Mengembangkan Kapabilitas Digital Mastery Karyawan (Bagian-2)

Mardi F.N. Sinaga, VP Pengembangan SDM PT Telkomsel, menambahkan bahwa dari hasil riset itu juga ditemukan di lingkungan Telkomsel pun masih ada kesenjangan (gap) antara kondisi yang diharapkan (expected condition) dengan kondisi saat ini (current condition). Faktor-faktor seperti experiential, agility, dan open mindset, nilainya masih belum seperti yang diharapkan. Padahal, kenyataannya, faktor-faktor seperti itu yang dibutuhkan untuk membentuk DM. “Untuk dimensi experiential, agility, dan open mindset ternyata jurangnya masih cukup lebar,” kata Mardi.

Mardi F.N. Sinaga, VP Pengembangan SDM PT Telkomsel Mardi F.N. Sinaga, VP Pengembangan SDM PT Telkomsel

Dalam melakukan riset korporat di kalangan SDM-nya ini, Telkomsel dibantu oleh tim dari Sekolah Bisnis Manajemen-Institut Teknologi Bandung. Menurut Reza Anshari Nasution, peneliti di bidang transformasi digital sekaligus Ketua Kelompok Keahlian Strategi Bisnis Pemasaran SBM-ITB, model yang dikembangkan SBM-ITB dan digunakan oleh Telkomsel untuk mengembangkan DM-nya telah terbukti applicable. “Model tersebut bisa menjelaskan hampir 70% dari kondisi DM suatu perusahaan,” ujar Reza.

Dari hasil mempelajari berbagai sumber dan mengamati perkembangan yang terjadi, Priyantono memperoleh insight bahwa pengembangan kemampuan DM karyawan itu tidak bisa menggunakan cara-cara lama, misalnya hanya mengajari karyawan di kelas-kelas. Menurutnya, harus ada pendekatan yang lebih inovatif, yakni melalui pendekatan experiential, yang akan membuat orang terlibat dan berinteraksi langsung. “Dan, tempat yang paling optimal untuk seseorang bisa menjadi digital master itu sebenarnya ada di Silicon Valley,” ungkapnya.

Dalam mengembangkan SDM agar menguasai DM skills, menurut Priyantono, bisa dilakukan melalui tiga cara, yakni disruptive experiential, coaching, dan unlocking best potential. Berdasarkan riset, bobot pengaruhnya masing-masing berturut-turut 50%, 30%, dan 20%. “Disruptive experiential memang yang bobotnya paling besar,” ujarnya.

Priyantono mencontohkan bagaimana perusahaan besar dunia seperti Orange, GE dan Axel Springer mengirimkan orang-orang mereka, bahkan ada juga yang memindahkan sebagian unit bisnisnya, ke Silicon Valley. Hal itu tak lain agar karyawan merasakan langsung sebuah ekosistem inovasi.

Priyantono menyebutkan, Telkomsel juga telah mengirimkan puluhan talent-nya ke Silicon Valley. Bahkan, operator layanan seluler ini berharap bisa mengirimkan 500 talent terbaiknya ke lembah digital itu. Harapannya, orang-orang tersebut nantinya dapat memimpin proses transformasi DM di perusahaan ini. “Mereka semua dituntut untuk memenuhi sejumlah KPI (Key Performance Indicators),” ujarnya.

Namun, Priyantono menyatakan bukanlah hal murah mengirimkan banyak karyawan ke Silicon Valley. “Saya maunya seluruh karyawan Telkomsel bisa dikirim ke Silicon Valley, tetapi kan tidak mungkin bisa semua,” katanya. Karena itu, manajemen Telkomsel akan membangun Silicon Valley-like environment di Telkomsel. Jadi, ada suasana dan mekanisme kerja di Telkomsel yang akan dirancang sedemikian rupa agar punya karakteristik, tantangan, dan peluang yang mirip dengan suasana kerja di lembah digital yang ada di kawasan California, AS itu.

Langkah yang dilakukan adalah dengan memilih tiga program unggulan yang KPI-nya ditranslasikan sebagaimana layaknya orang berkarya di Silicon Valley. Jadi, kata Priyantono, untuk mereka ini tidak bisa lagi dijalankan pola business as usual, baik itu dari segi cara bekerja, efektivitas, kecepatan, maupun hasilnya. “Misalnya, hanya dengan biaya yang sama hasilnya bisa dobel atau memiliki akselerasi lebih cepat,” ujarnya. Sejauh ini ada sekitar 30 proyek digital yang existing di tiap divisi yang menggunakan pola-pola disruptif. “Proyek-proyek digital mastery ini harus dikerjakan dan dicapai hasilnya tahun ini,” ia menegaskan.

Menurut Claudia Lauw Lie Hoeng, Country Leader Deloitte Indonesia, perusahaan konsultan global yang juga membantu proses transformasi digital Telkomsel, langkah Telkomsel merespons disrupsi digital patut diapresiasi. Ia mengatakan, pada dasarnya tidak ada perusahaan yang luput dari kebutuhan untuk menguasai kemampuan DM. Sejarah telah memperlihatkan, bagaimana perusahaan raksasa dunia seperti Kodak dan Nokia bisa tergilas di era digital. “Fenomena digitalisasi telah menjadi alasan perusahaan untuk mengusung transformasi dan inovasi bisnis,” ujar Claudia.

Namun, Claudia menekankan bahwa kepemimpinan dalam perusahaan akan sangat memengaruhi keberhasilan inovasi digital yang dilakukan. Kepemimpinan dapat dijalankan di semua level, mulai dari kepala atau manajer departemen/divisi, general manager, vice president hingga CEO. “Mindset digital itu merupakan urusan semua karyawan. Semua orang sekarang seharusnya punya dua tugas utama, yaitu mengeksekusi model bisnis saat ini dan menemukan model bisnis terbaru untuk masa depan,” kata Claudia.

Hanya saja, menurutnya, bobot tiap-tiap karyawan bisa berbeda-beda dalam dua hal tersebut. Contohnya, pemimpin unit bisnis memiliki tugas dengan bobot yang lebih besar dalam mengeksekusi model bisnis saat ini dibandingkan menemukan model bisnis terbaru untuk masa depan dibandingkan dengan sang CIO (chief innovation officer). “Intinya, digital mastery is everybody’s business,” ujarnya.

Bagi Andrew Emmanuel B. Tani, pakar kepemimpinan dan manajemen dari AndrewTani & Co., salah satu pilar dalam mengembangkan DM adalah para manager-leader yang mampu menjalankan prinsip “manage by head, lead by heart” untuk membangun winning teams yang lincah. Untuk itu, ia berpendapat, media yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan pesan-pesan terkait DM dengan tepat, menarik, dan kontinyu. “Karena itu, segera arahkan pengayaan konten pelatihan dan pengembangan dengan kaidah-kaidah digital mastery,” katanya memberi saran.

Adapun menurut Reza Anshari Nasution, tantangan tersulit dalam mengembangkan digital leaders adalah mengembangkan digital readiness mereka, membuat komposisi SDM yang tepat, dan memfasilitasi interaksi yang optimal di antara seluruh sumber daya itu. “Perusahaan mana pun harusnya melihat kesiapan digital secara serius dan mulai mempersiapkan diri mereka,” kata Reza.*)

Langkah-langkah Mengembangkan Digital Mastery

1. Kembangkan model DM perusahaan Anda dan temukan pengungkit (levers) yang tepat untuk konteks perusahaan Anda.

2. Hitunglah gap yang ada.

3. Kembangkan strategi pengembangan DM perusahaan Anda berdasarkan pengungkit tersebut.

4. Buatlah semacam lingkungan Silicon Valley perusahaan Anda sendiri.

5. Tugaskan talent Anda untuk merasakan pengalaman langsung mempelajari struktur DM, bekerja sesuasi dengan pendekatan DM, dan menerapkan prinsip epigenic.

6. Buatlah DM enabler dan Centre of Excellence di lingkungan perusahaan.

7. Lakukan evaluasi dan kalibrasi lintas-industri.

Sumber: Slide Presentasi Priyantono Rudito, pada Digital Mastery Conference di Jakarta, 20 April 2017.

Baca Bagian Pertama (Bagian-1):

Mengembangkan Kapabilitas Digital Mastery Karyawan (Bagian-1)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)