Skip to main content

Channels

Beginilah Cara LinkedIn Merekrut Karyawan

  • 22 Des 2022, 20:17 WIB
  • 0
Head of Indonesia Talent and Learning Solutions Linkedin Ronny Supardi mengungkapkan bagaimana cara Linkedin merekrut seorang karyawan. (Ubaidllah/SWA)

Platform untuk memajukan karier, baik bagi profesional, pemilik usaha kecil, mahasiswa, dan pencari kerja Linkedin tengah berencana mengembangkan tim di Indonesia. Saat ini, tepatnya per 15 Desember 2022, Linkedin baru merekrut seorang karyawan untuk pengembangan tersebut. Lalu bagaimana cara LinkedIn merekrut karyawan?

Ronny Supardi selaku Head of Indonesia Talent and Learning Solutions LinkedIn mengatakan bahwa saat ini pihaknya tengah mengembangakn tim di Indonesia. Sehingga dirinya merekrut seorang karyawan untuk melakukan pengembangan. 

Dalam acara Indonesia Best Companies in Creating Leaders from Within Award 2022 yang diselenggarakan Majalah SWA dengan NBO di Jakarta, Kamis (15/12/2022) Ronny mengungkapkan bagaimana caranya LinkedIn merekrut karyawan. Ronny mengaku yang diutamakan dalam merekrut karyawan adalah skil first

Skill first tidak berarti kami melupakan secara proses. Cuma diubah sedikit yang mana kami mulai fokusnya, mencari skill,” ujar Ronny.  Menurutnya, jika mencari karyawan marketing (untuk manufaktur) lalu (berpengalaman) dari industri manufaktur juga, maka ruangnya terbatas dan orangnya hanya itu-itu aja. Terkadang juga orang teknologi informasi (TI) , perbankan, atau apapun industrinya, biasanya orangnya hanya berputar itu-itu saja. 

“Saya pun dulu  begitu. Saya dulu di IBM, teman saya ada yang ke Oracle dan tidak lama balik lagi ke IBM. Orangnya itu-itu saja, muter lagi, muter lagi. Nah sekarang begini, kita harus (mulai) mikir untuk role yang kita perlukan ini apa? Skill yang kita cari apa? Dari sana kita bisa menentukan bahwa kita mau merekrut orang berdasarkan skill,” ucap Ronny menguraikan.  

Selanjutnya Ronny membagikan pengalaman pribadinya saat Linkedin mencari karyawan untuk mengembangkan sebuah tim untuk Indonesia. Pihak Linkedin, tambah Ronny, menanyakan orang yang seperti apa yang ia butuhkan.

“Ron, butuh orangnya yang seperti apa? Saya tidak bilang industri, tapi saya butuh orang yang punya kemampuan tertentu yaitu solution selling (yang dapat menjual solusi), strategic leadership (kepemimpinan yang strategis), dan complex discussion (dapat berdiskusi secara kompleks). Saya langsung menyebutkan skill. Dari sana dia (LinkedIn) akan cari,” ucap Ronny. 

Setelah itu, Ronny mengaku LinkedIn merekrut orang yang berlatar belakang industri makanan. Ronny mengaku tidak mempermasalahkan latar belakang, tetapi yang penting orang yang direkrut punya skill yang ia cari dan punya growth mindset (pola pikir untuk berkembang), mau belajar, dan bisa dibimbing. 

“Dari sana saya sendiri sudah mulai beralih ke skill first (dalam merekrut). Saya tidak lagi mencari orang yang memiliki latar belakang in tech (teknologi) atau di TI. Saya fokus cari skill. Kenapa? Dengan fokus pada skill first, ini bisa bantu kita untuk mencari orang yang tepat. Karena kita cari talent berdasarkan skill,” kata Ronny. 

Menurut Ronny, siapapun bisa bergabung dengan Linkedin selama mempunyai skill atau mau belajar skill baru. Jika perusahaan mulai memperluas pilihan (skill) talent, maka pilihannya menjadi lebih banyak, kesempatan menemukan talent yang tepat lebih banyak. “Ini juga bisa bantu proses rekrutmen kita sendiri,” katanya menegaskan.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id

Terbaru