Inside Story of Bumame: Dari Deru Pandemi ke Harapan Baru (Part 2: Membangun Kehidupan Kedua)

Bumame yang dulu berjaya di masa pandemi kini nyaris berhenti total. Di tengah kejatuhan itu, James dan tim harus memutuskan: membiarkan bisnis tenggelam atau menemukan sumur pertumbuhan baru untuk bangkit.

Musim Dingin di Simatupang

Bulan-bulan menjelang memasuki 2023 adalah musim dingin bagi Bumame. Bukan dingin karena cuaca, tapi lantaran bisnis perlahan membeku.

Kantor di TB Simatupang yang sebelumnya riuh oleh perintah cepat dan laporan puluhan cabang, kini diselimuti senyap. Tidak ada lagi antrean mobil di halaman untuk drive-thru PCR, tidak ada lagi pasien yang hilir mudik, tak ada lagi spreadsheet berisi angka volume harian dari 60 cabang. Yang tersisa hanya ruang kosong, kursi tanpa penghuni, dan staf yang masih bertahan.

Di tengah kesunyian itu, James tetap hadir setiap hari. Ia duduk di meja yang sama, membuka dashboard operasional yang kini lebih banyak menampilkan angka-angka kosong.

Di sampingnya, catatan lama tergeletak; jejak masa kejayaan ketika Bumame bisa melayani puluhan ribu pasien dalam sehari. Bagi James, kehadirannya bukan sekadar rutinitas, tetapi bentuk leadership presence yang penting untuk menjaga moral tim di tengah krisis.

Dalam situasi sulit ini, James bersama Tius dan Jack sadar tak bisa terus berdiam diri. Terlalu banyak fixed cost yang membebani, terlalu banyak tanggung jawab kepada tim yang tersisa. Di ruang rapat, pertanyaan terus menggelayuti pikiran mereka: dengan infrastruktur, pengalaman operasional dan kompetensi yang ada, apa yang masih bisa dilakukan?

Mereka juga merasa sayang untuk melepas begitu saja brand Bumame yang telah terbangun kuat di benak publik. Ini adalah ekuitas yang berharga. Persoalannya, ke mana mereka akan melakukan pivot? Bagaimana caranya mengalirkan lagi darah kehidupan?

null
Tempat swab Bumame di TB Simatupang. (Foto: FB Bumame)

Pintu Masuk

Ketika pelayanan skrining Covid kian merosot, mereka pun mencari sumur pertumbuhan baru. Dan pencarian itu akhirnya menemukan satu pintu: layanan skrining kehamilan Non-Invasive Prenatal Test (NIPT).

NIPT adalah tes aman tanpa risiko yang memiliki akurasi lebih dari 99% dalam mendeteksi masalah genetik seperti Down syndrome, Edwards syndrome, Patau syndrome, serta 92 kelainan kromosom lainnya pada janin. Lebih dari itu, NIPT juga bisa mendeteksi jenis kelamin bayi sejak usia kehamilan 10 minggu; sesuatu yang bernilai bagi banyak keluarga muda.

Bagi James dan para partnernya, layanan yang sudah mulai berdenyut selama 10 tahun di Indonesia ini tampak menjanjikan. Apalagi mereka melihat pola demografis baru: pasangan muda semakin sadar akan pentingnya skrining genetik sejak dini. Hanya saja banyak pasangan muda terhambat dua hal: harga yang tinggi dan waktu tunggu yang panjang. Dua faktor ini membuat banyak calon pengguna menunda atau bahkan mengurungkan niat melakukan tes tersebut.

“Di Indonesia, layanan NIPT rata-rata dibanderol Rp12 juta dengan waktu tunggu hingga dua minggu,” tutur James. Ini terjadi karena sebagian besar sampel darah harus dikirim ke luar negeri, seperti Singapura atau Amerika Serikat. Alur yang panjang inilah yang membuat biaya melambung sekaligus proses menjadi tidak efisien.

Inilah celah yang bagi para pengelola Bumame terlihat sebagai market inefficiency yang siap untuk ditutup. Inilah pintu masuk. Mereka melihat peluang strategis: jika tes ini bisa diproses di dalam negeri, harga bisa ditekan hingga setengahnya, sementara hasil bisa keluar jauh lebih cepat. Dalam terminologi marketing, ini adalah value proposition yang jelas dan kuat: aksesibilitas lebih tinggi, harga lebih rendah, dan layanan lebih cepat.

Untuk mewujudkannya, langkah kunci pertama adalah menjalin kemitraan strategis dengan BGI Group. Mereka mengenal raksasa genomik asal Shenzhen, China, itu saat pelaksanaan KTT G20 di Bali pada November 2022. Ketika itu BGI mendapat mandat sebagai penyedia tes PCR bagi para anggota delegasi.

Dengan menggandeng BGI, mereka berharap Bumame memiliki competitive advantage: jalur khusus yang memungkinkan pemrosesan sampel lebih cepat dan biaya yang lebih rendah dibanding pemain lama. Beruntung, saat Bumame mendekati untuk kemitraan strategis, BGI juga sedang mencari mitra lokal untuk memperluas jangkauannya di Indonesia. Maka kesepakatan pun terjalin. Skrining akan dilakukan di Jakarta.

null
BGI Group adalah perusahan gen terkemuka di dunia. (Foto: globaltimes.cn)

Dari Pilot ke Skala Nasional

Pada awal Februari 2023, Bumame bersama anak usaha BGI, yaitu PT Naleya Genomik Indonesia (NGI) meresmikan pembangunan laboratorium genomik di kantor Bumame TB Simatupang. Laboratorium ini tidak hanya akan berfokus pada skrining kehamilan seperti NIPT, tetapi juga mencakup deteksi dini kanker, pengendalian penyakit menular, serta personalisasi pengobatan berbasis risiko genetik.

Maret 2023 menjadi awal fase uji coba. Layanan NIPT dipilotkan melalui entitas lama Bumame yang sebelumnya menangani skrining Covid. Tujuannya: menguji apakah biaya bisa ditekan dan waktu tunggu dipangkas hingga di bawah lima hari.

Hasil awal menggembirakan. Karena sampel tidak lagi harus dikirim ke luar negeri, biaya bisa ditekan hingga 50% dan hasilnya keluar hanya dalam tiga-lima hari. Namun, tantangan masih besar. Volume tes yang rendah membuat skala ekonomi belum tercapai, dan neraca keuangan Bumame berwarna merah.

Percaya pada potensi bisnis ini, James dan tim bernegosiasi dengan BGI untuk mendapatkan dukungan finansial sementara. Mereka berjanji akan menjadikan Bumame penyedia NIPT nomor satu di Indonesia.

Perlahan, keyakinan itu terbayar. Pasar merespons positif, dan target yang semula ditetapkan untuk 12 bulan berhasil dicapai hanya dalam delapan bulan. Setelah layanan Covid meredup, Bumame akhirnya menemukan satu titik ungkit untuk bangkit kembali. Untuk mengalirkan darah kehidupan kedua selepas fase pandemi.

null
Disaksikan Menkes, Budi G. Sadikin, James (kanan) sepakat dengan PT Naleya Genomik Indonesia (NGI) membangun laboratorium genomik di area Bumame TB Simatupang, Jakarta Selatan. (Dok: NGI)

Merajut Pilar Kedua: Layanan B2B dan B2C

Namun, sejak awal, James dan juga tim tahu, NIPT bukanlah segalanya. Ini hanya perahu pertama yang diharapkan bisa membawa mereka keluar dari badai, bukan kapal besar yang akan membawa mereka jauh ke depan.

Dengan bekal kompetensi inti dan pengalaman panjang di dunia laboratorium, sembari menggarap NIPT, mereka pun mulai menggali sumur-sumur pertumbuhan baru lainnya, mencari air segar yang bisa memberi kehidupan jangka panjang.

Pandangan mereka kemudian tertuju pada pasar B2B. Di sana, Bumame melihat peluang untuk menjadi mitra strategis perusahaan melalui layanan corporate medical check-up. Pengalaman masa pandemi, saat mereka mengelola volume pasien yang begitu banyak, menjadi modal utama.

Namun kali ini tantangannya berbeda. Jika dulu drive-thru PCR hanya soal lima menit keluar-masuk mobil, kini rantai nilainya jauh lebih kompleks: edukasi pasien, kepercayaan dokter, validitas hasil uji, hingga sertifikasi laboratorium yang menentukan kredibilitas. Mereka terjun ke sini.

Pasar ini ternyata potensial. Pada Desember 2024, Bumame berhasil mengelola pemeriksaan kesehatan untuk 18.000 orang. Angka itu bukan sekadar pencapaian operasional, melainkan sinyal pemulihan. Seperti tunas hijau yang muncul setelah musim dingin panjang, pertumbuhan ini memberi harapan baru setelah dua tahun sebelumnya hampir semua pelanggan individu lenyap dari radar.

Di sisi lain, James dan para mitranya juga melihat gelombang perubahan di masyarakat urban. Orang-orang tak lagi mau berlama-lama mengantre, mereka ingin layanan hadir di rumah, cepat, mudah, dan tanpa repot. Ini pasar B2C yang juga menarik.

Dari pemahaman ini, lahirlah home service — sebuah inovasi yang memadukan teknologi, logistik, dan sentuhan personal. Dengan tim mobile yang terlatih, layanan seperti medical check-up, vitamin booster, bahkan hingga skrining genetik kanker kini bisa dilakukan di ruang tamu pelanggan, seolah rumah mereka sendiri adalah klinik yang bergerak.

Untuk mengikat semua ini, Bumame berupaya menciptakan pengalaman (experience) yang menyeluruh. Pemesanan lewat WhatsApp, pengambilan sampel yang fleksibel, hasil tes yang tiba hanya dalam tiga hari — semua dirancang untuk menghadirkan perjalanan pelanggan yang mulus dan tanpa hambatan.

Dengan memperluas portofolio ke skrining kanker, tes DNA kesehatan, dan medical check-up lengkap, Bumame membangun model hibrida: layanan di cabang yang berpadu dengan home service. Strategi ini menjadi pembeda di tengah persaingan yang semakin ketat, membuka jalan menuju jaringan layanan kesehatan modern yang fleksibel dan tak berbatas.

null
Layanan home service. Bumame membuat customer bisa memeriksakan kesehatannya di rumah sendiri. (Foto: Bumame)

Menghapus Bayang-bayang Pandemi

James dan para mitranya mulai merasakan keyakinan yang perlahan tumbuh, seperti cahaya redup yang akhirnya menemukan jalan menembus kabut. Mereka percaya bahwa langkah yang diambil selama ini sudah mengarah ke jalur yang benar. Namun, jauh di dalam hati, mereka juga tahu satu kebenaran yang tak bisa diabaikan: transformasi bisnis tidak akan pernah sempurna tanpa transformasi citra.

Di mata publik, Bumame masih hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Nama mereka masih terikat pada drive-thru PCR, pada antrean panjang di masa pandemi yang penuh kecemasan.

Bagi banyak orang, kenangan itu ingin segera dilupakan. Ironisnya, justru itulah yang terus melekat pada brand yang sedang James cs. bangun ulang.

Alhasil, tantangan yang dihadapi kini bukan lagi soal membuka puluhan cabang dalam waktu singkat, seperti dulu saat mereka membangun 60 cabang drive-thru hanya dalam 15 bulan. Kali ini, medan perangnya adalah persepsi. Bagaimana membuat masyarakat percaya bahwa Bumame bukan lagi klinik darurat COVID-19 yang lahir dari situasi genting, melainkan laboratorium modern yang mampu menjadi mitra kesehatan dalam perjalanan panjang kehidupan?

James memahami bahwa mengubah pandangan orang tak cukup dengan iklan yang mencolok atau promosi digital yang riuh. Ia butuh sesuatu yang lebih dalam; sebuah strategic narrative yang tidak hanya terdengar, tetapi juga dirasakan. Narasi yang hadir dalam interaksi sehari-hari, yang membuat orang merasakan perbedaan begitu mereka bersentuhan dengan Bumame.

Rebranding ini tak sekadar mengganti logo atau memperindah ruang layanan. Bagi James cs, yang terpenting adalah merancang ulang cara Bumame hadir di hati publik. Mereka tahu, kepercayaan tidak bisa dibeli. Ia hanya bisa tumbuh lewat hubungan yang tulus.

Karena itu, cara bermain diubah dari fase pandemi. Bumame mulai turun ke tengah komunitas, hadir dalam kehidupan sehari-hari: lewat event olahraga, gathering ibu muda, hingga mini talkshow yang membuka percakapan tentang kesehatan dan hidup sehat.

James pun menargetkan komunitas yang sebelumnya tak pernah mereka sentuh. Dari lapangan padel yang riuh oleh semangat olahraga, hingga ruang-ruang kecil tempat ibu muda milenial berbagi cerita tentang keluarga dan kesehatan. Semua itu dirancang untuk mempertemukan brand Bumame dengan denyut kehidupan masyarakat.

Untuk mewujudkan visi ini, James membangun kembali tim yang pernah terpaksa dipangkas habis-habisan pada masa sulit 2023. Ia mengumpulkan kembali potongan-potongan yang tersisa, lalu menambahkan energi baru.

Belakangan, salah satu langkahnya adalah merekrut Keshia Narindra, seorang profesional yang telah lama berkiprah di dunia digital. Bagi James, Keshia adalah jembatan yang akan menghubungkan Bumame dengan hati masyarakat, lewat strategi komunikasi yang bukan hanya terencana, tetapi juga terasa hidup.

Dalam ikhtiar ini, media sosial benar-benar dimanfaatkan seoptimal mungkin. Kanal-kanal akun media sosial Bumame menampilkan citra yang berbeda dengan masa pandemi. Tampak lebih segar dan terlihat menjadi mitra kesehatan masyarakat lewat aneka layanan laboratorium dan tes kesehatan, serta keterlibatan pada aktivitas komunitas.

null
Bumame aktif ke komunitas padel. Salah satunya mendukung The Pink Aces Club dengan memberikan vitamin energy booster gratis dan hadiah lainnya. (Foto: IG @bumamehealth)

Perlahan-lahan, upaya ini mulai membuahkan hasil. Bumame tak lagi sekadar nama yang terikat pada bayang-bayang pandemi. Ia menjelma menjadi teman perjalanan, hadir di tengah kehidupan banyak orang; bukan hanya ketika sakit datang, tetapi juga saat seseorang ingin menjaga kesehatannya, merawat keluarga, dan menata masa depan yang lebih sehat. Dari ruang tamu pelanggan hingga komunitas urban, Bumame hadir sebagai pendamping, bukan sekadar penyedia layanan kesehatan. Ia tumbuh menjadi lifestyle partner yang menyatu dalam ritme hidup modern.

Ini melengkapi citra yang ingin dibangun pada corporate medical check-up. Di segmen B2B, James ingin Bumame dipersepsikan tidak hanya hadir sebagai penyedia layanan kesehatan, tetapi juga sebagai strategic partner. Mereka mendampingi perusahaan merancang program kesehatan karyawan yang terukur, cepat, efisien dan memberikan rasa aman.

Melalui langkah-langkah ini, James serta tim perlahan menulis ulang cerita Bumame, khususnya dalam aspek corporate image: dari brand yang dulu hanya dikenal lewat antrean drive-thru PCR, menjadi laboratorium modern yang relevan dan adaptif, tertanam dalam ekosistem kesehatan masyarakat urban.

null
Selain komunitas padel, Bumame makin aktif menggarap komunitas lainnya. Salah satunya mendukung acara lari maraton. (Foto: IG @bumamehealth)

Butuh Amunisi

Tahun 2024 memberi Bumame denyut kehidupan kedua. Setelah masa-masa sunyi dan kejatuhan, perusahaan ini kembali merasakan detak pertumbuhan, meski masih pelan dan rapuh. Namun James dan para mitranya tahu, napas itu belum panjang. Jalan yang harus ditempuh ke depan tidak bisa terburu-buru, dan potensi keberlanjutannya pun masih penuh tanda tanya.

Selama ini, seluruh transformasi ditopang oleh tenaga internal. James, bersama para partner, mengandalkan sisa arus kas dari masa PCR serta dana pribadi yang mereka tanamkan kembali ke perusahaan. Setiap rupiah yang dikeluarkan membawa beban emosional, karena itu bukan sekadar angka di neraca, melainkan tabungan, pengorbanan, dan keyakinan yang dipertaruhkan.

Strategi ini menjadi fondasi awal bagi pivot bisnis menuju layanan NIPT, corporate medical check-up, dan home service, sekaligus menopang acara komunitas yang perlahan membangun kembali hubungan dengan publik.

Namun, seiring waktu, mereka mulai merasakan batasnya. Modal internal ternyata seperti sumur yang kian mengering. Sementara di saat yang sama, impian yang mereka bangun justru semakin besar: memperluas layanan home service ke kota-kota besar, membangun laboratorium modern dengan peralatan mutakhir, dan memperkuat edukasi publik tentang pentingnya skrining kesehatan. Semua ini memerlukan "otot finansial" yang jauh lebih kuat daripada sekadar memutar arus kas.

Di momen genting inilah James, Tius, dan Jack mengambil keputusan yang realistis sekaligus penuh pertaruhan: membuka pintu bagi investor yang benar-benar sejalan dengan visi jangka panjang Bumame. Mereka sadar, jika ingin benar-benar bangkit dan berlari kencang, perusahaan ini membutuhkan bahan bakar baru: modal segar yang bisa menghidupi mimpi-mimpi besar yang selama ini hanya mereka bicarakan di ruang rapat.

Pertanyaannya kini menggantung di udara: siapa yang cukup berani untuk bertaruh dan menemani perjalanan ini? Siapa yang akan melihat bukan hanya angka, tetapi juga tekad dan cerita di baliknya? Dan, yang tak kalah penting, apa yang siap ditawarkan Bumame sebagai balasan atas kepercayaan itu? (*)

Berikutnya:

https://swa.co.id/read/464129/inside-story-of-bumame-dari-deru-pandemi-ke-harapan-baru-part-3-menganyam-masa-depan

Sebelumnya:

https://swa.co.id/read/462871/inside-story-of-bumame-dari-deru-pandemi-ke-harapan-baru-part-1-muncul-di-tengah-krisis

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag