IHSG Terkoreksi 0,55%, Investor Mencermati Pengumuman MSCI di 18 Juni 2026

IHSG Terkoreksi 0,55%, Investor Mencermati Pengumuman MSCI di 18 Juni 2026
Ilustrasi tiga indeks saham, yaitu LQ45, IDX30, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) atau Composite pada jeda perdagangan sesi pertama di Mainhall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta pada Kamis (4/6/2026). Foto: Nadia K. Putri/SWA

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup koreksi 0,55% dari level 6.254,97 ke level 6.220,74, melansir data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (17/6/2026). Di tengah koreksi tipis tersebut, sejumlah analis menyoroti pengumuman tinjauan klasifikasi pasar oleh MSCI yang dijadwalkan pada tanggal 18 Juni 2026 waktu Uni Eropa.

Sejumlah analis dari PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia , dan PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk menyampaikan pengumuman tinjauan klasifikasi pasar tahunan atau Annual Market Classification & Accessibility Reviews oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) itu akan berdampak terhadap pasar saham Indonesia. Namun, pelaku pasar berpeluang tidak mengalami kekagetan atau syok terhadap pengurangan bobot saham yang dinilai.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia,, Fakhrul Fulvian, mengatakan posisi ekonomi dan kedalaman pasar Indonesia terlalu besar untuk diperlakukan sebagai Pasar Frontier (Frontier Market). Sebelumnya, beredar kabar bahwa posisi klasifikasi Indonesia turun dari Pasar Berkembang (Emerging Market) ke Pasar Frontier.

Fakhrul menjabarkan dua skenario, yaitu skenario terbaik mengenai ketetapan MSCI yang masih memberikan ruang untuk Indonesia dalam mempertahankan status dan bobotnya di Emerging Market, sambil melihat perbaikan yang dilakukan otoritas.

“Jika ini terjadi, pasar saham Indonesia berpeluang mengalami relief rally karena sebagian kekhawatiran investor sudah terlalu besar tercermin di harga,” jelas Fakhrul saat dihubungi SWA.co.id di Jakarta, Rabu (17/6/2026)

Sedangkan skenario terburuk, apabila MSCI memberikan sinyal penurunan aksesibilitas atau bobot terhadap saham Indonesia, ini akan memicu tekanan jangka pendek, khususnya saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi bagian dari portofolio investor global.

Senada, Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada, menyampaikan kinerja fundamental emiten tercatat di BEI pada dasarnya masih mampu memberikan performa baik.

Meskipun demikian, pengurangan bobot saham tetap terjadi, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar di sektor keuangan. Misalnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), hingga PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).

Sektor lainnya, Reza mencermati aksi tekanan jual terjadi pada saham beragam sektor seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, PT Astra International Tbk (ASII), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan lainnya.

Saham-saham yang telah didepak MSCI sebagiannya dimiliki pemegang saham tertentu yang terkonsentrasi tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC), juga terdampak oleh penyesuaian indeks. Misalnya seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Keduanya dilepas dari indeks MSCI Global Standard.

Selebihnya, MSCI mendepak saham-saham Indonesia ini dari indeks MSCI Global Standard. Mereka adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Baca juga: MSCI Kocok Ulang Indeks: AMMN, BREN hingga TPIA Keluar dari Global Standard, Outflow Berpotensi Rp31 Triliun

“Sembari menunggu, pelaku pasar bisa sementara mengalihkan ke saham-saham second liner yang secara kapitalisasi pasar tidak terlalu besar, tetapi memiliki likuiditas yang cukup sehingga bisa mengurangi fluktuasi dari imbas penilaian tersebut,” ungkap Reza.

Tekanan jual terjadi pada penutupan bursa saham Rabu ini. BEI menghimpun data, investor asing tercatat melakukan jual (foreign sell) di seluruh pasar sebesar Rp9,29 triliun. Sedangkan investor domestik melakukan jual (domestic sell) di seluruh pasar sebesar Rp15,37 triliun.

Dari sisi pembelian, investor asing tercatat melakukan beli (foreign buy) di seluruh pasar sebesar Rp11,8 triliun. Sedangkan investor domestik melakukan beli (domestic buy) di seluruh pasar sebesar Rp12,8 triliun. Sementara, RTI Business mencatat bahwa investor asing menjual bersih (foreign net sell) sebesar Rp328,73 miliar.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mencermatialiran dana asing, khususnya aliran dana keluar oleh investor asing tercatat di atas Rp70 triliun. Secara harian, menurut Nafan, investor asing mampu mencatatkan penjualan lebih dari Rp100 miliar.

“Diperlukan konsistensi net buy secara harian agar memastikan arus masuk dana asing benar-benar bisa menunjukkan, investor global sudah mulai merasakan kenyamanan, yang berarti melaksanakan investasi pasar modal di tanah air,” tutup Nafan.

Sebelumnya, MSCI mengumumkan berencana menerbitkan hasil tinjauan Global Market Accessibility 2026 pada 18 Juni 2026, serta hasil tinjauan Annual Market Classification pada 23 Juni 2026.

"Kedua pengumuman tersebut akan tersedia segera setelah pukul 10.30 malam Waktu Musim Panas Eropa Tengah (CEST)," jelas MSCI dari laman resminya pada 21 Mei 2026. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag