Mengembangkan Kapabilitas Digital Mastery Karyawan (Bagian-1)

Suka atau tidak suka, tantangan distrupsi digital akan dihadapi dan dirasakan seluruh perusahaan. Lalu, bagaimana membangun digital mastery skills karyawan, agar mampu merespons disrupsi digital itu dengan baik?

Coba Anda ketikkan kata “digitalisation” atau “digitalization” di mesin pencarian Google! Tak kurang dari 8 juta hasil perambahan bisa Anda temukan untuk dua kata itu. Ini membuktikan, fenomena digitalisasi memang sedang jadi perbincangan banyak pihak. Masalahnya buat dunia bisnis, fenomena digitalisasi telah menyebabkan disrupsi --semacam gangguan-- pada bisnis yang ada saat ini. Pengamat pemasaran Yuswohady mengistilahkan era digitalisasi saat ini telah melahirkan “digital vampire” yang bergentayangan mencari mangsa. Mereka siap mengisap darah setiap perusahaan (incumbent) yang memiliki model bisnis konvensional, apalagi yang tak beres.

WhatsApp, Uber dan sejawatnya di dunia transportasi online, kalangan fintech, kalangan online store, Amazon Air (drone delivery service milik Amazon), atau komputer cerdas Watson milik IBM adalah sebagian contoh digital disruptor. Mereka seperti terus mengintai layaknya malaikat pencabut nyawa. Wajar saja bila semua perusahaan incumbent di seluruh dunia menjadi paranoid dengan kehadiran para disruptor yang umumnya mengandalkan teknologi digital itu. Pasalnya, seiring dengan kebiasaan konsumen yang makin go digital, kehadiran mereka cepat populer dan secara masif mendisrupsi industri.

Di Tanah Air, kita menyaksikan bagaimana Go-Jek, Grab dan Uber dalam waktu singkat menggoyahkan dominasi petahana seperti Blue Bird, Express Taxi, ataupun perusahaan-perusahaan angkutan kota. Rhenald Kasali, pakar ilmu manajemen dari Universitas Indonesia, dalam buku terbarunya yang berjudul Disruption: Menghadapi Lawan-lawan Tak Kelihatan dalam Peradaban Uber, bahkan membeberkan secara detail tentang bagaimana “peradaban baru” itu telah mengubah manusia yang tadinya berpikir times series menjadi real-time dan eksponensial. Fenomena baru itu juga telah mengubah pola pikir, dari owning economy menjadi sharing economy. Begitu juga, mengubah kebiasaan on-the-line economy menjadi on-demand economy.

Priyantono Rudito, Direktur Human Capital Management PT Telkomsel Priyantono Rudito, Direktur Human Capital Management PT Telkomsel

Lalu, apa sebaiknya yang dilakukan kalangan perusahaan untuk meresponsnya secara tepat dan strategis? Jawabannya, menurut Priyantono Rudito, Direktur Human Capital Management PT Telkomsel, seyogianya semua perusahaan saat ini harus bisa memiliki dan mengaplikasikan digital mastery (DM) skills. Pasalnya, keterampilan tersebut dibutuhkan agar bisa melaksanakan kegiatan bisnis, manajemen dan kepemimpinan dengan lebih cepat, lebih baik, dan lebih efektif, supaya bisa survive.

Priyantono --yang mendalami konsep DM dan baru saja menulis buku soal ini bersama kolega dekatnya, Mardi F.N. Sinaga-- menjelaskan bahwa DM skills itu hanya bisa didapat bila sebuah perusahaan telah memaksimalkan aspek-aspek digital capability (DC) dan digital leadership capability (DLC)-nya. Karena itu, bila perusahaan ingin masuk dalam kelompok Digital Master, alias menguasai DM skills dengan baik, menurut Priyantono, manajemen perusahaan tidak boleh hanya berbicara tentang teknologi, tetapi yang lebih penting adalah melakukan pembangunan dari sisi manusia untuk menghasilkan barisan talent yang punya pola pikir digital (digital mindset).

Hal ini sejalan dengan framework yang dikembangkan oleh pakar dan peneliti MIT, Westerman dan Bonnet, yang menemukan bahwa ada korelasi nyata antara aspek digital culture dan performa perusahaan. Dalam penelitian mereka, Westerman dan Bonnet menjelaskan ada empat kuadran yang dapat digunakan untuk menggambarkan tingkat/kapabilitas DM dari sebuah entitas. Kuadran tersebut yakni Beginner, Fashionista, Conservative, dan Digital Master. Kuadran terbaik adalah kuadran Digital Master.

Westerman dan Bonnet juga menemukan bahwa rata-rata perusahaan yang mengaplikasikan DC dan DLC dalam kultur kerja mereka akan tumbuh 9% di atas industrinya dalam konteks revenue, dan 25-26% dalam konteks profitabilitas. Sebaliknya, jika DC-nya saja yang kuat, alias hanya berinvestasi cukup besar di bidang digital, yang terjadi adalah sebuah perusahaan yang cenderung menjadi kelompok Fashionista. Mereka ini biasanya berinvestasi jorjoran dalam hal teknologi, tetapi tidak dibarengi dengan peningkatan pada kinerja net profit margin-nya. Adapun kelompok perusahaan yang masuk dalam kuadran Konservatif, bersiaplah untuk digulung perubahan zaman.

Dalam praktiknya, terutama di negara-negara maju, makin banyak perusahaan yang mulai menaruh perhatian besar untuk menciptakan SDM yang memiliki full awareness terhadap kondisi disruptif digital, agar bisa merespons disrupsi itu dengan baik dan tepat.

Kita juga bisa belajar dari Telkomsel. Sebagai pemimpin pasar industri telekomunikasi nasional, Telkomsel cukup menaruh perhatian pada bagaimana pengembangan SDM-nya dapat memenuhi kompetensi digital yang dibutuhkan. Priyantono bahkan menyebut pengembangan SDM ini sebagai strategi masterpiece Telkomsel. “Kami lalu memutuskan melakukan riset di lingkungan internal untuk melihat sejauh mana level digital mastery di Telkomsel,” ujarnya.

Dengan riset tersebut, Telkomsel berusaha menemukan faktor-faktor yang bisa memberikan pengaruh besar terhadap DM skills. Faktor-faktor yang ditemukan dari hasil riset tersebut, yakni digital culture, digital attitude, leadership skills, dan DLC. Menurut Priyantono, Telkomsel berusaha menjaga agar faktor-faktor tersebut bernilai tinggi.

Penjelasan selanjutnya secara teoretis, variabel digital culture terdiri dari subvariabel/dimensi: agility, innovation, creativity, experiential, open mindset, anticipatory, dan networking. Lalu, variabel digital attitude terdiri dari subvariabel: digital knowledge dan digital experience. Adapun leadership skill terdiri dari visionary leadership dan transformational leadership. Sementara itu, variabel DLC terdiri dari subvariabel technology leadership, digital visioning, dan digital execution. Artinya, secara teoretis, dengan mengembangkan variabel dan sub-subvariabel di atas, bisa diharapkan DM skills karyawan akan meningkat.

 

Baca Bagian Kedua (Bagian-2):

Mengembangkan Kapabilitas Digital Mastery Karyawan (Bagian-2)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)