV Unggul Putra Samudra, CV Eka Putra Samudra, dan CV Aumireta Anggun.

Sejak kecil, Caca memang sudah bergumul dengan dunia bisnis keluarga. “Dari TK hingga SD hidup saya di pabrik. Setiap hari saya melihat orang tua saya bekerja, eyang saya bekerja. Saya kumpul dengan orang-orang yang kerja,” kata Caca yang selalu menghabiskan waktu sepulang sekolah di pabrik karena orang tuanya masih di pabrik. “Jadi, dari kecil saya sudah melihat bisnis ini, mulai masa pengerjaan, memrosesan, hingga pengepakannya,” lanjut Caca, terkenang masa-masa sebelum meneruskan pendidikan ke Singapura.

Maka, ketika dewasa dan telah menyelesaikan pendidikannya di Raffles Design University Singapura, pria kelahiran Malang, 07 Agustus 1989, ini tidak asing lagi ketika diminta langsung bergabung bekerja di perusahaan keluarga. Untuk bidang produksi, ia dimentori langsung oleh ayahandanya, sedangkan untuk urusan pemasaran, sang ibu yang mengajarinya.

Kebetulan, karena banyak buyer dari luar negeri yang datang, berbekal kemampuan bahasa Inggrisnya, Caca dengan mudah bisa membantu menanganinya. Cukup dua tahun belajar menjalankan bisnis, sebelum kemudian tahun 2017 diserahi tanggung jawab mengelola perusahaan sendiri di bidang yang sama, CV Eka Putra Samudra, masih di bawah induk payung Grup Unggul. “Tanggung jawab ini bagian dari kewajiban saya sebagai penerus bisnis keluarga,” ujarnya pasti.

Suami penyanyi Momo Geisha yang baru saja dianugerahi seorang putri ini menyadari takdir yang diterimanya. Ia tidak mengingkari tetesan darah dan jejak bisnis yang sudah ditorehkan leluhurnya, nenek dan kedua orang tua. Betapa tidak? Jauh sebelum Caca lahir, tahun 1970-1975, kedua eyangnya sudah merintis produk berbahan baku logam. Mula-mula hanya sebagai pedagang, tetapi lambat laun mulai memproduksi sendiri hingga dikenal sebagai perusahaan pengecoran logam ternama untuk produk-produk furnitur luar ruang, seperti lampu antik dan lampu gantung, di kawasan Singosari, Malang.

Sang ayah yang merupakan putra pertama Himawati --biasa disapa Ibu Wiwiek-- tidak tinggal diam. Di usia 18 tahun, ayahnya mulai turut serta membantu usaha sang nenek. Bahkan di tahun 1980-an, saat berusia 23 tahun, ia mengembangkan bisnis dengan menggarap usaha furnitur dalam ruang yang tetap menggunakan bahan dasar besi dan aluminium, seperti kursi, meja, sofa, meja makan, dan hiasan dinding. “Berkat kegigihan dan ketangguhan nenek dan ayah saya, bisnis furnitur Unggul Group semakin dikenal masyarakat dan bahkan mulai diekspor ke Eropa,” Caca menceritakan.

Maka, ketika kepercayaan diberikan kepadanya, Caca tidak menyia-nyiakannya. Apalagi, melihat perjuangan generasi pertama dan kedua membesarkan Grup Unggul, Caca dan kedua adiknya yang mulai ikut terjun bisnis: Royce Sachio Samudra dan Damario Raynaldo Samudra, meyakini bahwa sukses yang didapatkan keluarga bukan datang cuma-cuma. Sukses lahir dari kegigihan, sikap pantang menyerah, ketekunan, dan ketegasan kakek-nenek dan kedua orang tua mereka. “Sehingga, kami mewarisi nilai-nilai luhur bisnis yang luar biasa,” katanya. Ia mengagumi sikap peduli, tidak berhenti belajar, dan tetap rendah hati yang ditunjukkan kedua orang tua serta kakek-neneknya.

Menurut Caca, visi perusahaan yang didirikan kakek-neneknya itu sebenarnya sederhana saja, yakni menjadi pabrik yang independen. Artinya, mereka tidak ingin bergantung pada yang lain. Grup Unggul ingin proses produksi dari A sampai Z dikerjakan di dalam pabrik. Maka, grup ini sengaja mendatangkan mesin dan melengkapi fasilitas dengan mesin-mesin terbaru untuk menunjang produksi. “Hal itu bisa disebut sebagai inovasi kami,” ujar Caca yang mengacu pada tren-tren terbaru dalam berbagai pameran yang berlangsung setiap tahun di Eropa dan Amerika.

Dikatakannya, mesin-mesin baru itu selain dapat meningkatkan kualitas produk, juga akan menjadi pembeda Grup Unggul dengan perusahaan furnitur sejenis. “Kami selalu update dan berani invest dibandingkan dengan pabrik lain, karena kami sudah tahu tren ke depan apa. Itu yang membantu kami agar selalu dipercaya oleh pelanggan,” Caca memaparkan. Dengan pendekatan seperti itu, pihaknya akan selalu berada beberapa langkah di depan. “Ketika kami sudah menggunakan mesin dua tahun berjalan, pabrik lain baru menyadari kebutuhannya,” cerita Caca yang biasa membeli mesin dari Jerman, Amerika Serikat, dan Taiwan.

Kini, 90 persen produksi Grup Unggul (ada empat perusahaan) merupakan produk ekspor, dan sisanya untuk pasar dalam negeri. Dari seluruh produk ekspor, 50 persen untuk Eropa dan 50 persennya lagi untuk pasar AS. Dengan jumlah karyawan yang terdiri dari 15 admin gambar, 300-400 teknisi dan staf, serta 2.300 karyawan pabrik, Caca meyakini grup ini relatif simpel dan efisien. Apalagi, jika dihitung, kapasitas produksi untuk satu perusahaannya saja, CV Eka Putra, sebanyak 40-50 kontainer --sekitar 200 kursi standar per kontainer. Jadi, setiap bulan berhasil diproduksi sekitar 10.000 piece untuk satu unit usaha.

Dalam mengelola CV Eka Putra, Caca memang memiliki kewenangan lebih. Hal itu sesuai dengan harapan orang tuanya, agar ia dan adik-adiknya membangun usaha dan pabrik sendiri sesuai dengan passion dan kreativitas masing-masing. Walaupun tetap berada di koridor furnitur luar ruang, produksi bisa macam-macam dan bisa saling dikombinasikan. “Misalnya, saya membuat rangkanya, adik saya kayunya, adik saya lainnya bagian yang lain lagi,” kata Caca mencontohkan.

Intinya, keluarga menginginkan setiap anak memiliki karya sendiri, seperti halnya ketika sang ayah berhasil mengembangkan bisnis awal kakek-neneknya. Selain itu, setiap anak juga diberi keleluasaan membuat terobosan kreatif sesuai dengan perkembangan zaman. “Saya sekarang banyak merekrut karyawan yang muda-muda, yang mau belajar, dan bisa diajak kerjasama,” kata Caca yang mulai memanfaatkan teknologi. “Dari segi produksi, saya sedang membuatnya lebih sistematis computerized,” tambahnya. Hal itu untuk memudahkan monitoring. “Sekarang on process. Target tahun ini, sistem dan manajemennya bisa lebih rapi, dan bisa diterapkan di semua perusahaan yang ada di Unggul,” demikian tekad Caca.

Pesan keluarga yang selalu diingatnya: dalam menjalankan bisnis sendiri, jangan pernah takut salah. “Jika ingin membuat sesuatu dan ternyata salah, kami harus mencari cara untuk memperbaikinya,” kata Caca. Dan jika ada hal baru, jangan pernah takut belajar. “Semua bisa dipelajari jika kami jalankan. Itu pesan yang selalu dikatakan orang tua dan nenek saya,” ungkap Caca yang setiap Selasa dan Jumat bermain sepak bola dan futsal bersama pegawai pabrik.

Di luar pekerjaan, keluarga juga memberi contoh bagaimana menjalin hubungan baik dengan mitra dan karyawan. “Keluarga kami menganggap karyawan sebagai keluarga sendiri. Kami tidak membeda-bedakan dan tidak ada batasan antara atasan dan karyawan,” ungkap Caca. Sehingga, banyak karyawan yang sudah puluhan tahun bekerja dengannya. Bahkan, kini terlihat si bapak bekerja di CV Unggul Putra dan si anak bekerja di CV Eka Putra.

Menurut Caca, ke depan, pasar furnitur, baik dalam maupun luar negeri, masih sangat menjanjikan dengan target pertumbuhan 20 persen. Untuk itu, Grup Unggul telah mengonsolidasikan diri dengan memperkuat semua pabriknya. CV Unggul Putra Samudra menjadi spesialis furnitur luar ruang berbahan rotan sintetis dan aluminium. CV Eka Putra Samudra memperkuat spesialisasi Unggul Putra dengan sentuhan kuat teknologi. Lalu, PT Bangun Sarana Wreksa bergerak di furnitur luar ruang berbahan kayu jati dan CV Aumireta Anggun, yang dikelola adik Flores, khusus membuat cushion, bantal furnitur, dan kain-kainnya. “Pokoknya, kami ini one stop shopping furniture, kami buat lengkap, packing, dan kirim, customer tinggal buka kardus langsung pakai. Semuanya di Malang dan lokasinya berdekatan,” Caca menjelaskan.

Menurut Caca, upaya pengembangan Grup Unggul belum akan berhenti. Tidak lama lagi, akan dibangun pabrik kelima yang dikelola oleh kedua adiknya. Masih di bidang furnitur, rencananya pabrik baru ini akan mengembangkan spesialisasi material besi yang untuk sementara bahan bakunya masih impor. Namun, pertengahan tahun nanti, Grup Unggul berencana akan memproduksi pipa sendiri. “Jadi, ke depannya, kami tidak beli dari orang lain, tapi kami sudah punya semua fasilitasnya sendiri untuk supply grup kami,” kata Caca optimistis.

Dyah Hasto Palupi/Vina Anggita

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)