Tenny Yanutriana, Memahami Keuangan Mikro Jadi Modal Besarkan BPR

Tenny Yanutriana, Komisaris Utama BPR (bank perkreditan rakyat) BSY (Bank Surya Yudha)

Sejak berusia 11 tahun, Tenny Yanutriana melibatkan diri untuk merasakan denyut bisnis bank perkreditan rakyat (BPR) di Banjarnegara, Jawa Tengah, yang didirikan ayahnya, Satriyo Yudiarto. Tenny yang kala itu berdomisili di Surabaya, Jawa Timur, biasanya menghabiskan libur sekolah atau libur Idul Fitri di kampung halaman ayahnya. “Setiap tahun, ayah selalu mengajak saya pulang kampung ke Banjarnegara dan saya sehari-harinya banyak menghabiskan waktu di BPR Bank Surya Yudha,” kata Tenny mengenang masa kecilnya.

BPR yang disebutkan Tenny itu didirikan ayahnya pada 1992 di Banjarnegara. Satriyo adalah pemegang saham mayoritas PT BPR Surya Yudhakencana (BPR Bank Surya Yudha/BPR BSY). Saat itu, pria kelahiran 6 September 1947 ini menggelontorkan modal disetor sebesar Rp 120 juta untuk mendirikan BPR BSY yang bisnis intinya menyediakan jasa keuangan mikro. Kegiatan operasional bisnis perusahaan ini menggugah minat Tenny untuk merasakan pengalaman langsung berinteraksi dengan nasabah. Salah satu kegiatan favoritnya adalah mendampingi pegawai BPR BSY blusukan ke pasar tradisional untuk memungut setoran tabungan dan angsuran kredit nasabah BPR tersebut.

Ketika keluarganya pindah ke Jakarta, rutinitas itu tetap dilakukan Tenny di sela-sela libur sekolah. Boleh dikatakan, ia sedang magang kerja di perusahaan ayahnya itu. “Sejak kecil, saya sangat tertarik dengan dinamika bisnis BPR,” kata ibu dari empat anak ini. Ketertarikan tersebut berlanjut hingga ia beranjak dewasa dan memandunya untuk kuliah di Jurusan Administrasi Niaga, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Indonesia pada 1999. Ia memilih bidang keuangan dan menggondol gelar S.Sos di tahun 2004. BPR BSY adalah objek penelitian yang ditulis Tenny di skripsinya yang menganalisis rasio keuangannya, kemudian membandingkannya dengan rasio keuangan industri BPR.

Pendek cerita, Tenny perlahan-lahan semakin mengenal karateristik model bisnis BPR. Ia kerap berdiskusi dan berbagi gagasan mengenai bisnis jasa keuangan mikro dengan ayahnya. Perbincangan ini tak mengenal batas ruang dan waktu. Mereka mendiskusikannya di meja makan dan mobil. ”Inilah kelebihan perusahaan keluarga karena kami bisa membicarakan berbagai kemajuan atau permasalahan di luar jam kantor sehingga kami cepat mencari solusinya dan mengambil keputusan tanpa harus menunggu hari kerja berikutnya,” ia menuturkan.

Ayahnya adalah mentor bisnis Tenny. “Beliau senantiasa memberikan beragam ilmu: perbankan, manajemen, kepemimpinan, maupun character building. Ayah saya mempersiapkan saya agar siap untuk menekuni bisnis perbankan dengan mengombinasikan ilmu di bangku kuliah dengan sharing experience yang dimiliki beliau,” Tenny bercerita. Satriyo menggembleng mental Tenny agar menjadi pengusaha yang tahan banting, tidak mudah menyerah, dan bermental baja dalam menekuni bisnis.

Contoh lainnya, Tenny diasah untuk menata hati dan logika. “Ayah selalu berpesan, pemimpin yang baik tidak hanya harus pintar, tapi juga harus cerdas di dalam menata hatinya,” katanya. Pelajaran lainnya adalah memahami standar prosedur operasional, memahami dan melaksanakan regulasi, multitasking, mengasah intuisi, serta kerja keras, ikhlas, dan tuntas.

Sejak 2003, Satriyo mewariskan beragam pengetahuannya itu kepada Tenny. Tahun 2003 juga merupakan tonggak awal Tenny terjun langsung di bisnis BPR. Saat itu, ayahnya telah mendirikan dua BPR, yakni BPR BSY di Banjarnegara dan PT BPR Surya Yudha (BSY) di Wonosobo, Ja-Teng (1997). Kedua BPR itu di bawah naungan Grup Surya Yudha. Sebagai putri mahkota kerajaan bisnis keluarga, Tenny tidak diberi perlakuan khusus agar bisa langsung menempati posisi pucuk.

Awalnya, di tahun 2003 itu Tenny bertugas sebagai Wakil Kepala Divisi Non-Operasional yang membawahkan bagian pembukuan, sekretariat, dan personalia. “Kemudian di tahun 2005, saya mulai menjabat sebagai komisaris di BPR BSY Banjarnegara. Dan, terhitung sejak Maret 2018, saya menjabat sebagai Komisaris Utama BPR BSY, menggantikan posisi ayah saya yang tidak lagi menduduki posisi di manajemen,” ungkap Tenny yang sempat magang (internship) di Unilever sebagai Asisten Manajer Merek Rinso.

Sementara di BSY Wonosobo, ia menduduki posisi sebagai komisaris, 2006-2016. Baru-baru ini, wanita yang hobi traveling ini mendapat tantangan baru setelah ayahnya mengakuisisi saham BPR Bhakti Daya Ekonomi (BPR BDE) di Yogyakarta sebesar 25 persen. Tenny mendapat mandat untuk mengisi pos Komisaris BPR BDE. “Saya pada 11 Februari tahun ini menjalani uji fit and proper test di Otoritas Jasa Keuangan, Yogyakarta, untuk mengisi posisi komisaris di BPR Bhakti Daya Ekonomi Yogyakarta,” ia menjelaskan.

Pages: 1 2 3

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)