Buat Apa Mengingat Kematian?

Ilustrasi. Foto: Unsplash.
Ilustrasi. Foto: Unsplash.

Apa yang terlintas di pikiran ketika Anda mendengar kata “kematian”? Pertanyaan ini saya ajukan kepada banyak orang, dan jawaban yang paling sering saya dengar adalah mengerikan, menakutkan, dan menyeramkan. Sebagian orang mengatakan tak ingin membicarakannya, bahkan tak ingin mengingatnya sama sekali. Membicarakan kematian sepertinya menjauhkan kita dari kebahagiaan.

Pertanyaannya, apakah ini fenomena yang wajar? Saya tidak ingin mengatakan demikian. Kata-kata yang lebih tepat adalah bahwa fenomena ini lahir dari pikiran yang belum tercerahkan.

Padahal, kematian pasti akan terjadi pada siapa saja. Bukankah setiap makhkuk yang bernyawa pasti mati? Bahkan, kita bisa mengatakan bahwa mati merupakan satu-satunya hal yang paling pasti di dunia ini. Karena itu, tak ada pilihan lain, kita harus bersiap-siap. Dan, salah satu persiapan kita adalah mengingat dan membicarakan perihal kematian ini.

Rasa takut menghadapi kematian sesungguhnya mengandung beberapa informasi penting. Pertama, rasa takut menunjukkan dengan jelas bahwa Anda belum siap menghadapi kematian. Sama saja dengan orang yang menghadapi ujian padahal belum belajar apa-apa. Orang yang seperti ini pasti akan merasa takut. Ketenangan hanyalah milik orang-orang yang siap. Jadi, berterima kasihlah kepada rasa takut karena ialah menunjukkan dengan terang benderang mengenai ketidaksiapan kita.

Kedua, rasa takut sesungguhnya merupakan perintah bagi kita untuk melakukan sesuatu. Karena, hanya dengan melakukan sesuatu itulah, ketakutan akan menghilang. Maka, rasa takut ini harus segera kita terjemahkan ke dalam bentuk tindakan yang konkret dan terukur. Kita harus belajar mengenai kematian, kita harus mengenali apa itu kematian. Ketika sesuatu telah kita kenali, ketakutan kita terhadap hal itu perlahan-lahan akan berkurang.

Di Korea Selatan, misalnya, kini sudah lazim orang mengikuti simulasi kematian untuk lebih memahami apa yang akan terjadi ketika kita meninggal dunia. Yang menarik, simulasi kematian ini diselenggarakan oleh pemerintah dengan tujuan sebagai terapi agar masyarakat lebih menghargai hidup.

Simulasi kematian itu diselenggarakan sejak tahun 2012 dan telah diikuti lebih dari 25 ribu orang. Di sana peserta berperan sebagai jenazah yang siap dimakamkan. Mereka membuat foto kematiannya sendiri dan memakai baju jenazah yang biasa digunakan saat upacara kematian di Korea. Mereka juga diminta menuliskan surat wasiat sebelum akhirnya tidur di peti mati yang tertutup selama beberapa menit.

Pembelajaran mengenai kematian di Korea Selatan ini sesungguhnya merupakan pengembangan dari apa yang telah lama dilakukan di Jepang. Saya ingat waktu pertama kali saya pergi ke Jepang di awal 1990-an. Waktu itu saya mendapatkan beasiswa dari Japan Airlines untuk kuliah selama dua bulan di Sophia University di kampus Ichigaya, Tokyo. Salah satu hal yang sangat populer waktu itu adalah apa yang disebut dengan Death Education, pendidikan mengenai kematian.

Pendidikan mengenai kematian ini diselenggarakan dalam bentuk seminar dan berbagai diskusi dalam masyarakat. Hal ini untuk menghapus tabu untuk membicarakan kematian, bahkan meminta orang untuk merencanakan penguburan mereka sendiri. Juga menganjurkan orang untuk menyelesaikan unfinished business dan mengevaluasi kualitas hubungan yang mereka miliki dengan orang lain sebelum mereka meninggalkan dunia ini. Death Education ini kemudian juga diajarkan di sekolah-sekolah dasar di Jepang.

Tanpa harus meniru Korea Selatan dan Jepang, sesungguhnya kita pun membutuhkan pendidikan semacam ini. Kematian sesungguhnya adalah sesuatu yang wajar, sebuah konsekuensi logis dari kehidupan kita di dunia yang fana ini, sebuah keniscayaan yang tak akan bisa kita hindari. Kesadaran semacam itu mestinya bisa membuka mata kita untuk mulai berani membicarakan kematian.

Sesungguhnya, bagi pikiran yang telah tercerahkan, kematian senantiasa memiliki makna yang positif. Kematian membuat kita sadar akan adanya batas waktu. Bahwa waktu kita sesungguhnya tidak banyak. Karena itu, kematian akan mengingatkan kita untuk segera melakukan hal-hal penting dan meninggalkan hal-hal yang tidak penting.

Kematian yang bisa terjadi kapan saja juga membuat kita selalu awas dan terjaga dengan menganggap bahwa jangan-jangan apa yang kita lakukan hari ini adalah yang terakhir. Dengan demikian, kita akan selalu melakukan yang terbaik.

Kesadaran akan adanya kematian juga dapat meningkatkan kualitas hubungan kita dengan orang lain. Karena, kalau saat ini merupakan pertemuan terakhir dengan orang-orang terkasih, bukankah kita akan benar-benar masuk ke dalam momen ini dengan sesungguh-sungguhnya?

Dan yang lebih penting lagi, melalui kematian sesungguhnya jiwa kita telah pindah dari kehidupan dunia ke kehidupan yang lebih tinggi dan lebih indah, di mana tidak ada lagi penderitaan. Yang ada hanya kebaikan dan kebahagiaan. Dan, bahwa kebahagiaan dan kenikmatan yang tertinggi sesungguhnya adalah menikmati wajah Tuhan Yang Maha Mencinta.

Arvan Pradiansyah*) Motivator Nasional – Leadership & Happiness

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)