Alamsyah Cheung, Investasi Saham untuk Observasi Bisnis Baru

Pria kelahiran Jakarta, 8 Desember 1987, ini baru mengenal pasar saham pada tahun lalu. Pertama kali, ia membuka rekening investasinya di Mirae Asset Sekuritas Indonesia. Motivasinya saat itu ingin tahu berinvestasi saham seperti apa. Itu pun bermula karena kaitannya dengan bisnia yang digeluti. Ia ingin membuat robot trading yang bisa merekomendasi investasi saham, sebuah solusi baru di pasar saham, lalu mencari peluang di pasar saham.

Dia adalah Alamsyah Cheung, salah satu finalis Indonesia Young Future Business Leader 2021 (PLN-SWA). “Sebelum saya membuat robot trading, saya kan harus pelajari, bermain saham itu bagaimana, masuklah saya ke sana,” katanya. Ia pun belajar bahwa analisis saham itu ada beberapa, seperti analisis teknis, analisis fundamental, dan analisis isu. Ia pun mengaku tidak ingin sekadar ikut-ikutan investasi di saham, ingin lebih observasi.

“Waktu itu, saya mengenal salah satu analis saham, yaitu Pak Tasrul Tanar. Beliau Technical Analyst Mirae dan saya ikut grup Telegramnya untuk bisa belajar saham. Saya belajar dari beliau, teori Peak and Through Analysis,” ungkap Alam, demikian panggilan Alamsyah Cheung. Ia belajar kelas Tasrul pada awal 2019 selama delapan jam untuk mendalami teori tersebut.

Baru pada 2020, ia mulai investasi dan membeli saham sesuai dengan rekomendasi “suhunya” itu. Sayang, ia tidak ingat saham pertama yang dibelinya, yang jelas saham bluechip. Nilai awal investasi Rp 51 juta. “Kalau saya investasi Rp 51 juta, karena saya mau observasi, jadi saya baru invest segitu, dalam waktu sebulan untung Rp 5 juta,” katanya.

Waktu itu, Alam berpikir, dengan masuk saham, mencari tambahan uang ternyata gampang. Akhirnya, ia mengaku membeli tanpa menghitung dulu, jadi berdasarkan yang direkomendasikan saja.

“Secara psikologis saya memang ikut-ikutan akhirnya. Saya jadi paham bahwa dalam bermain saham, faktor ikutannya tinggi. Yang saya dapat, psikologis yang saya rasakan, selama saya percaya akan ikut invest di saham itu. Jadi, tidak ada pakem pribadi, apalagi lihat laporan keuangan. Maunya gampang, karena motivasi dasarnya mencari uang dengan cara yang gampang,” ungkapnya.

Alam melihat ini sangat berbahaya, karena kita tidak pernah tahu bagaimana sebenarnya yang merekomendasikan, apakah ini endorse atau pesanan. “Saya sendiri, saya ingin mempelajari, jadi otomatis tingkat kewaspadaan dan kehati-hatian tinggi, tingkat penasaran untuk ilmu itu tinggi,” katanya.

Ia mengaku sempat pula bermain kripto sebelum bermain saham pada 2017. Hanya dua tahun ia bermain kripto. “Saya pernah dalam 21 hari bisa untung Rp 91 juta,” ujarnya. Tapi memang setelah itu, drop, minus, sampai hari ini. “Karena keuntungannya tidak ditarik, karena secara psikologis, saya ingin tambah terus investasi kriptonya. Jadi, kalau dihitung-hitung, rugi. Beda kalau di saham, di-cover sama ARB (auto rejection bawah), tidak akan lost luar biasa,” Ala menjelaskan. Ia pernah membeli saham dari harga Rp 36 ribu turun sampai Rp 1.100. Keuntungannya hanya kenangan, dan kerugian totalnya bisa dibilang Rp 150 juta.

Saat ini Alam mengaku sudah tidak bermain saham dan kripto, karena ia masih harus belajar lagi, karena ia ingin bermain saham lagi ketika ingin menjadikannya profesi. “Saya melihat, bermain saham bukan karena ikut-ikutan, inginnya benar-benar menyiapkan waktu untuk main di sana. Lalu, saat ini saya sedang fokus di bisnis existing saja dulu. Jadi, per 2021 ini saya berhenti main saham,” tutur Alam.

Ia mengaku tidak rugi saat bermain saham, tapi tidak kapok, ingin kembali lagi suatu saat ketika akan menjadikan hobi. Setidaknya, dia akan mulai lagi bermain saham di akhir tahun. “Padahal, saya sempat untung 10% dari total yang saya invest,” katanya tanpa menyebut total nilai yang dia investasikan di saham.

Saat ini, selain mengelola Fox Logger, Alam juga berinvestasi pada restoran di Depok, barbershop, juga memiliki bisnis kos-kosan. Ia menyarankan kepada para milenial yang sedang euforia di saham, janganlah main di saham hanya sekadar coba-coba, harus diseriusi, bahkan disarankan menjadi profesi.

“Sistem jangan trading, tapi harus beli lalu keep, jadi harus ke saham-saham yang bluechip atau secondary saham,” ujar Alam. Lalu, pelajari juga insight-nya, barulah setelah punya ilmunya, main di-trading dan harus menyediakan waktu lebih banyak. “Janganlah bagi pemula main di-trading, mending bisnis saja, karena tidak bisa langsung untung, tapi harus mempelajari market,” tambahnya. (*)

Herning Banirestu dan Dede Suryadi

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)