Politikus Oesman Sapta Odang Tercatat Sebagai Pemilik Manfaat Akhir (UBO) Citra Putra Realty (CLAY)
Emiten barang konsumen non-primer, PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY), mengungkapkan bahwa pemilik manfaat atau Ultimate Beneficiary Ownership (UBO) perseroan adalah Dr. H. Oesman Sapta Odang. Informasi ini tercantum dalam Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek (LBRE) per 31 Maret 2026.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 11 April 2026, Oesman Sapta Odang (OSO) tercatat sebagai UBO CLAY, meskipun bukan merupakan pemegang saham langsung perseroan.
Sebagai politikus Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), OSO memiliki portofolio bisnis yang tersebar di berbagai sektor, mulai dari perkebunan, keuangan, manufaktur, kesehatan, pertambangan, hingga properti dan transportasi.
Di sektor kesehatan, grup OSO mengoperasikan OSO Hospital Pontianak di kawasan superblok Kota Pontianak. Melalui CLAY, grup ini juga tengah memperluas bisnis rumah sakit dengan rencana pembangunan Rumah Sakit Royal Sukadana.
Baca juga: Rugi di Q2/2025, Citra Putra Realty (CLAY) Tetap Ekspansi Bisnis Rumah Sakit
Di sektor perkebunan dan perikanan, Grup OSO mengelola PT Aria Hijau Alam Lestari, perusahaan kelapa sawit di Mempawah, serta PT Industri Perikanan Sukadana yang memproduksi ikan, udang, dan produk turunannya di kawasan Pelabuhan Perikanan Teluk Batang, Kayong Utara.
Pada sektor keuangan, grup ini memiliki PT OSO Sekuritas Indonesia (kode anggota bursa: AD) yang terdaftar di BEI. Dalam keterbukaan informasi tertanggal 10 Februari 2026, perusahaan tersebut mengumumkan perubahan nama menjadi PT Sukadana Prima Sekuritas. Selain itu, OSO juga memiliki OSO Manajemen Investasi yang bergerak di bidang pengelolaan investasi.
Sementara di sektor manufaktur, Grup OSO memiliki PT Citra Media Grafika yang berada di bawah naungan PT BYOC Utama Grafika Sekuriti, mitra Badan Intelijen Negara (BIN) dalam pencetakan dokumen keamanan.
Dari sisi kepatuhan pasar modal, CLAY telah memenuhi ketentuan free float minimum sebesar 15%, dengan porsi saham publik mencapai 18,6%. Jumlah saham beredar tercatat sebanyak 477.931.734 saham, dari total saham tercatat di bursa sebesar 2.570.000.000 saham.
Namun demikian, jumlah investor ritel yang tercermin dari pemilik Single Investor Identification (SID) mengalami penurunan. Per akhir Maret 2026, jumlah investor CLAY turun menjadi 760 orang dari sebelumnya 779 orang.
Dari sisi kinerja keuangan, CLAY masih menghadapi tekanan. Pada tahun buku yang berakhir 31 Desember 2025, pendapatan perseroan turun 38,41% menjadi Rp142,02 miliar, dari Rp230,63 miliar pada tahun sebelumnya.
Penurunan ini turut menekan laba kotor yang merosot 48,17% menjadi Rp61,96 miliar, dibandingkan Rp119,57 miliar pada 2024. Dampaknya, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga turun 31,08% menjadi Rp4,85 miliar dari Rp7,05 miliar.
Sejalan dengan itu, laba per saham dasar tercatat turun menjadi Rp1,89 per saham pada 2025, dari Rp2,74 per saham pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, berdasarkan data TradingView pada Senin (13/4/2026), saham CLAY di papan pengembangan menguat 0,76% ke level Rp2.640 pada pukul 09.17 WIB. Volume transaksi tercatat sebanyak 20.400 saham dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp6,73 triliun. Pergerakan harga saham masih fluktuatif hingga jeda sesi pertama perdagangan. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.