Inside Story of Bumame: Dari Deru Pandemi ke Harapan Baru (Part 1: Muncul di Tengah Krisis)
Di tengah pandemi, namanya melesat bak meteor, menjadi penyelamat bagi jutaan orang yang membutuhkan tes cepat dan akurat. Namun ketika badai mereda, bisnis yang dibangun dengan darah dan air mata itu runtuh secepat kilat. Inilah kisah jatuh dan bangkitnya Bumame.
Peluang di Tengah Krisis
Pagi itu, di medio September 2020, menjadi salah satu pagi paling ganjil dalam hidup James Andrew Wihardja. Di usia 31 tahun itu, ia berdiri di ruang bersalin sebuah rumah sakit di Jakarta, mengenakan pakaian steril, bersiap menyambut kelahiran anak pertamanya.
Di telinganya menempel headset — penghubung ke dunia di luar tembok rumah sakit. Suaranya lirih saat berbicara dengan staf lapangan yang belum lama membuka site drive-thru PCR pertama Bumame di kawasan SCBD. Tak jauh darinya, sang istri tengah menghadapi kontraksi hebat.
Isi kepala James memang tak hanya dipenuhi soal persalinan dan detik-detik kelahiran buah hatinya. Selain mengurus drive-thru PCR, bayang-bayang gudang di bilangan Jl. Simatupang yang masih menumpuk ratusan ribu unit alat rapid test antibody turut mengganggunya — produk yang sudah tak lagi dicari di tengah pergeseran protokol pandemi.
“Hari itu, ibaratnya saya melahirkan dua anak sekaligus,” kenangnya. “Anak saya, dan sebuah bisnis.”
Saat sebagian orang memilih mematikan ponsel dan fokus pada momen paling personal dalam hidupnya, James justru menyulap ruang bersalin menjadi semacam war room. Maklum, di luar sana, Bumame tengah "berjudi". Layanan drive-thru PCR yang mereka buka hari itu bisa saja gagal total — dan mereka mempertaruhkan modal serta reputasi pribadi.
Di telinganya, satu panggilan dari SCBD masuk bersamaan dengan suara monitor jantung sang istri. Inilah potret hidup James: antara keluarga dan risiko bisnis, dua hal yang sama-sama tak bisa ditunda. Dan keduanya menuntut kehadiran penuh.
Hidup memang seperti rollercoaster: bergerak cepat di rel berkelok, tanpa peringatan. Beberapa bulan sebelumnya, James tak pernah membayangkan dirinya akan berkecimpung di dunia layanan kesehatan.
Latar belakangnya jauh dari dunia medis. Ia adalah lulusan teknik dari University of Western Australia, yang memulai karier di dunia private wealth management dan trading saham di Samuel Sekuritas. Hidupnya saat itu dipenuhi grafik, yield curve, dan laporan klien high-net-worth, bukan masker, rapid test, atau formulir pasien.
Tapi pandemi Covid-19 mengubah segalanya. Pada Februari 2020, sebelum Indonesia menetapkan status darurat nasional, Timotius Grady Limandra — sahabat lamanya sejak belajar Mandarin bersama di Shanghai pada 2012 — menelpon dengan sebuah ide: menjadi distributor rapid test antibody dari China.
Di media sosial, banyak yang masih meremehkan virus ini. Tapi dari kenalan dokternya, James mendapat informasi bahwa secara logika, virus Corona hampir pasti sudah masuk ke Indonesia karena masih dibukanya akses dari dan ke mancanegara.
Diskusi mereka berlangsung cepat. Seorang rekan bisnis yang mereka kenal baik, Jack Budiman, ikut masuk ke percakapan. James awalnya hanya berniat memesan 100 ribu unit rapid test. Tapi Jack berpikir lebih besar.
“Dia bilang: ‘Kita coba 1 juta unit dulu’,” kenang James.
Tanpa berlama-lama, mereka bertiga menyepakati keputusan berani itu: mengimpor 1 juta unit rapid test antibody dari China. Dalam waktu lima menit, bisnis itu pun resmi dimulai.
“Saya bukan dokter. Saya bahkan baru pertama kali dengar istilah antigen waktu itu,” ujar James jujur. Tapi keputusan sudah dibuat. Dan untuk itu, mereka butuh legalitas.
Pada Maret 2020, dikibarkan: PT Budimanmaju Megah Farmasi — nama yang diambil dari perusahaan milik Jack. “Kami nggak bikin klinik. Jadi waktu itu, mau namanya PT 'DEF' juga, ibaratnya, saya nggak paham,” ujar James sambil tertawa kecil. Baginya, yang penting waktu itu adalah kecepatan. Nama bisa belakangan.
Saat itu, yang praktis-praktis saja yang dipilih. Toh tujuan mereka hanya satu: punya legalitas untuk mengimpor alat kesehatan secepat mungkin di tengah keadaan yang chaos karena Covid.
Semua dibiayai dari kantong pribadi: James, Tius, dan Jack. Tidak ada investor eksternal, tidak ada pitching ke modal ventura. Modal mereka berasal dari tabungan dan hasil usaha sebelumnya.
Maka dimulailah babak baru dalam hidup James: menjual alat rapid test di tengah pandemi global. Ia pun resmi didapuk sebagai CEO Bumame.
Drive-thru
Bumame lahir tanpa desain besar. Sejak awal, pendekatan mereka sederhana: jalan dulu, eksekusi dulu, urusan balik modal dipikirkan nanti. Tak ada rencana jangka panjang, tak ada blueprint korporat, hanya intuisi, keberanian, dan respons cepat terhadap situasi darurat.
Namun, dari keberanian itulah justru lahir inovasi. Sebuah pengalaman pribadi James menjadi pemicu: ketika ia datang ke rumah sakit ternama di Jakarta untuk tes PCR, justru disambut antrean panjang, petugas yang kebingungan, dan prosedur yang jauh dari kata ramah pasien.
“Masak kita nggak bisa do better than that?” pikirnya waktu itu.
Bagi James — yang terbiasa dengan standar efisiensi tinggi di dunia keuangan — pengalaman itu terasa janggal. Rasanya seperti ada celah besar yang dibiarkan terbuka. Dan dari celah itulah muncul ide baru yang belakangan terbilang transformatif: layanan drive-thru.
Inspirasi datang dari tempat tak terduga: McDonald’s. James membawa stopwatch dan mulai menghitung waktu layanan dari antrean masuk hingga makanan diantar ke jendela mobil. Ia sadar, konsep serupa bisa diterapkan dalam layanan kesehatan. Bersama Tius, mereka menyusun flow layanan: satu mobil harus selesai dalam lima menit.
Lokasi pertama mereka berada di lahan kosong milik Jack Budiman di kawasan SCBD. Di sanalah pilot project dimulai.
Pada Mei 2020, Bumame memperkenalkan layanan drive-thru rapid test antibody — sebuah konsep yang saat itu tergolong terobosan. Prosesnya sederhana: masyarakat cukup pesan secara online, datang dengan mobil tanpa turun, dites secara cepat dan minim kontak, lalu hasil dikirimkan dalam waktu singkat.
Layanan ini langsung menyita perhatian publik. Di tengah kekacauan pandemi dan ketidakpastian sistem kesehatan, masyarakat merespons dengan antusias. Nama Bumame pun mulai ramai diperbincangkan.
Namun James tidak berhenti di situ. Ia sadar bahwa rapid test antibody memiliki keterbatasan akurasi. Maka, hanya dalam hitungan minggu, pada pertengahan 2020 (sekitar Juni–Juli), Bumame bergerak cepat mengembangkan layanan drive-thru PCR yang lebih akurat dan sesuai dengan standar diagnostik yang makin ketat.
“Waktu itu kami merasa urban people butuh tes yang lebih akurat, tapi tanpa harus duduk antrean berjam-jam di rumah sakit,” ungkap James.
Keputusan ini menjadi titik penting dalam gerak Bumame. Mereka mulai berpikir melebarkan sayap ke lokasi-lokasi lain, membawa model drive-thru ke berbagai kota, memperluas jaringan layanan, dan memperkuat posisi sebagai pelopor transformasi layanan kesehatan berbasis kenyamanan pelanggan.
Ekspansi
Di tengah pandemi yang kian mengganas sepanjang 2020, Bumame memperluas jangkauannya dengan agresif. Jika awalnya hanya membuka satu titik layanan drive-thru di Jakarta, mereka kemudian menancapkan cabang di berbagai kawasan strategis lain.
Sistem pemesanan dibuat makin digital dan terintegrasi, memungkinkan masyarakat memilih jadwal layanan secara daring dengan lebih tertib. Sistem ini juga memudahkan Bumame menyalin prosedur operasional standar (SOP) ke cabang-cabang baru. Dalam dua hari sejak lahan siap, satu site baru bisa langsung aktif.
Jakarta dan berbagai kota di Indonesia saat itu berada dalam situasi mencekam: sirene ambulans meraung, kabar kematian datang saban hari, rumah sakit penuh, dan hasil PCR menjadi tiket wajib untuk bekerja maupun bepergian. Dalam kondisi seperti ini, Bumame bergerak menembus ketakutan publik. Di beberapa lokasi, antrean kendaraan bahkan meluber hingga ke luar gerbang.
James memastikan throughput tetap terjaga: lima menit per kendaraan. “Hari ini ada peluang tanah kosong? Oke, kita bikin di situ,” ujarnya. Kriterianya sederhana: akses mudah, lalu lintas padat, lahan cukup untuk antrean kendaraan, dan sirkulasi mobil yang efisien. Di masa itu, kecepatan berarti kepercayaan.
Hasilnya mengagumkan. Dalam 15 bulan — dari September 2020 hingga akhir 2021 — Bumame tumbuh bak pelari sprint. Mereka membuka 60 cabang drive-thru di 19 kota di seluruh Indonesia, yang berarti rata-rata empat site per bulan. Pada puncaknya, mereka mampu melayani hingga 45.000 tes per hari.
“Secara kegiatan operasional nggak ada bedanya antara satu site dengan lainnya karena ada sistem,” kata James. Dengan standar yang seragam, cabang di Sumatra hingga Kupang bisa dikelola efisien, lengkap dengan portal pendaftaran, jalur zigzag, dan tenaga medis ber-APD lengkap.
Seperti bintang yang tiba-tiba bersinar terang, nama Bumame mendadak lekat di benak publik urban Indonesia — sebuah merek yang benar-benar lahir dari rahim masa Covid.
Kegelisahan yang Merayap
Namun di balik ekspansi yang tampak mulus, James dan para mitranya menyimpan kegelisahan yang makin terasa. Setiap pagi, James memantau 60 grup WhatsApp cabang satu per satu, mencatat laporan harian: berapa pasien datang, siapa dokter bertugas, keluhan sekecil apa pun. Semua dipantaunya.
Tapi di antara denyut operasional itu, James sadar bahwa semua ini berdiri di atas fondasi rapuh: pandemi tidak akan berlangsung selamanya. Bisnis ini bertumpu pada kondisi luar biasa yang tidak bisa dikendalikan Bumame: kebijakan pemerintah, tren pandemi, dan kebutuhan akan PCR. James tahu, ketika badai mereda, mereka harus menjawab satu pertanyaan besar: apa arah Bumame berikutnya?
Memasuki pertengahan 2022, tanda-tanda kekhawatiran itu mulai nyata. Pemerintah melonggarkan syarat perjalanan dan kegiatan publik. Tes PCR tak lagi menjadi prasyarat mutlak. Perlahan tapi pasti, dashboard operasional Bumame membunyikan alarm, mencatat penurunan volume tes yang drastis. Kamis yang dulu selalu menjadi “peak day” tak lagi ramai.
Beberapa cabang bahkan tak mampu menutup biaya operasionalnya. Salah satunya Kupang — didirikan pada akhir 2020 dengan alasan idealistik karena waktu tunggu hasil PCR bisa 14 hari kerja. “Walaupun kita cuma bantuin 1.000–2.000 orang di Kupang, waktu itu memang dibutuhkan,” kata James. Tapi kini, cabang itu berubah menjadi beban.
Memangkas
Para pengelola Bumame tak ingin menunggu hingga keadaan memaksa. Menjelang akhir 2022, dengan sangat menyesal, satu per satu cabang ditutup. Dari 3.000 karyawan, hanya sekitar 50 orang yang bertahan — sebagian besar tim inti dan back office yang masih setia berdiri di sisi James.
Dari 60 cabang yang dulu tersebar di seluruh Indonesia, hanya dua yang tetap bernapas: satu di daerah Cideng dan satu lagi yang difungsikan sebagai pusat operasional di TB Simatupang. Dua titik itu menjadi sisa-sisa kerajaan yang runtuh, juga pijakan untuk memulai kembali.
Bukan tanpa alasan penutupan cabang dilakukan. Penurunan itu tak datang perlahan, tapi secepat virus yang menyebar. Dalam hitungan minggu, jumlah pasien terjun bebas. Banyak cabang tak lagi menerima pelanggan, stok alat medis menumpuk tanpa guna. Site yang dulu dipenuhi antrean mobil kini berdiri kosong, sunyi seperti tak pernah ada kehidupan. Grup WhatsApp cabang yang dulu tak henti berdenting kini beku tanpa notifikasi.
Namun James tetap hadir ke kantor di Simatupang. “Saya harus ada di sini untuk 50 orang yang masih ada,” ujarnya. Ia bukan hanya menjaga operasional yang tersisa, tapi mulai memikirkan arah baru. “Saya bilang ke tim: kita bukan mundur dua langkah, tapi 90 langkah.”
Langkah mundur itu tidak hanya soal efisiensi, tapi juga potensi menghapus total identitas publik sebagai penyedia tes COVID-19. “Brand yang dulu jadi kekuatan, sekarang jadi beban,” ucapnya lirih. Publik hanya mengenal Bumame sebagai klinik drive-thru PCR — layanan yang tak lagi dibutuhkan.
Bagi banyak founder, fase seperti ini bisa jadi alasan untuk mundur. Tapi James memilih sebaliknya. Dalam sunyi kantor dan sepinya layar dashboard, ia dan mitranya mulai menyiapkan fase baru. Belum ada visi besar, yang ada hanya satu pertanyaan sederhana namun mendesak: dengan infrastruktur, pengalaman, dan sumber daya yang tersisa, apa yang bisa mereka lakukan untuk bertahan hidup?
Saat itu, yang terpikir hanya satu hal: menemukan langkah pertama untuk keluar dari jurang kejatuhan. Tapi, bagaimana caranya? (*)
Berikutnya:
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.